Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Eksekusi

with one comment

Rabu, 17 April 2013

Beberapa hari terakhir ini sejumlah media ramai memberitakan penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Para penyerang mengeksekusi empat tahanan lapas itu. Dalam pada itu, ada juga berita tentang akan dilaksanakannya eksekusi terhadap mantan kepala Bareskrim Kepolisian RI, Susno Duadji.

Eksekusi, maujud (entity) lingustik jenis apakah itu? Secara umum, kalangan awam memahami istilah itu dengan pelaksanaan hukuman mati alias eksekusi mati. Orang kadang merinding mendengar istilah itu. Namun, belakangan tidak jarang terjadi eksekusi atas lahan atau tempat tinggal—yang biasanya dikaitkan dengan para pihak yang bersengketa atas lahan atau bangunan itu.

Dalam tayangan infotainmen, seperti dalam ajang pencarian bakat, diadakan penjurian atas peserta lomba. Lantas, muncullah istilah eksekutor di sana. Istilah macam apa pula ini dalam konteks itu? Ada yang merasa aneh, lucu,  dan ngeri dengan istilah itu digunakan dalam situasi seperti itu. Mengapa istilah eksekutor, bukan istilah lain, yang dipilih?

Eksekusi, sebagai istilah hukum, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (KBBI) dimaknai ‘1 pelaksanaan putusan hakim; pelaksanaan hukuman badan peradilan, khususnya hukuman mati, misalnya Yang terhukum sudah menjalani –nya; 2 penjualan harta orang karena berdasarkan penyitaan’ (2008:356).

Orang yang melakukan eksekusi disebut eksekutor, yang merupakan kata bendanya, sedangkan kata sifatnya adalah eksekutorial ‘bersifat eksekusi’, bukan eksekutif karena eksekutif bermakna ‘1 berkenaan dengan pengurusan (pengelolaan, pemerintahan) atau penyelenggaraan sesuatu; 2 kekuasaan menjalankan undang-undang; 3 pejabat tingkat tinggi yang bertanggung jawab kepada direktur utama atau pemimpin tertinggi  dalam perusahaan atau organisasi’ (KBBI 2008:356).

Di dalam bahasa Belanda, sebagaimana ditegaskan dalam Kamus Belanda-Indonesia oleh Susi Moeimam dan Hein Steinhauer (2005:302), executie bermakna ‘1 eksekusi; standrechtelijke executie eksekusi langsung (‘menurut hukum darurat’/’tanpa diadili melalui pemeriksaan biasa’; 2 eksekusi; verkoop bij executie penjualan lelang; lelang sita; parate executie eksekusi/pelaksanaan langsung’. Dalam pada itu, dalam Kamus Umum Belanda Indonesia karya S. Wojowasito (2006:185), executie bermakna ‘pelaksanaan dari putusan pengadilan’.

Di dalam bahasa Belanda, eksekutor adalah executeur ‘pelaksana’ (Moeimam dan Steinhaeur 2005:3003; Wojowasito 2006:185).

Patut dicamkan, istilah eksekusi di dalam bahasa Indonesia bukan berasal atau diserap dari bahasa Inggris execution, tetapi diserap dari bahasa Belanda, executie–dengan makna sebagaimana ditegaskan di atas.

Eksekusi secara etimologis berasal dari bahasa Latin, exsecution; exsecutio, dari exsequi artinya ‘mengeksekusi; menghukum’  (Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, Tenth Edition, 2008:436). Istilah execution masuk ke dalam bahasa Inggris sekitar abad ke-14. Execution dalam bahasa Inggris itu berasal dari bahasa Inggris abad pertengahan execucion yang terambil dari bahasa Anglo-Perancis (Anglo-French) dan bersumber atau berawal dari bahasa Latin yang ditegaskan itu.

Dalam konteks tulisan ini, patut juga disinggung pahaman (notion) eksekutor dan juri. Kira-kira samakah maknanya eksekutor dan juri itu?

Kendatipun tidak ada yang melarang publik menggunakan istilah eksekutor, seperti dalam ajang pencarian bakat di televisi, disarankan dalam konteks itu sebaiknya digunakan istilah juri. Juri bermakna ‘1 orang (panitia) yang menilai dan memutuskan kalah atau menang (dalam perlombaan, sayembara, dsb), misalnya Dia ditunjuk menjadi anggota juri dalam perlombaan pidato itu; 2 orang yang menilai salah atau benar di pengadilan (di beberapa negeri barat) (KBBI 2008:594).

Penegasan itu juga sejalan dengan jury dalam bahasa Belanda, yang dimaknai ‘1  juri (penilai); 2 juri (dalam pengadilan) (Moeimam dan Steinhauer 2005:496); atau jury bermakna ‘panitia wasit; wasit; juri’ (Wojowasito 2006:323).

Bertolak pada penegasan di atas, Anda agaknya sepakat dengan saya: tidak pas ajang pencarian bakat jika disetarakan dengan menilai salah benar seperti di pengadilan, bukan?

Written by kbplpengkajian

April 18, 2013 pada 5:10 am

Ditulis dalam Muhammad Muis

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Nice post

    Nokia Terbaru

    April 25, 2013 at 5:42 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: