Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Archive for the ‘Sustiyanti’ Category

Perpanjang

leave a comment »

Rabu, 19 September 2012

Agaknya terdapat keragu-raguan atau bahkan mungkin ketidaktahuan sebagian pemakai bahasa Indonesia dalam hal pemakaian awalan pe- dan per- bila keduanya digabungkan. Hal ini bisa kita lihat contohnya dalam kalimat yang ditulis sebuah situs berita (WartaKotaLive.com): Rizal, perpanjang SIM C, mengatakan alasan perpanjang SIM C di pelayanan SIM Keliling, dikarenakan menghemat waktu, tenaga, lebih efisien, dan tidak ada calo.

Saya tertarik pada kalimat tersebut karena menurut saya ada sesuatu yang aneh. Dalam kalimat tersebut terdapat kata perpanjang. Apa maksud kata perpanjang tersebut? Bila dilihat dari konteks kalimatnya, perpanjang tersebut  bermaksud menunjuk atau mempunyai arti subjek yang merujuk pada Rizal atau orang yang memperpanjang SIM C. Akan tetapi, sudah tepatkah bentuk kata tersebut?

Dalam bahasa Indonesia terdapat sebuah awalan yang memunyai makna pelaku. Awalan tersebut adalah awalan peng- (buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia tebitan Pusat Bahasa menggunakan bentuk peng- ini). Fungsi awalan peng- adalah pembentuk kata benda. Salah satu maknanya adalah pelaku. Oleh karena itu, frasa perpanjang SIM C diatas yang menerangkan Rizal sebagai pelaku, kurang awalan peng- ini. Frasa tersebut seharusnya adalah pemerpanjang SIM C. Pemerpanjang SIM C memunyai makna ‘orang yang memperpanjang SIM C’.

Perpanjang itu sendiri adalah gabungan dari awalam per- dan kata panjang. Awalan per- di situ berfungsi sebagai pembentuk kata kerja dan bermakna ‘menjadikan lebih’ (bila awalan per- dilekatkan pada dasar berupa kata sifat). Jadi makna dari frasa perpanjang SIM C adalah ‘menjadikan lebih panjang (masa berlaku) SIM C’.

Kata pemerpanjang memang jarang kita dengar atau jarang kita gunakan. Seperti halnya kata peberperkara. Kata peberperkara memunyai makna ‘orang yang memunyai perkara (perkara yang berkaitan dengan hukum)’. Walau jarang digunakan, bentuk-bentuk tersebut adalah bentuk yang benar karena sesuai dengan kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia.

Jika kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, janganlah ragu-ragu untuk menggunakan bentuk-bentuk tersebut alih-alih menggunakan bentuk yang salah. Apalagi sebenarnya ada kata yang sejenis dengan kata pemerpanjang ini yang sering juga kita gunakan dalam berbahasa Indonesia, seperti pemersatu dan pemerhati.

Jadi, kombinasi awalan pemer- ini bukan sesuatu yang sama sekali tidak digunakan. Apabila tidak sreg dengan kata pemerpanjang kita bisa menggunakan frasa orang yang memperpanjang. Contoh kalimat di atas bisa diubah menjadi Rizal, pemerpanjang SIM C…. atau Rizal, orang/warga  yang memperpanjang SIM C…, Jadi, tetap menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Akhir kalam mari kita gunakan bahasa Indonesia yang/dengan benar.

Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 1:57 am

Ditulis dalam Sustiyanti

Tagged with

Pewaris

leave a comment »

BEBERAPA waktu yang lalu kita disuguhi berita tentang penyerangan Korea Utara terhadap negara tetangganya sekaligus musuhnya, Korea Selatan. Sementara itu, di tengah tingginya ketegangan setelah serangan yang mematikan tersebut, pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Il, dan putra bungsu yang juga pewarisnya menyaksikan satu pertunjukan musik. Begitu kata sebuah media massa.

Kita juga disuguhi berita tentang Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta yang menuai banyak protes dari warga DIY itu sendiri. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Februari 2, 2011 at 6:03 am

Ditulis dalam Sustiyanti

Tagged with

Ambil Ginjal

leave a comment »

Suatu kali saya berkunjung ke sebuah klinik kesehatan. Pasien di situ tidak terlalu banyak. Di samping saya duduk seorang perempuan dan temannya atau mungkin suaminya. Mereka asyik sekali mengobrol. Tak lama kemudian seseorang masuk. Rupanya mereka saling mengenal. Mereka saling menanyakan kabar. Dari pembicaraan mereka, saya menyimpulkan bahwa seseorang yang baru datang itu sedang menjalani studi di bidang kedokteran. Perempuan yang duduk di samping saya kemudian bertanya: “Ambil apa”. Dijawab oleh orang tersebut: “Ambil ginjal”. Karena tidak terbiasa mendengar istilah-istilah yang dipakai oleh praktisi medis, saya agak merasa aneh mendengar kalimat ambil ginjal tersebut. Kok ginjal diambil? Saya kemudian hanya bisa menduga-duga bahwa mungkin yang dimaksud adalah orang tersebut sedang mempelajari atau mungkin meneliti ginjal dan penyakit-penyakit yang menyerang ginjal.

Di waktu lain saya mengunjungi poliklinik jantung di sebuah rumah sakit pemerintah. Setelah selesai pengambilan rekam jantung, saya melihat pasien yang lain, seorang perempuan berusia sekitar 70-an, sedang berkonsultasi dengan dokter. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Juni 2, 2010 at 11:39 am

Ditulis dalam Sustiyanti

Tagged with

Pasung

leave a comment »

Banyak kasus kekerasan terhadap anak terjadi dalam masyarakat. Beberapa waktu lalu salah satu media televisi swasta mengabarkan suatu peristiwa yang cukup membuat hati jatuh iba. Memang sungguh malang nasib Gia Wahyuningsih, gadis kecil yang, kata media televisi yang mengabarkannya, dipasung. Anak usia 4 tahun itu diikat pinggangnya oleh ayahnya selama dua tahun. Selama itu ia tidak bisa bermain sebagaimana layaknya anak-anak seusianya. Ia juga kurang makan sehingga tubuhnya terlihat kurus kering. Dikatakan bahwa ia mengalami keterbelakangan mental dan juga menderita penyakit epilepsi. Entah karena mengalami keterbelakangan mental sehingga dikhawatirkan hilang atau karena ayahnya tidak mau repot menjaganya, Gia dipasung oleh ayahnya.

Akan tetapi, apakah Gia benar-benar dipasung? Ternyata tidak. Gadis kecil itu memang dibelenggu atau diambil kebebasannya, tetapi bukan dengan cara dipasung melainkan dengan cara diikat pinggangnya. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Maret 24, 2010 at 2:30 am

Ditulis dalam Sustiyanti

Tagged with