Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Bahasa Perilaku

leave a comment »

Konon, ihwal sikap, watak, atau tabiat manusia (baik sebagai individu maupun kelompok) dapat diamati melalui bentuk bahasa yang digunakannya. Sikap hormat yang dianut orang Jawa, Sunda, Bali, Madura, dan Sasak dalam memandang hubungan manusia, misalnya, di samping terefleksi pada munculnya oposisi kosakata halus (kromo) dan tidak halus (ngoko) dalam bahasa mereka, juga terefleksikan melalui gerakan tubuh (misalnya dengan sedikit membungkukkan badan dan/atau menundukkan kepala). Sementara itu, etnis lain (yang tidak mengenal strata bahasa), merefleksikan sikap hormatnya hanya melalui gerakan tubuh. Yang pasti, perilaku verbal (dengan bahasa) dan perilaku nonverbal (dengan tingkahlaku) manusia sering memperlihatkan kesinkronannya.

Contoh kesinkronan antara perilaku verbal (dengan bahasa) dan perilaku nonverbal (dengan tingkahlaku) dapat ditemukan pada pemakaian kata tabik dan halo. Pada umumnya, orang (terutama Indonesia) sudah secara otomatis akan menundukkan kepalanya (bahkan kadang-kadang juga masih diikuti dengan sedikit membungkukkan badan) pada saat mengucapkan tabik. Gerakan yang sama praktis tidak pernah dilakukan pada saat mengucapkan halo. Mengapa? Karena kata halo merefleksikan gerakan tubuh orang Eropa (Inggris): mendongakkan kepala, bukan menundukkan kepala.

Setakat ini kata tabik mulai jarang digunakan. Tabik (dan kata-kata sejenisnya, seperti selamat pagi/siang/malam) telah tergusur oleh halo. Padahal, pengucapan halo yang mengharuskan kepala terdongak itu, bagi sebagian besar orang Indonesia, masih diyakini sebagai salah satu refleksi kecongkakan dan kesombongan. Membiasakan penggunaan halo, dengan demikian, sama artinya dengan membiasakan orang (Indonesia) berlaku congkak dan sombong, menjauhi kesopanan dan kesantunan.

Persoalan lain yang menarik dari fenomena ini adalah adanya kecenderungan masyarakat untuk tampil dalam ketidakberbedaan. Kecenderungan ini kemudian melahirkan hubungan-hubungan yang sederajat dan terlepas dari struktur sosial, baik kasta, kelas, maupun tingkat-tingkat hierarkis lainnya. Modalitas hubungan sosial yang hadir di dalamnya adalah masyarakat yang antistruktur, yaitu masyarakat sebagai komunitas, bukan masyarakat sebagai societas. Persekutuan antarindividu dalam masyarakat tidak bersifat hierarkis (yang pada umumnya dipilah-pilah atas dasar penilaian “rendah/kurang” atau “tinggi/lebih”), tetapi bersifat sederajat. Dengan demikian, sering terjadi perjalanan hidup seseorang terbentuk melalui dialektika antara struktur dan komunitas.

Dialektika seperti itulah yang membentuk perjalanan hidup sebagian masyarakat Indonesia akhir-akhir ini: bergerak dari struktur ke komunitas. Hal itu, antara lain, dapat dilacak melalui penggunaan bahasanya. Penggunaan pronomina persona yang dipakai Eko dan Claire (tokoh-tokoh dalam Jalan Menikung [Umar Kayam, 1999]), misalnya, merupakan bentuk-bentuk yang sangat ekspresif untuk memperlihatkan hal itu. Perhatikan kutipan berikut ini.

Mbok perusahaan itu buka cabang yang mengurus Asia Tenggara dari sini, Ko. Atau paling tidak di Singapura begitu. Jadi, bapak-ibumu bisa dekat dari kalian.”

“He, he, Ibu. Kalau perusahaan itu punya saya atau taruhlah Alan Bernstein, mungkin bisa diatur. Ini milik pemegang saham bule-bule ….”

“… dan Yahudi, kan? Eh, eh, Papi, Papi. Claire, oh Claire, maafkan Ibu, ya?”

“Aha, tidak apa, Bu. Tidak apa. Saya memang seorang Amerika-Jewish, kan?”

(hlm. 109—110)

Pada kutipan itu terihat bahwa ketika berbicara dengan Eko dan Claire, Sulistianingsih (ibu Eko) mempergunakan bentuk persona kedua: kalian (untuk Claire dan Eko) serta mempergunakan bentuk honorifik: ibu (untuk dirinya sendiri). Sebaliknya, karena statusnya lebih rendah (sebagai anak dan menantu), Claire dan Eko hanya dimungkinkan untuk menggunakan bentuk saya (untuk diri sendiri) dan bentuk honorifik: (i)bu, bukan kamu atau engkau, (untuk ibu dan mertuanya).

Pronomina kekuasaan (pronouns of power) seperti itu, menurut Brown dan Gilman (dalam Budiman, 1994:37), berlawanan dengan pronomina solidaritas (pronouns of solidarity). Jika pronomina kekuasaan memperlihatkan adanya hubungan hierarkis: tinggi-rendah, pronomina solidaritas memperlihatkan adanya hubungan antarindividu yang sederajat dan tanpa perbedaan status. Sifat hubungan antistruktur (tidak membeda-bedakan status) itu merupakan tanda adanya komunitas, seperti tampak pada hubungan Eko, Claire, dan Alan Bernstien. Ketiganya cukup menggunakan bentuk persona pertama: aku atau saya (untuk dirinya) dan bentuk persona kedua: kamu, engkau, kalian, atau nama diri (jika saling mengacu), seperti tampak pada kutipan berikut.

Eko dan Claire melongo mendengar perkataan Alan Bernstein.

“Maksud, Alan?”

“He, he, he. Kalian berdua akan dikirim berbulan madu ke Tokyo, Taipeh, Hongkong, Singapura, Kualalumpur, dan Jakarta.”

Mereka berteriak bersama.

Alan! Yang benar!”

(hlm. 72)

 

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antistruktur (tidak membeda-bedakan status) seperti itu tampak dengan jelas diperagakan oleh para penyiar/pembawa acara di hampir semua media massa elektronik yang melakukan wawancara/dialog. Dalam acara-acara itu mereka selalu menggunakan bentuk persona pertama: aku atau saya (untuk dirinya) dan bentuk persona kedua: Anda saat menyapa orang yang diwawancarai. Bentuk honorifik, seperti bapak dan ibu, tidak lagi mereka gunakan. Siapa pun yang mereka wawancarai (tidak terkecuali presiden, menteri, orang tua, dan anak-anak), disapanya dengan Anda.

Pertanyaannya sekarang adalah mungkinkah bergesernya sifat hubungan masyarakat, yang semula bersifat societas (terstruktur) menjadi komunitas (antistruktur), seperti itu terkait dengan isu memudarnya rasa nasionalisme, jatidiri, serta karakter sebagian besar bangsa Indonesia yang tersiar akhir-akhir ini? Wallahu alam bissawab.

 

Written by kbplpengkajian

Juli 13, 2011 pada 12:34 pm

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: