Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Archive for the ‘Agus Sri Danardana’ Category

Semalam Siap Seronok

leave a comment »

BAGI sebagian besar penutur bahasa Indonesia, judul tulisan ini bisa jadi menimbulkan rasa penasaran dan asosiasi negatif karena berpotensi menyaran pada pemikiran/makna bahwa ada (orang) yang mampu tampil erotis dalam (selama) satu malam.

Penyebab timbulnya rasa penasaran dan asosiasi negatif itu pun sudah dapat diduga, yakni penggunaan kata semalam ‘satu malam’ dan siap sedia, mampu (untuk rasa penasaran) serta kata seronok erotis, menggairahkan (untuk asosiasi negatif). Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by kbplpengkajian

Juni 6, 2012 at 3:14 pm

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Main (di) Stadion

leave a comment »

“Kena batunya,” suara lirih Atan membuyarkan konsentrasi penumpang lain yang sedang berjuang agar tidak terantuk karena ulah sopir yang harus selalu menggoyang kendaraannya untuk menghindari tebaran lubang di hampir sepanjang jalan. Mereka terhenyak penuh tanya, apa gerangan yang (akan) terjadi.

“Maaf, Bang. Maaf, Kak. Gumam awak tadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan nasib kami di angkot ini,” kata Atan mencoba menenangkan. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Maret 28, 2012 at 4:09 pm

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Lupa

leave a comment »

Lupa, oleh banyak orang diyakini dapat dijadikan senjata ampuh untuk memaksa orang lain memaklumi segala tindakan salahnya. Bahkan, dalam tata peradilan, orang yang mengidap penyakit lupa dapat terhindar dari jerat hukum. Hal seperti itu, misalnya, diperlihatkan oleh Nunun Nurbaeti Daradjatun dalam kasus suap yang terkait dengan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom. Konon, pengusaha yang dikabarkan menjadi cukong pada kasus itu mengalami kombinasi sakit lupa berat, migrain, dan vertigo. Begitu pula yang dilakukan oleh Nazaruddin, Anas Urbaningrum, dan Andi Malarangeng. Di depan penegak hukum, mereka juga sering mengaku lupa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008:850), lupa memiliki empat makna: (1) lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran, (2) tidak teringat, (3) tidak sadar, dan (4) lalai; tidak acuh. Dalam ilmu kedokteran, lupa digolongkan sebagai penyakit penurunan daya ingat. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

November 1, 2011 at 11:35 pm

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Bahasa Perilaku

leave a comment »

Konon, ihwal sikap, watak, atau tabiat manusia (baik sebagai individu maupun kelompok) dapat diamati melalui bentuk bahasa yang digunakannya. Sikap hormat yang dianut orang Jawa, Sunda, Bali, Madura, dan Sasak dalam memandang hubungan manusia, misalnya, di samping terefleksi pada munculnya oposisi kosakata halus (kromo) dan tidak halus (ngoko) dalam bahasa mereka, juga terefleksikan melalui gerakan tubuh (misalnya dengan sedikit membungkukkan badan dan/atau menundukkan kepala). Sementara itu, etnis lain (yang tidak mengenal strata bahasa), merefleksikan sikap hormatnya hanya melalui gerakan tubuh. Yang pasti, perilaku verbal (dengan bahasa) dan perilaku nonverbal (dengan tingkahlaku) manusia sering memperlihatkan kesinkronannya.

Contoh kesinkronan antara perilaku verbal (dengan bahasa) dan perilaku nonverbal (dengan tingkahlaku) dapat ditemukan pada pemakaian kata tabik dan halo. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Juli 13, 2011 at 12:34 pm

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Ais

leave a comment »

“Ais! Ais!” teriak Atan.

“Tak kena tangan awak,” jawab Midun kesal. Ia berhenti sejenak, mencoba meyakinkan Atan. Telunjuk tangan kirinya ditonjok-tonjokkan ke dada kanannya, sebelum melanjutkan menggiring bola.

Dialog antarpemain bola seperti itu, konon, masih dengan sangat mudah ditemukan (didengar) di perdesaan Riau pada belasan tahun yang lalu. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Juni 2, 2011 at 6:07 am

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Kita (2)

leave a comment »

MASALAH yang hakiki tidak terletak pada benar atau tidaknya wartawan turut serta dalam pemantauan sepak terjang tersangka (Baasyir), tetapi terletak pada motivasi penggunaan kata kita. Di satu sisi, kita memang terdengar/terasa nyaman di telinga/hati dan seolah-olah dapat digunakan sebagai upaya menghaluskan tindak berbahasa. Ia (dalam hal ini polisi) tidak hanya melibatkan kelompoknya, tetapi juga melibatkan orang yang di luar kelompoknya (dalam hal ini wartawan) dan bahkan semua orang.

Dengan demikian, praktis kata kita adalah sebuah konsep yang mendeklarasikan “tidak ada orang yang tidak terlibat”, semuanya turut serta. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Oktober 20, 2010 at 7:16 am

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Kita (1)

with one comment

SECARA konseptual, mungkin hanya bahasa Indonesia yang memiliki dua kata ganti orang pertama jamak: kita dan kami. Sama-sama sebagai kata ganti orang pertama jamak, secara spesifik kita berbeda dengan kami. Kita melibatkan semua komunikan: “saya dan kamu”, sedangkan kami hanya melibatkan komunikatornya: “saya dkk. (jamak) dan minus kamu”.

Oleh karena itu, orang Indonesia yang sudah lama menunggu (check in) di bandara akan menjadi heran ketika mendengar pernyataan: We are a bit late dari salah satu awak pesawat dalam memaklumatkan keterlambatan terbangnya. Baca entri selengkapnya »

Written by kbplpengkajian

Oktober 13, 2010 at 12:36 am

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with