Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Archive for the ‘As. Rakhmad Idris’ Category

PSSI

leave a comment »

Rabu, 03 Juli 2013

            Kisruh seputar dualisme kepengurusan sepak bola di tanah air sepertinya akan segera sirna. Ini terlihat dari keberhasilan PSSI menggelar Kongres Luar Biasa pada Minggu, 17 Maret 2013. Kongres ini bertujuan menghapus dualisme kepengurusan yang selama ini menghambat prestasi sepak bola Indonesia. Kongres Luar Biasa ini tak ubahnya oase yang dapat menyegarkan citra sepak bola Indonesia di mata dunia.

Siapa yang tidak mengenal PSSI? Saya yakin setiap orang yang mengaku pencinta sepak bola mengenal organisasi ini. Bahkan, sejak duduk di bangku SD, kita sudah dikenalkan pada berbagai singkatan dan akronim organisasi induk berbagai cabang olah raga yang ada di Indonesia. Sebut saja PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia), PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia), Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia), dan masih banyak lagi. Pilihan kata yang digunakan sebagai singkatan dan akronim inilah yang menarik untuk diperbincangkan. Setidaknya ada dua kata yang kerap digunakan dalam singkatan dan akronim ini, yaitu Persatuan dan Seluruh.

Kata persatuan dalam KBBI merupakan sublema dari kata satu yang bermakna (1) gabungan (ikatan, kumpulan, dsb) beberapa bagian yang sudah bersatu; (2) perserikatan; serikat; (3) perihal bersatu. Kata seluruh memiliki kemiripan dengan kata semua, segala, sekalian, dan segenap, tetapi memiliki sedikit perbedaan arti dan penggunaan. Kata semua bermakna setiap anggota terkena atau termasuk dalam hitungan. Kata segala dipakai untuk mengacu pada benda yang beraneka ragam. Kata sekalian menyatakan keserentakan dan hanya digunakan untuk mengacu pada orang atau manusia. Kata segenap juga menyatakan makna semua, tetapi dalam pengertian kelengkapan. Kata segenap lebih mirip dengan kata seluruh. Perbedaannya ialah kata segenap biasanya diikuti oleh kata yang menyatakan manusia. Kata seluruh juga mengandung makna bahwa setiap anggota termasuk dalam hitungan, tetapi dalam pengertian kekelompokan atau kolektif.

Setelah memperhatikan makna kedua kata ini, muncul pertanyaan dalam benak saya, “Jika kata persatuan sudah mengandung makna ‘gabungan beberapa bagian yang sudah bersatu’, masihkah singkatan ini membutuhkan kata seluruh yang menerangkan bahwa setiap anggota termasuk dalam hitungan yang bersifat kolektif? Bagaimana jika kata seluruh dihilangkan saja sehingga PSSI berubah menjadi PSI (Persatuan Sepak bola Indonesia) atau PSBI (Persatuan Sepak Bola Indonesia)?” Ada dua alasan yang mendukung perubahan ini. Pertama, ditemukannya unsur mubazir dalam penggunaan kata. Kata persatuan dianggap telah mencakup gabungan dari seluruh tim sepak bola yang ada di Indonesia. Kedua, adanya unsur ketidakseragaman dalam pembentukan singkatan dan akronim. Hal ini terlihat dari beberapa singkatan dan akronim yang tidak menggunakan kata seluruh, contohnya PBI (Persatuan Bowling Indonesia), Perbakin (Persatuan Penembak Indonesia), Perpani (Persatuan Panahan Indonesia), dan Pertina (Persatuan Tinju Amatir Indonesia).

Teman saya mengomentari, “Apalah arti sebuah nama?”

“Tentu harus berarti” jawab saya. Kata persatuan menunjukkan bahwa organisasi ini tidak terpecah belah, tidak ada dualisme kepengurusan. Di sisi lain, apa fungsi kata seluruh jika timnas ternyata hanya dipilih dari beberapa klub sepak bola, dari kelompok tertentu dan tidak mewakili seluruh tim sepak bola yang diakui. Namun, yang paling penting dari semua ini adalah prestasi, baik di tingkat Asia, maupun dunia. Walau PSSI berganti menjadi PSI atau PSBI, tetapi minim prestasi, menurut saya pergantian ini akan sia-sia belaka.

Teman saya berlalu seraya bernyanyi, “Garuda di dadaku …”

Iklan

Written by kbplpengkajian

September 8, 2013 at 4:37 pm

Ditulis dalam As. Rakhmad Idris

Tagged with

Nikah Siri

leave a comment »

Rabu, 20 Februari  2013

            Pemberitaan mengenai kasus nikah siri seorang pejabat yang berakhir dalam waktu singkat menghiasi media massa pada beberapa pekan lalu. Diskursus mengenai nikah siri pun menjadi topik hangat di berbagai forum diskusi dan seminar. Nikah siri menjadi problematika masyarakat sosial yang mengemuka di penghujung tahun 2012.

            Fenomena nikah siri ini juga menarik untuk dilihat dari sisi kebahasaan. Tentu yang dilihat adalah penulisan kata “siri” di belakang kata nikah. Beberapa orang menganggap penulisan nikah siri yang paling afdal adalah dengan dengan menambahkan huruf r pada kata siri menjadi sirri. Alasan yang mereka kemukakan adalah bahwa kata sirri dipungut dari akar kata bahasa Arab sirrun (bentuk tunggal) dan asrârun (bentuk plural) yang bermakna rahasia. Berdasarkan asal kata tersebut, penulisan yang tepat menurut mereka adalah nikah sirri (dengan dua huruf r). 

             Asal kata nikah siri sebagaimana yang diungkapkan di atas memang benar berasal dari bahasa Arab. Kata siri, dalam Kamus Al-Munawir, berasal dari kata sirrun (rahasia), sirron (dengan diam-diam), dan as-sirriyyu (secara rahasia, sembunyi-sembunyi, misterius). Namun, perlu diingat juga bahwa bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah diatur dalam Pedoman Umum EYD berupa cara penulisan unsur serapan.  Di antara aturan penulisan unsur serapan yang terdapat dalam buku tersebut dinyatakan bahwa konsonan ganda menjadi konsonan tunggal kecuali kalau dapat membingungkan. Berdasarkan aturan baku tersebut, penulisan yang benar adalah nikah siri karena kata sirru, sirron, dan as-sirriyyu telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Keabsahan kata siri yang telah diserap bahasa Indonesia ini semakin dikukuhkan dengan dicantumkannya kata tersebut ke dalam KBBI. Kata siri ditemukan dalam sublema ni.kah siri yang bermakna pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, dan menurut agama Islam sudah sah.

Persoalan dihilangkannya konsonan ganda ini tidak hanya terjadi pada kata siri, tetapi juga pada kata yang berasal dari bahasa Arab lainnya. Contoh kata yang dihilangkan konsonan r adalah Muharam (Muharram) dan silaturahmi (silaturrahîm). Terdapat juga contoh lain seperti, amabakdu (ammâba’du), alaihi salam (‘alaihissalâm), bisawab (bisshawâb), hurah (hurrah), kisah (qissah), kalimatusyahadat (kalimatussyahadah), dan wasalam (wassalâm). Namun, aturan ini ternyata tidak diberlakukan pada semua kata yang berasal dari bahasa Arab. Dalam KBBI ditemukan beberapa kata yang huruf konsonan gandanya tetap dipertahankan, misalnya assalamualaikum, allahuma, dan bismillah. Uniknya, kata wasalam sebenarnya diserap dari kalimat yang sama yaitu assalamualaikum, tetapi perlakuannya dibedakan. Ya sudahlah, yang penting jangan pernah (menulis) nikah sirri ya!

 

Mahasiswa

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:19 am

Ditulis dalam As. Rakhmad Idris

Tagged with

12-12-12

leave a comment »

2 Januari 2013

Kita baru saja melewati tanggal 12 Desember 2012. Sebagian masyarakat menganggap bahwa tanggal tersebut merupakan hari baik dan penanggalan yang cantik. Berdasarkan persepsi tersebut, beberapa ibu yang tengah hamil tua berbondong-bondong memaksakan kelahiran bayinya pada tanggal tersebut melalui metode operasi. Di lain pihak, beberapa pasangan muda yang hendak menikah sudah sejak jauh hari berencana melakukan akad nikah di hadapan penghulu pada tanggal yang sama. Alasan yang mereka ungkapkan seragam, tanggal tersebut terdiri atas susunan angka yang cantik sehingga mudah diingat.

Alasan tersebut memang tepat sekali, karena masyarakat kita saat ini kerap dilanda penyakit lupa. Termasuk lupa cara menggunakan tanda baca menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Maret 26, 2013 at 4:12 pm

Ditulis dalam As. Rakhmad Idris

Tagged with