Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Banjir Resolusi

leave a comment »

MENJELANG tutup tahun 2010, banyak kawan di jejaring sosial Facebook dan Twitter yang membuat status dengan kata “resolusi”. Seorang pemilik akun Facebook menulis: “Resolusi 2011: saya akan berusaha semua target tercapai. Amin”. Kawan lain menulis: “Resolusi saya pada 2011 adalah bisa mewujudkan semua saya dan harapan orang tua.”

Berita selebritas di televisi pun juga berhambur kata “revolusi”. Banyak artis yang tiba-tiba fasih mengucapkan kata “resolusi”. Para pemburu berita pun kemudian turut menyebarluaskan kata “resolusi” itu dengan enteng.

Setahu saya sejak zaman Majapahit sampai menjelang akhir tahun 2010 tidak pernah terdengar ada orang (individu) akan melakukan resolusi pada setahun mendatang. Yang dimaksud mungkin adalah keputusan, program, rencana, atau mimpi besar yang ingin diwujudkan.

Seorang artis mengatakan, “Tahun 2011 saya mau membuat resolusi penting yang saya harapkan bakal terwujud semuanya.” Wartawan kemudian menulis ucapan si artis begitu saja, tanpa berusaha tahu apa artinya. Begitulah terus sampai terjadi “banjir” kata “resolusi” di mana-mana.

Kata “resolusi” menurut KBBI adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Misalnya, “Rapat akhirnya mengeluarkan suatu resolusi yg akan diajukan kepada pemerintah.” Kata “resolusi” selama ini lebih banyak mengacu pada keputusan bersama sejumlah negara tentang suatu hal. Misalnya, Resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk kasus Timur Tengah atau resolusi PBB tentang nuklir.

Wikipedia menulis: Resolusi PBB adalah suatu naskah formal yang diadopsi oleh suatu badan PBB. Walaupun hampir semua badan PBB dapat membuat resolusi, hampir semua resolusi dalam prakteknya diterbitkan oleh Dewan Keamanan PBB atau Sidang Umum PBB. Resolusi PBB dapat dikelompokkan menjadi resolusi substantif atau prosedural atau sesuai badan penerbitnya, yaitu Resolusi Sidang Umum dan Resolusi Dewan Keamanan.

Dengan begitu, resolusi mengandaikan sebuah aktivitas yang dilakukan oleh subjek jamak. Artinya, kalau si Badu atau artis bernama Cacamarica Hehe membuat resolusi, maka pertanyaannya adalah: dengan siapa mereka membuat resolusi? Bukankah Badu atau Cacamarica Hehe itu berarti tunggal?

Kalau yang dimaksud adalah berketetapan hati atau memutuskan untuk memecahkan masalah atau mengadakan perubahan pada 2011 (resolved), tidak tepat kalau memakai kata resolusi. Itu akan terlalu berlebihan atau lebay. Memang kata revolve kalau diindonesiakan menjadi “berubah”, tapi kata resolve sangat jauh dengan kata resolution.

Andre Donas, kawan saya, alumni jurusan Sastra Prancis yang kini bekerja di periklanan, mengatakan bahwa kata “resolusi” sebagaimana yang marak akhir-akhir ini sebenarnya memenuhi syarat kebahasaan. Alasannya, kata Andre, orang yang mengatakan akan melakukan resolusi berarti dia berjanji atau membuat keputusan bersama dirinya sendiri.

“Jadi, syarat jamak telah terpenuhi karena di sana ada dua tokoh, yaitu dia sebagai subjek dan dirinya sendiri sebagai objek. Yang jadi masalah adalah kenapa kata resolusi itu sekarang jauh lebih sering dipakai (popular) daripada kata ikrar, nazar, kaul, atau janji? Saya melihatnya karena mereka sok kebarat-baratan saja,” kata Andre.

Saya tidak membantah argumentasi Andre Donas. Namun, saya juga tidak berani mengiyakannya. Saya tetap berkeyakinan bahwa saya atau tiap manusia bermakna tunggal. Meskipun dalam ilmu psikologi dan filsafat setiap manusia disebut sebagai makhluk monodualis, tetapi tetap saja akan selalu mengacu pada bentuk tunggal. Monodualis dalam psikologi dan filsafat sebenarnya lebih mengacu pada pengertian manusia terbentuk atas badan dan roh (jiwa). Jadi, substansinya tetap satu atau tunggal.

Saya mafhum bahwa praktek kebahasaan di tengah-tengah masyatakat jauh lebih maju perkembangannya dibanding perkembangan kata dan istilah di dalam kamus. Namun, bagaimanapun juga, praktek berbahasa juga tidak bisa mengabaikan makna yang benar sebuah kata atau istilah.

Written by kbplpengkajian

Januari 12, 2011 pada 4:51 am

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: