Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Archive for the ‘Yuliadi M.R.’ Category

Kotak Hitam

leave a comment »

Rabu, 21 November 2012

Kata “kotak hitam” menjadi salah satu benda penting dalam peristiwa jatuh pesawat Sukhoi Jet 100. Karena di dalamnya terdapat banyak informasi yang dapat digunakan untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Kata  istilah kotak hitam, dari bahasa Inggris black box, merupakan kata serapan berupa pemadanan dengan penerjemahan. Kendati kata itu telah dipadankan dengan penerjemahan, black box  dan kotak hitam acap digunakan (bersamaan). Pertanyaannya perlukah istilah asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Topik ini akan dibahas dalam tulisan ini.

Bila dijelajahi dunia maya, kita acap dijumpai istilah, seperti  standby ‘siaga’, view ‘tilik’, review   ‘pratilik’,  search ‘telusur’, formula ‘rumus’, server ’peladen’  byte link ‘taut’, hard disk ’cakram keras’. Kemunculan istilah itu tentu berlatar belakang? Karena tidak ada satu pun bahasa memiliki kosakata yang lengkap dan tidak memerlukan ungkapan gagasan, temuan, atau rekacipta yang baru. Untuk itu, diperlukan serapan dari bahasa asing. Serapan itu dapat dilakukan dengan pemadanan. Pemadanan itu dapat dilakukan dengan penerjemahan, penyerapan, dan gabungan penerjemahan dan penyerapan.

Sebaliknya, apakah yang terjadi jika suatu bahasa tidak membuka diri (tidak melakukan pemadanan istilah asing? Dapat dipastikan, bahasa tertentu itu akan punah. Inilah salah satu alasan mengapa bahasa Indonesia perlu melakukan pemadanan istilah asing. Penerjemahan istilah asing dilakukan salah satu tujuaannya: pertama, untuk meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia dan kedua, memperkaya kosakata bahasa Indonesia dengan bermakna sama (dengan bahasa lain).

Proses penerjemahan istilah asing secara langsung dapat dilakukan dengan memilih, di antaranya sesuai konsep dan makna, singkat dan berujuk sama, bernilai rasa, eufonik, dan seturut kaidah. Pemadanan istilah asing dengan penerjemahan dapat dilakukan dengan: penerjemahan secara langsung; dan penerjemahan secara perekaan. Penerjemahan istilah asing secara langsung harus memperhatikan, yaitu penerjemahan sesuai bentuk dan makna, seperti customer servis ‘pelayanan pelanggan’, bonded zone ‘kawasan berikat’, stable ‘tidak goyang’, atau analysis ‘olah data’; sedangkan penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna, tetapi bentuknya tidak sepadan. Misalnya supermarket ‘pasar swalayan’, merger ‘gabungan usaha’, praclosing ‘pratutup’, basement ‘ruang bawah tanah’   (rubanah).

Akan tetapi perlu jadi perhatian bahwa penerjemahan makna isinya, bukan bukan penerjemahan bentuk asing semata-mata. Diikhtiarkan ada kesamaan dan kepadanan konsep, tidak hanya kemiripan bentuk luarnya atau makna harfiahnya. Pertama, penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata, seperti coffe morning ‘kopi temu pagi/ kopi pagi’, copyright ‘hak terbit’; sedangkan Istilah asing bentuk positif diterjemahkan ke dalam positif, begitu pula dengan bentuk asing negatif diterjemahkan bentuk negative, seperti abiotik ‘tidak hidup’  inartikulat ‘tidak berbuku’/ ‘tidak bersendi’, amarah ‘tidak marah’. Kedua, penerjemahan dengan perekaan, seperti factoring ‘anjak piutang’, catering ‘jasa boga’, invertion ‘rekacipta’.

Istilah asing melalui penerjemahan diperlukan, seperti istilah black box ‘kotak hitam’ di atas, untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan untuk meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia dalam berbagai bidang terutama bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

*Kantor Bahasa Provinsi Lampung

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:12 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Haji

leave a comment »

Rabu, 24 Oktober 2012

Ada apa dengan kata haji? Dalam kehidupan berbahasa, terutama dalam masyarakat Lampung, terdapat pemakaian yang beragam. Keberagaman itu terlihat dalam pemakaian bahasa tulis. Sekadar contoh penyingkatan kata haji, penulisan gelar sosial untuk orang yang telah beribadah haji, ditulis Hi. dan H. Apakah penulisan singkatan itu salah?

Dalam KBBI edisi IV (2008: 474), kata haji berarti pertama, rukun Islam kelima yang harus dilakukan oleh orang Islam yang mampu dengan berziarah ke Kakbah pada bulan Zulhijah dan mengerjakan amalan haji, sepert ihram, tawaf, sai, dan wukuf di Padang Arafah; kedua, sebutan untuk orang yang sudah melakukan ziarah ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Persoalan yang muncul adalah bagaimana penulisan benar? Apakah ditulis Hi. dan H.? Bahasa Indonesia adalah bahasa yang bernorma dan bertatabahasa. Artinya bahasa Indonesia hidup tidak dapat dilepaskan dari norma masyarakat (kultur) pemakainya juga diatur dalam tatabahasa yang jelas. Itulah sebabnya salah satu penentuan benar atau salah pemakaian bahasa dapat ditentukan dari norma yang berkembang dalam masyarakat pemakainya dan aturan yang dibakukan dalam pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Dalam EYD penyingkatan kata diatur, pertama, singkatan yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih, seperti nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Contoh Kolonel disingkat Kol., Saudara disingkat Sdr., Sarjana Ekonomi disingkat S.E.

Untuk persoalan singkatan kata haji, sebutan bagi orang Islam yang telah menunaikan ibadah haji, tidak dapat dilepaskan dari norma masyarakat (kultur) pemakainya. Dalam masyarakat Lampung berkembang penyingkatan kata haji dengan Hi. dan ada juga dijumpai penyingkatan dengan H.  Manakah penulisan singkatan yang salah dan benar.?

Untuk menjawab persoalan ini kita harus lihat ranah pemakaiannya. Bila penyingkatan dapat dipakai dalam ranah pemakai (kultur) masyarakat Lampung, yang sifatnya lokal atau kedaerahan, tentu penyingkatan haji menjadi Hi. tidak dapat disalahkan. Lain halnya bila itu dipakai dalam ranah umum (kultur nasional), penyingkatan kata haji harus ditulis /H./

Akan tetapi, ada pilihan yang dapat dipakai bila kita takut terjebak dalam penyingkatan salah atau benar di atas, yaitu dengan penulis utuh, seperti Haji Abdullah, Haji Muhammad Idris, Haji Ilham Alam.

Bahasa adalah alat untuk memudahkan kita dalam bermasyarakat. Untuk itulah, kebenaran berbahasa itu tentu tidak dapat dilepaskan dari masyarakat pemakainya. Barang kali yang perlu diperhatikan adalah kultur dan ranah dalam berbahasanya.

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:06 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Geh

leave a comment »

Rabu, 14 November 2012

Tak berkesudahan bila kita berbalah tentang bahasa. Sepanjang manusia ada, bahasa pun tetap ada. Sepanjang itu pula akan muncul kreativitas dalam berbahasa, baik itu sebagai bentuk penegas atau pemanis ujaran. Tenggoklah, fenomena bahasa yang berkembang di berbagai daerah. Di Lampung, misalnya, bermunculan kata /geh/: “Jangan gitu, geh!”,  /es/: “Mau kemana, es?” atau , /tah/:Iya, tah! Kita semua boleh ikut!”

Begitu pula dengan kata yang berkembang di Ibukota Jakarta, seperti kata /dong/, /sih/; lalu kita pun kenal /toh/: “Iyo, toh!”, yang acap kita jumpai dalam bahasa (lisan) Jawa. Kehadiran kata-kata itu secara gramatikal berfungsi mempertegas dan memperkuat ujaran dan secara leksikal tidak bermakna. Dalam linguistik, kata-kata tersebut termasuk dalam kategori fatis. Pertanyaan yang muncul, apakah gejala itu akan merusak bahasa?

Suatu bahasa dapat dikatakan rusak apabila terjadi sikap negatif pemakai bahasa, seperti pencampuradukan pemakaian bahasa yang serampangan dan terlalu bangga berbahasa yang “keinggris-inggrisan”.

Kaitan dengan gejala bahasa di atas, kehadiran kata-kata itu tidak dapat dikatakan akan merusak bahasa. Kata-kata yang muncul dalam bahasa daerah di atas itu justru dapat dijadikan salah satu bahan pemerkaya bahasa (Indonesia). Perkembangan bahasa Indonesia tidak bisa lepas dari bahasa daerah.

Bahasa Indonesia itu dapat diibaratkan sebuah taman. Taman yang ditumbuhi berbagai bunga. Bunga-bunga itu adalah bahasa-bahasa daerah. Keindahan taman itu dikarenakan keberagaman bahasa-bahasa daerah itu. Lalu, kata /geh/, /es/, /tah/, dan /dong/ serta /tah/  itu seperti rumput-rumput yang memberi warna tersendiri pada taman bahasa tersebut.

Dalam bahasa Indonesia dikenal partikel. Partikel adalah kata yang biasanya mengandung makna gramatikal tetapi tidak mengandung makna leksikal, temasuk di dalamnya kata sandang, kata depan, konjungsi, dan kata seru. Sekadar  contoh kata /lah/ dan /tah/: “Bacalah koran hari ini, ada berita menarik!”, “Apatah gunanya bersedih hati?”

Kaitan dengan kata /geh/, /es/, /tah/, dan /dong/ serta /toh/ itu, biarkan saja dia berkembang sebagai mana adanya. Kehadirannya, ada dan hilang, akan ditentukan oleh perjalanan waktu. Selain itu, perlu diperhatikan adalah tidak terjadinya tumpang tindih pemakaian bahasa. Ada ranah keluarga, untuk bahasa ibu (daerah); ranah nasional, untuk bahasa Indonesia; dan ranah internasional, untuk bahasa Inggris. Begitu, barang kali, Anda setuju!

 

Written by kbplpengkajian

Juni 21, 2013 at 4:32 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Kotak Hitam

leave a comment »

Kata “kotak hitam” menjadi salah satu benda penting dalam peristiwa jatuh pesawat Sukhoi Jet 100. Karena di dalamnya terdapat banyak informasi yang dapat digunakan untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Kata  istilah kotak hitam, dari bahasa Inggris black box, merupakan kata serapan berupa pemadanan dengan penerjemahan. Kendati kata itu telah dipadankan dengan penerjemahan, black box  dan kotak hitam acap digunakan (bersamaan). Pertanyaannya perlukah istilah asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Topik ini akan dibahas dalam tulisan ini.

Bila dijelajahi dunia maya, kita acap dijumpai istilah, seperti  standby ‘siaga’, view ‘tilik’, review   ‘pratilik’,  search ‘telusur’, formula ‘rumus’, server ’peladen’  byte link ‘taut’, hard disk ’cakram keras’. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Maret 26, 2013 at 8:46 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Haji

leave a comment »

Ada apa dengan kata haji? Dalam kehidupan berbahasa, terutama dalam masyarakat Lampung, terdapat pemakaian yang beragam. Keberagaman itu terlihat dalam pemakaian bahasa tulis. Sekadar contoh penyingkatan kata haji, penulisan gelar sosial untuk orang yang telah beribadah haji, ditulis Hi. dan H. Apakah penulisan singkatan itu salah?

Dalam KBBI edisi IV (2008: 474), kata haji berarti pertama, rukun Islam kelima yang harus dilakukan oleh orang Islam yang mampu dengan berziarah ke Kakbah pada bulan Zulhijah dan mengerjakan amalan haji, sepert ihram, tawaf, sai, dan wukuf di Padang Arafah; kedua, sebutan untuk orang yang sudah melakukan ziarah ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Maret 26, 2013 at 8:23 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Es Krim

leave a comment »

Es Krim, tentu, kita bertanya-tanya ada apa dengan frasa itu? Frasa itu perlu ditilik lagi dalam pemakaiannya. Setelah bergaul dengan tulisan J.S. Badudu tentang “Hukum DM dalam Bahasa Indonesia”, Intisari, edisi September 2003: 152-153, bahwa salah satu sifat utama bahasa Indonesia adalah memiliki hukum DM (diterangkan-menerangkan) dan sejalan dengan pendapat Ajip Rosidi dalam Pikiran Rakyat, bahwa kata-kata yang diambil dari bahasa asing (yang mengikuti hukum MD), susunannya diubah disesuaikan dengan hukum DM, seperti schrijft tafel menjadi meja tulis, black market menjadi pasar gelap, air mail menjadi pos udara.

Bagaimana dengan es krim? Es krim berasal dari bahasa Inggris ice cream yang berhukum MD. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Februari 6, 2013 at 7:56 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Frasa Hitam-Putih

leave a comment »

Frasa hitam-putih dalam kejahatan. Entah alasan apakah istilah kata hitam dan putih digunakan sebagian orang untuk mengungkapkan suatu (kejahatan) tertentu. Frasa yang mungkin akrab frasa kejahatan “kerah putih”, white collar crime, seperti kejahatan pencucian uang, kejahatan profesi, kejahatan komputer dan internet, kejahatan bantuan likuiditas bank, juga kejahatan penjualan pasal.

Pemberdayaan kata putih digunakan juga dalam kejahatan yang ilegal: “kupon putih”, seperti judi togel, buntut, atau nalo. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Januari 26, 2012 at 5:47 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with