Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Archive for the ‘Lisa Misliani’ Category

Presiden PKS atau Presiden RI

leave a comment »

Rabu, 24 Juli 2013

             Ketika Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, sedang mengunjungi Liberia untuk mengadakan pertemuan dengan PM Inggris David Cameron dan Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf pada hari Kamis, tanggal 31 Januari 2013, Presiden PKS (saat ini sudah menjadi mantan Presiden PKS), LHI, ditangkap tim penyidik KPK terkait kasus korupsi pengadaan daging sapi impor yang melibatkan dirinya. Beberapa bulan kemudian, giliran AU, yang diminta untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum  Demokrat karena terjadi kekisruhan dalam tubuh partainya akibat adanya dugaan keterlibatan AU pada kasus korupsi Hambalang.

Tulisan kali ini tidak akan menelisik lebih jauh mengenai kasus korupsi yang melibatkan para petinggi partai tersebut. Akan tetapi, kita akan akan melihat bagaimana kreativitas masing-masing partai memberikan nama bagi para petingginya. Baik presiden PKS, maupun Ketua Umum Demokrat, merupakan suatu jabatan yang memiliki porsi sama. Selain itu, kita juga akan membandingkan penggunaan kata presiden pada Presiden RI dengan kedua kata tersebut.

Coba kita bandingkan kata presiden PKS, ketua umum Demokrat, dan Presiden Republik Indonesia. Kata presiden dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki dua pengertian, (1) kepala (lembaga, perusahaan, dsb.); (2) kepala negara (bagi negara yang berbentuk republik) (KBBI, 2008: 1101). Selanjutnya, kata ketua umum merupakan suatu kata majemuk yang bermakna jabatan tertinggi dari suatu organisasi (partai, lembaga, panitia, dsb.) (KBBI, 2008: 1489).  Selain itu, penggunaan kata presiden pada Presiden RI telah sangat bersesuaian dan lazim dengan pemaknaan kata presiden itu sendiri.

Berdasarkan pemaknaan dari masing-masing kata yang telah diuraikan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa antara kata presiden PKS, Ketua Umum Demokrat, dan Presiden RI memiliki pemaknaan yang hampir sama. Penggunaan Kata presiden pada presiden PKS terasa sedikit tak lazim. Sebagai warga negara yang tinggal di negara yang berbentuk republik, kata presiden terlanjur lebih dekat kita maknai sebagai pemimpin negara. Selain itu, hampir setiap petinggi pada partai-partai politik yang terdapat di Indonesia menggunakan kata ketua umum sebagai pemimpin partai, seperti Golkar, PAN, dan Gerindra. Hanya PKS satu-satunya partai politik di Indonesia yang menggunakan kata presiden sebagai pemimpin partainya.

Penggunaan kata presiden pada presiden PKS memang tidak dapat disalahkan. Akan tetapi, kelaziman berbahasa tampaknya sedikit mempengaruhi rasa bahasa bagi pengguna bahasa Indonesia manakala kata presiden itu tidak dilekatkan pada orang nomor satu RI saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia. Bagaimanapun, berbedanya penamaan bagi para petinggi partai politik pun, kita rasakan tak mampu menepis kasus korupsi yang menghiasi wajah partai-partai politik tersebut.

 

 

Written by kbplpengkajian

September 8, 2013 at 5:14 pm

Ditulis dalam Lisa Misliani

Tagged with

Perempuan dan “Parapuwan”

leave a comment »

Rabu, 19 Desember 2012

            Saya sempat berkecil hati ketika mencoba membaca salah satu naskah kuno beraksara Lampung di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Berbekal buku Les Manuscrit Lampongs yang ditulis oleh Van der Tuuk pada tahun 1868 mengenai variasi aksara Lampung berdasarkan beberapa naskah kuno yang dihimpunnya, sebagai orang yang bukan berasal dari daerah Lampung saya memberanikan diri untuk mengeja rangkaian huruf Ka Ga Nga dalam naskah bernomor 69 yang disimpan pada Peti 97.

Setelah mencoba mengeja beberapa kalimat pada naskah kuno tersebut, saya pun menyadari bahwa teks pada naskah kuno beraksara Lampung yang saya baca menggunakan bahasa Melayu. Melalui penelusuran lembar demi lembar yang saya lakukan pada naskah kuno tersebut, saya mendapatkan sebuah kata yang sangat menarik, yaitu kata parapuwan.

Kata parapuwan yang terdapat pada teks tersebut mengacu pada kata perempuan yang lazim kita gunakan hingga saat ini. Kata perempuan itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; istri atau bini; betina (khusus untuk hewan). Berdasarkan asal katanya perempuan konon berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu mpu.

Terbersit dalam hati saya, kata parapuwan dalam naskah kuno yang saya baca dapat menunjukkan bahwa kata perempuan bukanlah berasal dari kata mpu, tetapi berasal dari bahasa Melayu puwan. Penggunaan kata parapuwan dalam teks kuno tersebut selalu disandingkan dengan kata lalaki-laki. Oleh sebab itu, saya berkeyakinan perempuan dan parapuwan memiliki arti yang sama.

Saya pun kembali mencermati kata demi kata dalam teks kuno tersebut untuk mendapatkan keyakinan mengenai asal kata parapuwan. Akan tetapi, tampaknya dugaan awal saya mengenai asal kata puwan untuk parapuwan tidaklah terbukti. Setelah saya menelisik beberapa kata pada teks kuno tersebut, seperti sapurana untuk sempurna, ka sabilan untuk ke sembilan, dan ka duwalapan untuk ke delapan, saya melihat adanya suatu pola pembentukan kata yang tak lazim karena gejala bahasa Melayu yang terjadi pada teks tersebut.

Gejala bahasa Melayu yang terjadi dengan adanya pelesapan konsonan m  dan pengubahan vokal e menjadi a menghasilkan bahasa Melayu yang khas pada teks kuno tersebut. Selain itu, kekhasan bahasa Melayu yang digunakan dapat menunjukkan bahwa bahasa daerah lain turut memengaruhi penggunaan bahasa Melayu itu sendiri. Berdasarkan hal itu, pada akhirnya kita pun mengetahui bahwa parapuwan bukanlah suatu kata yang memiliki asal kata berbeda dengan perempuan. Akan tetapi, kata parapuwan adalah kata yang terbentuk akibat gejala bahasa Melayu yang terjadi pada teks kuno tersebut.

Penggunaan kata parapuwan untuk perempuan, sapurana untuk sempurna, ka sabilan untuk ke sembilan, dan ka duwalapan untuk ke delapan mungkin tidak akan pernah kita ketahui tanpa membaca kembali naskah-naskah kuno, khususnya naskah kuno beraksara Lampung. Selain itu, masih banyak berbagai hal menarik yang tersimpan di dalam naskah kuno yang menanti kepedulian kita untuk mengungkapnya. Jadi, mari kita gali kekayaan yang terkandung pada naskah kuno beraksara Lampung dengan membacanya.

 

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:02 am

Ditulis dalam Lisa Misliani

Tagged with