Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Bahasa Media Massa

leave a comment »

“MUNGKIN tidak semua wilayah bisa terkover pemerintah karena anggaran yang terbatas. Pemerintah bisa memberikan data dan perusahaan bisa memberikan CSR-nya di sana,” kata dia.

Kalimat dia atas saya cuplik dari berita Lampung Post berjudul “CSR Harus Bersinergi” (3 Desember 2010, halaman 13). Tak ada yang salah dalam kalimat tersebut. Namun, sebagai pembaca saya terganggu dengan pemakaian kata “terkover” dan “memberikan CSR”.

Barangkali, si narasumber memang menyebut kata “tercover” lalu ditulis si wartawan dengan terkover. Kalaupun kata kover sudah ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebenarnya lebih pas jika terkover diganti dengan tercakup, tertampung, atau teratasi.

Memang, dalam praktek berbahasa sehari-hari kita sering mendengar orang lebih sering memakai kata terkover ketimbang tertampung atau tercakup. Namun, pemakaian kata terkover secara berlebih hanya menegaskan bahasa Indonesia miskin kata.

Yang juga menarik dari kalimat itu adalah frase “memberikan CSR”. CSR merupakan singkatan corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan. CSR biasanya berbentuk kegiatan atau program, bukan sebentuk benda atau barang sehingga tidak mungkin diberikan. Yang melaksanakan CSR adalah perusahaan dan yang menerima manfaat adalah masyarakat.

Dengan begitu, lebih tepat kalau CSR itu dilaksanakan. Jadi, dalam konteks kalimat di atas, lebih pas kalau ditulis: “Pemerintah bisa memberikan data dan perusahaan bisa melaksanakan CSR di sana.”

Lampung Post termasuk media massa cetak berbahasa Indonesia terbaik di Indonesia menurut Pusat Bahasa. Artinya, bahasa Lampung Post layak menjadi acuan media lain di Indonesia, setidaknya di Lampung.

Maka, seyogianya ketidaktepatan berbahasa yang disebabkan salah nalar dan ketidaktepatan memilih diksi sebisa mungkin dikurangi. Yang tidak kalah penting adalah mengurangi banjir singkatan dan istilah-istilah asing.

Di media cetak lain yang terbit di Lampung ketidaktepatan (bahkan kesalahan) berbahasa jauh lebih banyak. Banyak media massa cetak di Lampung yang menabrak rambu bahasa. Penabrakan rambu-rambu bahasa itu bisa disebabkan salah nalar berbahasa, ketikdakpahaman, atau memang disengaja untuk mendapatkan efek gengsi.

Radar Lampung edisi 3 Desember 2010 menulis judul berita antara lain “Jelang Tes, Kamar Hotel Full”, “Mei, Bambu Kuning Square Grand Opening”, dan “Sebagian Pedagang Direlokasi ke Basement”.

Sementara Radar Lampung edisi 6 Desember antara lain memuat judul “Susun Trayek Utama”, “Harus Memiliki Persiapan Matang”, dan “Reformasi Angkutan Umum”. Semua judul Radar Lampung yang saya kutip pada edisi 3 Desember 2010 diwarnai istilah asing yang sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Sementara judul Radar Lampung edisi 6 Desember 2010 tersebut di atas semuanya tanpa subjek. Mungkin saja, subjek kalimat sengaja dihilangkan karena semua judul itu berada dalam satu tema tentang reformasi angkutan umum di Kota Bandar Lampung. Namun, tanpa adanya penjelasan semua tulisan itu sebagai liputan khusus tentang reformasi angkutan umum, hal itu termasuk menyalahi kaidah bahasa.

Beberapa media massa cetak di Lampung (terutama tabloid mingguan) juga sering membuat napas pembaca tersengal setelah membacanya. Itu karena media itu banyak menampilkan tulisan dengan kalimat panjang. Bahkan, acap tidak jelas maksud kalimatnya. Masih ada jurnalis yang belum paham bahwa kalimat panjang dengan lebih satu anak kalimat akan membuat pembaca lelah.

Sebagai alat komunikasi massa yang memiliki keterbatasan ruang (media cetak) dan waktu (media elektronik) bahasa jurnalistik harus padat, singkat, sederhana, lugas, dan mudah dipahami. Dengan bahasa lain: bahasa jurnalistik harus efektif, efisien, dan komunikatif. Meskipun singkat dan lugas, bahasa media massa harus komunikatif, denotatif, dan bisa dipahami semua kalangan.

Dengan bahasa yang lugas pembaca tidak perlu mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan surat kabar.

Bahasa jurnalistik memang harus efisien. Asas hemat kata dan jelas harus selalu diterapkan para jurnalis dan editor. Prinsip itulah yang membuat media massa boleh memakai kata dasar dalam menulis judul atau menghilangkan beberapa kata tugas (misalnya “bahwa”, “yang”) di badan berita. Namun, efisiensi bahasa seharusnya tetap dilakukan secara wajar dan tidak menabrak kaidah berbahasa.

Written by kbplpengkajian

Desember 8, 2010 pada 12:47 am

Ditulis dalam Oyos Saroso H.N.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: