Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Bahasa dan Perempuan

with 2 comments

Sebuah masyarakat dikonstruksikan oleh budayanya. Dalam hal ini bahasa sebagai faktor penting yang berperan dalam kebudayaan terbentuk oleh budaya darimana masyarakat tersebut berasal. Indonesia dengan berbagai suku dan budaya memang kental dengan budaya patriarki. Masyarakat yang terhegemoni baik dengan tatanan maskulin maupun feminin tentu saja berperan penuh dalam pembentukan bahasa. Luce Irigaray, seorang linguis dan feminis asal Perancis menguraikan bagaimana pengaruh bahasa terhadap subyektivitas, terutama subyektivitas perempuan, sekaligus menegaskan bahasa harus berubah agar subyektivitas perempuan dapat dikenali di ranah budaya. Luce Irigaray secara khusus menyoroti pembedaan gender dalam bahasa Prancis yang memang menandai bahasanya secara spesifik dengan identitas laki-laki dan perempuan. Bagaimana dengan bahasa Indonesia?

Saya tak ingin membuat kening anda berkerut ketika membaca kolom ini. Barangkali saya membawakan isu ini sebagai sebuah obrolan ringan yang mungkin saja kita sebagai pengguna bahasa tak begitu menyadari muatan apakah yang selama ini terlontar dari mulut kita, namun sesungguhnya patut untuk kita renungkan. Anda, sebagai pengguna bahasa Indonesia, pernahkah selama ini mengamati bahasa yang anda gunakan sehari-hari?

Perempuan adalah salah satu identitas diri. Bahasa yang terutama menyangkut dengan identitas dan peran perempuan akan tampak dalam penggunaannya dalam masyarakat dengan tatanan maskulin. Sekadar contoh, lema lacur dalam KBBI memiliki arti 1 malang; celaka; sial; 2 buruk laku. Akan tetapi, alangkah mengejutkan bahwa kata pelacur memiliki makna sebagai perempuan yang melacur; wanita tunasusila; sundal. Di sini terlihat bagaimana lema lacur yang memiliki makna yang sebenarnya netral dan objektif mengalami penyempitan makna menjadi pelacur yang spesifik tertuju pada perempuan. Belum lagi idiom-idiom yang berlaku dalam masyarakat, misalnya saja  sebutan wanita yang dulu dipandang lebih berharkat dan bermartabat dibandingkan dengan sebutan perempuan yang dianggap melecehkan. Padahal, konon katanya kata wanita berarti wani ditata sedangkan perempuan berarti empu yang berarti memiliki dirinya sendiri.

Diskriminasi juga nampak dalam hal profesi, selalu saja dalam berbagai profesi yang selama ini diasumsikan sebagai profesi yang khas milik kaum laki-laki akan selalu disertai dengan akhiran wanita. Misalnya, pilot wanita, astronot wanita, pebalap wanita, petinju wanita, kernet wanita, dan lain-lain. Padahal kita tak pernah mendengar kata penari laki-laki, koki laki-laki, perawat laki-laki, atau apapun itu yang berkaitan dengan profesi khas wanita.

Sungguh saya tak ingin menyampaikan ide yang bisa membuat kontroversi di sini karena dalam beberapa hal, penggunaan istilah yang menyangkut perempuan juga terkait dengan makna yang mulia, misalnya saja ibu pertiwi, ibu kota, ibu jari, dan lain-lain.

Terakhir, kalau boleh, saya ingin menyampaikan sesuatu yang ringan kepada anda pembaca. Dalam dunia perhantuan, kita mengenal berbagai jenis hantu. Akan tetapi, tahukah anda bahwa hantu dinamai berdasarkan jenis kelamin? Ada hantu laki-laki, hantu perempuan, dan hantu dengan jenis kelamin yang kurang jelas, yaitu pocong. Hantu laki-laki sejauh yang bisa saya temukan adalah jin, tuyul, dan genderuwo, sedangkan hantu perempuan memiliki nama yang bermacam-macam misalnya saja kuntilanak, puntianak, wewe gombel, sundel bolong, peri, dan apalah nama-nama hantu lain yang saya sendiri merinding untuk menyebutnya. Dahsyatnya lagi, konon hantu dengan jenis kelamin perempuan ini efeknya lebih menakutkan dilihat dari penampilan dan suaranya dibandingkan dengan hantu laki-laki. Bisa jadi, dalam hal ini mereka lebih beruntung daripada rekan perempuan mereka di dunia manusia.

Written by kbplpengkajian

Juli 21, 2011 pada 12:49 pm

Ditulis dalam Diah Meutia Harum

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Menariik uraiannya.
    Ini masuk dalam wilayah topik bahasa dan gender. Dalam hal ini saya ingin ikut membagi wawasan. lema lacur memang bias gender, artinya tidak merujuk kepada jenis kelamin tertentu. Akan tetapi, setelah mengalami pengimbuhan menjadi kata pelacur, menjadi lebih spesifik merujuk jenis kelamin perempuan. Dahulu mamang seperti itu, tetapi sekarang mulai secara umum dipakai istilah pelacur laki-laki juga kan. Mengapa seperti itu? Itu terjadi karena dulu masyarakat lebih mengenal perempuan sebagai pelaku prostitusi dan perkembangan sosial kemasyarakatan sekarang berbeda. Jaman sekarang ada dan mungkin banyak lelaki yang berprofesi sebagai pelacur. Jadi, munculah istilah pelacur lelaki. Saya kira ini menjelaskan juga mengapa muncul istilah pilot wanita, polisi wanita, dan sebagainya sebagaimana disebutkan di atas.

    Menurut hemat saya, perkembangan istilah untuk bernagai profesi yang dicontohkan di atas justru menunjukkan lahirnya kesetaraan gender di Indonesia. Perempuan Indonesia sekarang lebih banyak berkiprah di berbagai profesi yang sebelumnya hanya dikenal dipunyai para lelaki dan itu terekspresikan dengan istilah-istilah pilot wanita, polisi wanita, petinju wanita, dan sebagainya.

    Berbicara mengenai bahasa dan gender yang masuk dalam bidang kajian sosiolinguistik, lebih kepada bagaimna perbedaan ciri-ciri kebahasaan yang diproduksi lelaki dan perempuan. Bagaimana ciri-ciri kebahasaan seorang lelaki dan perempuan ketika mengekspresikan kemarahan, misalnya, dapat dijadikan sebagai objek kajian bidang ini. Tentu kedua manusia berbeda itu diduga menggunakan kata-kata yang tidak sama ketika sedang marah-marah. Itu hanya salah satu contoh apa yang dibicarakan dalam bidang kajian bahasa dan gender. Perihal sebutan-sebutan seperti di atas yang terkesan mengotak-ngotakkan lelaki dan permpuan menjadi objek lainnya.Tentu masih banyak fenomena-fenomena kebahasaan yang bisa dijadikan bahan penelitian bidang ini. Lebih jelasnya baca buku-buku yang membicarakan bahasa dan gender.

    Oiya, cara saya mengurutkan kata lelaki sebelum kata perempuan dalam kelompok kata lelaki dan perempuan pun menunjukkan sudut pandang patriaki karena saya lelaki yang hidup di budaya patrilineal.🙂
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    Mochammad

    Juli 21, 2011 at 1:23 pm

  2. Yah kemana aja kok hilang dari fb…

    rachmad

    Desember 30, 2011 at 2:34 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: