Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

‘Cetar’-nya Syahrini

leave a comment »

Kalau kita sering menonton acara Indonesia Mencari Bakat di sebuah televisi nasional, kita akan sering menyaksikan penyanyi Syahrini mengucapkan kata cetar, membahana, badai,halilintar, dan ulala saat memberikan komentar atas penampilan peserta. Kata-kata itu susah dicari rujukannya di kamus karena konon itu merupakan bahasa sehari-hari Syahrini.

Tanpa disadari, penonton pun terbiasa dengan kata cetar, membahana, dan badai yang secara konotatif maupun denotatif dipakai Syahrini secara salah. Kata-kata itu seperti hadir secara otomatis saat Syahrini memberikan komentar penampilan peserta. Di sebuah media cetak, Syahrini mengaku sering ikut mengomentari foto-foto yang dilihatnya di Instagram, yaitu media sosial untuk menyosialisasikan foto. Kata Syahrini, “Kalau Instagram, aku suka komentar ‘ulala’,‘cetar’, ‘membahana’,’badai’. Itu bahasa sehari-hari aku. Cetar,membahana, badai!”

Sebelumnya, Syahrini juga sering mengucapkan kata sesuatu. Lagi-lagi, sesuatu yang dimaksud Syahrini tidak ada rujukannya, tidak ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Memang di dalam KBBI ada kata sesuatu. Namun, maknanya berbeda dengan yang dimaksud Syahrini. Menurut Syahrini, sesuatu adalah ungkapan untuk memuji orang. “Kalau aku muji orang, dia cantik, dia ganteng tampilannya,aku suka bilang sesuatu. Tapi, kalau cetar, itu lebih dari istimewa, lebih dari spektakuler,” jalas Syahrini.

Memang, kata bersifat manasuka (arbitrer). Meskipun demikian, sebuah kata harus menunjuk pada kode bahasa tertentu atau memiliki rujukan yang jelas dan dipakai secara umum. Kotak kaca yang ada gambar dan suaranya dan menampilkan aneka acara orang menyebutnya sebagai televisi, tempat mahasiswa kuliah disebut universitas, orang yang bekerja mengajar pada siswa di sebut guru, dan binatang air yang bisa dimasak/dijadikan lauk namanya ikan. Televisi, universitas, guru, dan ikan bukanlah kata-kata yang begitu saja diucapkan oleh seseorang kemuadian kata-kata itu terkenal dan dipakai banyak orang.

Seseorang atau sebuah lembaga bisa saja memasyarakatkan sebuah kata. Ketika “dilempar’ ke publik, publiklah yang akan menguji apakah kata itu berterima atau tidak. Berterima atau tidaknya pemakaian sebuah kata atau istilah bergantung pada penerimaan publik. Namun, di atas itu semua, yang terpenting adalah logika atau alasan kenapa kata/istilah itu diperkenalkan kepada masyarakat.

La rose, misalnya, pernah memperkenalkan kata senggama untuk memperhalus kata kawin (proses hubungan seks antara pria dengan wanita). Kata itu ternyata berterima dan di pakai masyarakat hingga sekarang. Sementara itu, kata sangkil dan mangkus yang pernah diperkenalkan Badan Bahasa untuk mengganti efektif dan efesien ternyata sampai sekarang tidak terdengar gaungnya. Orang tetap lebih suka memakai kata efektif dan efesien.

Di tengah makin populernya istilah ngawur yang diperkenalkan Syahrini, kita juga dibombardir oleh ciyus, cemungud, miapah, cungguh, akoh, masya, amaca, lahacia, kiyim, dan enelan. Itu adalah bahasa alay untuk serius, semangat, demi apa, sungguh, aku, masak, masak sih, ah masa, rahasia, kirim, dan beneran. Para alay meniru gaya anak dibawah lima tahun berbicara. Kita pun merayakannya. Percis seperti kita merayakan “cetar membahana badai halilintar”-nya Syahrini. (28-11-2012)

Written by kbplpengkajian

Maret 25, 2013 pada 5:13 pm

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: