Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Archive for the ‘Oyos Saroso H.N.’ Category

‘Cetar’-nya Syahrini

leave a comment »

Kalau kita sering menonton acara Indonesia Mencari Bakat di sebuah televisi nasional, kita akan sering menyaksikan penyanyi Syahrini mengucapkan kata cetar, membahana, badai,halilintar, dan ulala saat memberikan komentar atas penampilan peserta. Kata-kata itu susah dicari rujukannya di kamus karena konon itu merupakan bahasa sehari-hari Syahrini.

Tanpa disadari, penonton pun terbiasa dengan kata cetar, membahana, dan badai yang secara konotatif maupun denotatif dipakai Syahrini secara salah. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Maret 25, 2013 at 5:13 pm

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Banjir Resolusi

leave a comment »

MENJELANG tutup tahun 2010, banyak kawan di jejaring sosial Facebook dan Twitter yang membuat status dengan kata “resolusi”. Seorang pemilik akun Facebook menulis: “Resolusi 2011: saya akan berusaha semua target tercapai. Amin”. Kawan lain menulis: “Resolusi saya pada 2011 adalah bisa mewujudkan semua saya dan harapan orang tua.”

Berita selebritas di televisi pun juga berhambur kata “revolusi”. Banyak artis yang tiba-tiba fasih mengucapkan kata “resolusi”. Para pemburu berita pun kemudian turut menyebarluaskan kata “resolusi” itu dengan enteng. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Januari 12, 2011 at 4:51 am

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Kisah Akhiran “ir” dan “isasi”

leave a comment »

GARA-GARA Soekarno-Hatta “memproklamasikan” kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, maka akhiran “ir” seolah menjadi salah satu khazanah akhiran dalam bahasa Indonesia. Maka, dalam praktek berbahasa sehari-hari, banyak orang latah dengan sering menyebut kata “koordinir”, “mengakomodir”, “mempolitisir”, dan sebagainya.

Sialnya, pemakaian akhiran “ir” ini sungguh produktif. Mungkin karena masyarakat gemar analogi. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Desember 29, 2010 at 5:51 pm

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Bahasa Media Massa

leave a comment »

“MUNGKIN tidak semua wilayah bisa terkover pemerintah karena anggaran yang terbatas. Pemerintah bisa memberikan data dan perusahaan bisa memberikan CSR-nya di sana,” kata dia.

Kalimat dia atas saya cuplik dari berita Lampung Post berjudul “CSR Harus Bersinergi” (3 Desember 2010, halaman 13). Tak ada yang salah dalam kalimat tersebut. Namun, sebagai pembaca saya terganggu dengan pemakaian kata “terkover” dan “memberikan CSR”. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Desember 8, 2010 at 12:47 am

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Sekali Lagi, ‘Alay’

leave a comment »

Akhir-akhir ini saya sering ditanya oleh banyak kawan tentang maraknya pemakaian bahasa gaul anak muda yang sering disebut sebagai bahasa alay. Pertanyaan bernada cemas biasanya berasal dari kalangan pendidik: apakah lama-lama bahasa gaul ala remaja itu tidak merusak bahasa? Bagaimana nanti nasib bahasa Indonesia jika bahasa alay justru lebih banyak dipakai?

Kecemasan itu wajar jika penutur bahasa Indonesia di perkantoran atau forum-forum resmi sudah menggunakan bahasa alay. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

November 10, 2010 at 12:29 am

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

‘LoL’ atau Tertawa Lepas

leave a comment »

Di sebuah blog, seorang menulis: “Wah, roti buatanmu ini terasa enak sekali….Benar-benar roti rasa Brad Pitt! LoL….” Sementara di jejaring sosial Facebook, seorang pemilik akun menulis: “Memang benar kata orang, sejahat-jahatnya ibu tiri tidak sejahat ibu kota. LoL….”

Kata “LoL” memang bertebaran di dunia maya, terutama di beberapa jejarang sosial seperti Facebook, Twitter, Netlog, Friendster, dan lain-lain. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Juli 21, 2010 at 1:55 am

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Politik Warna, Bahasa Warna

leave a comment »

“Warna hijau dan kuning sebenarnya cocok. Hutan menghijau. Tapi kalau tananam mau berhasil harus menguning,” kata Jusuf Kala, saat menghadiri acara menanam pohon dalam rangka Bulan Menanam Pohon di sebuah bukit kritis Desa Ciuyah, Sajira, Lebak, Provinsi Banten, akhir Desember 2008 lalu. Kalla ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden dan Ketua Umum Partai Golkar.

“Kalau padi mau dipanen itu menguning, akan cocok kalau langit biru. Kalau merah biasanya bahaya. Merah kan kebakaran hutan. Hahaha…” ujar Kalla, diakhiri dengan tawa lepas dan tepuk tangan ribuan undangan. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Maret 31, 2010 at 12:49 am

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with