Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Politik Warna, Bahasa Warna

leave a comment »

“Warna hijau dan kuning sebenarnya cocok. Hutan menghijau. Tapi kalau tananam mau berhasil harus menguning,” kata Jusuf Kala, saat menghadiri acara menanam pohon dalam rangka Bulan Menanam Pohon di sebuah bukit kritis Desa Ciuyah, Sajira, Lebak, Provinsi Banten, akhir Desember 2008 lalu. Kalla ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden dan Ketua Umum Partai Golkar.

“Kalau padi mau dipanen itu menguning, akan cocok kalau langit biru. Kalau merah biasanya bahaya. Merah kan kebakaran hutan. Hahaha…” ujar Kalla, diakhiri dengan tawa lepas dan tepuk tangan ribuan undangan.

Jusuf Kalla sebenarnya tidak sekadar berkelakar. Pada saat itu sebenarnya ia juga sedang memainkan “politik warna”. Warna, dalam konteks kelakar ala Kalla di atas, juga memiliki muatan politis. Kuning identik dengan Partai Golkar, merah diidentikkan dengan PDI Perjuangan, hijau dianggap menggambarkan partai-partai bernapaskan Islam, sementara biru lekat dengan gambaran partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono.

“Politik warna” di Indonesia bisa dirunut, setidaknya, sejak peristiwa Gerakan 30 September 1965/PKI. Ketika Orde Lama tumbang dan digantikan Orde Baru, warna seolah menjadi tidak netral lagi. Bendera Republik Indonesia memang masih berwarna merah dan putih yang berarti berani dan suci. Namun, warna merah kemudian mengalami distorsi begitu rupa sepanjang rezim Orde Baru berkuasa. Warna merah pun seolah menjadi warna yang harus dijauhi, terutama jika bersinggungan dengan soal politik atau gerakan massa.

Ya, entah kebetulan atau tidak tragedi perebutan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI), parpol dengan dominan warna merah di Jalan Pangeran Diponegoro Jakarta pada 27 Juli 1996 dilakukan dengan berdarah. Darah yang berwarna merah. Darah yang sama warnanya dengan darah para jenderal korban G-30-S/PKI seperti yang kita tonton dalam film garapan maestro film Arifin C. Noer.

Selama ini kita mengenal tiga warna dasar: merah, kuning, biru, dan putih. Dalam seni rupa, putih mungkin tidak masuk warna. Namun, khusus untuk membicarakan “politik warna”, bolehlah putih kita masukkan. Di antara warna itu, putih adalah warna yang tetap beruntung, ia netral sepanjang masa. Putih maknanya bersih atau suci. Titik. Tidak ada yang membantahnya sampai sekarang. Kain kafan untuk membungkus mayat berwarna putih, jubah Pangeran Diponegoro berwarna putih, tembok rumah sakit juga banyak dicat warna putih.

Sebenarnya sah-sah saja “politik warna” berkembang dan dikembangkan oleh para politisi. Yang berbahaya adalah jika “politik warna” itu kemudian memengaruhi sendi-sendiri asasi kehidupan manusia. Misalnya, memaksakan agar warna tertentu yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari warga negara. Selain melanggar hak asasi manusia, pemaksaan serupa itu lambat laun akan memberikan pembelajaran yang kurang baik, terutama bagi anak-anak karena warna maknanya menjadi tidak netral.

Dalam sejarah politik di Indonesia, politik warna pernah menjadi serupa teror bagi masyarakat. Itu terjadi pada 1995-—1997 lalu ketika Gubernur Jawa Tengah Soewardi melakukan kuningisasi di wilayahnya. Menjelang Pemilu 1997 seluruh penduduk di Jawa Tengah yang rumahnya di tepi jalan raya harus mengecat pagarnya dengan warna kuning. Pot pot bunga, fasilitas umum, markah jalan, warung, becak, pagar makam, dan apa saja yang berada di tepi jalan raya dicat kuning. Bahkan, patung Pangeran Diponegoro yang berjubah putih pun dicat dengan warna kuning!

Soewardi,yang memang pendukung Golkar, beralasan warna kuning merupakan warna khas Jawa Tengah yang diumpakan sebagai burung kepodang. Semua itu terjadi karena Gubernur Soewardi adalah pendukung Golkar.

Kita paham bahwa warna juga bisa berarti lambang atau bahasa simbolik. Kuning emas, misalnya, biasanya sangat erat dengan kerajaan sebab hal itu menandakan kejayaan. Beberapa upacara adat di Indonesia warna kuning emas juga acap mendominasi. Warna lain, seperti hijau, merah, biru, pink, oranye, ungu, putih, abu-abu, dan cokelat juga memiliki makna tertentu. Sepanjang makna itu komunikatif dan tidak ada unsur pemaksaaan, maka biarkanlah berkembang. Sebab, warna wujud ekspresi bahasa juga.

Bagi remaja atau anak gaul, merah bisa berarti sensualitas dan kehangatan; biru berarti setia dan jujur; sementara warna pink berarti kelembutan. Bagi masyarakat umum, hitam berarti lambang duka. Makanya, saat ada orang meninggal, para pelayat banyak yang memakai baju atau kerudung warna hitam. Boleh-boleh saja tafsir warna semacam itu berkembang karena melambangkan kreativitas. Yang dihindari adalah jika tafsir bahasa warna direcoki urusan politik dan dipaksakan pemakaiannya.

Written by kbplpengkajian

Maret 31, 2010 pada 12:49 am

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: