Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pembobolan dan Penggelapan

leave a comment »

HARI-HARI terakhir kita akrab dengan istilah pembobol dan pembobolan. Istilah ini dikutip media ketika memberitakan kasus-kasus penggelapan dana milik nasabah bank.

Pembobol dan pembobolan juga digunakan untuk menyebut kasus-kasus penggelapan surat kredit (L/C) fiktif yang merugikan bank dan negara bila bank tersebut milik negara. Dalam kasus penarikan dana nasabah melalui ATM oleh orang yang tidak berhak, juga digunakan istilah pembobol dan pembobolan.

Apa sebenarnya arti kata bobol dan variannya, yakni membobol, membobolkan, kebobolan, pembobol, dan pembobolan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBIonline, bobol diartikan sebagai jebol atau rusak, dapat juga diartikan sebagai tembus.

Pembobol sudah tentu pelaku yang menyebabkan terjadinya bobol. Pembobolan adalah proses, atau cara, atau perbuatan membobol. Nah, membobol berarti menjebol atau merusak, menembus, dan merusak dengan kekerasan, atau membongkar dengan paksa.

Kalau kita sepakat dengan makna harfiah dan denotatif dari bobol menurut KBBI, maka saya dapat membuatan catatan: kata bobol digunakan dalam aspek-aspek yang bersifat fisik dan memaksa.

Dalam konteks kejahatan, istilah bobol hampir satu konteks dengan rampok atau curi, yakni sama-sama mengambil milik orang lain yang bukan haknya, dan melakukan tidakan yang bersifat memaksa dan bersifat fisik. Memaksa, karena tindakan ini dilakukan tanpa izin, dan dalam istilah rampok dilakukan dengan paksaan. Bersifat fisik, maknanya curi dan rampok dilakukan dengan mengambil milik seseorang tanpa izin dalam bentuk fisiknya.

Sifat memaksa dan aspek fisik dari istilah pembobolan rasanya kurang tepat digunakan dalam konteks kejahatan perbankan. Kejahatan perbankan sebagaimana dikatakan Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Arief Sulistyo dalam laman Metrotvnews.com (6-4) tidak dilakukan secara fisik seperti merampok atau mencuri.

Pembobolan dilakukan dengan berbagai macam modus, seperti pegawai bank mencairkan dan mentransfer dana nasabah tanpa izin, mengirimkan berita teleks palsu untuk membuka rekening pinjaman modal kerja, termasuk memberi kartu kredit dengan identitas palsu dan jaminan fiktif.

Dalam konteks pembobolan ATM seperti yang marak terjadi beberapa waktu lalu, modus yang dilakukan pelaku umumnya memindai nomor PIN ATM untuk digunakan tanpa seizin nasabah. Jelaslah bahwa modus yang dilakukan bersifat memanfaatkan sistem operasional bank. Dana yang hilang bukan diambil berbentuk uang, melainkan melalui proses sistem operasional bank yang dimanipulasi.

Jadi, mengapa media-media kita “nekat” menggunakan kata pembobol, atau pembobolan? Sebelum istilah pembobolan lazim digunakan, kita lebih dulu mengenal kata penggelapan. Saya menduga istilah pembobolan dan penggelapan digunakan sebagai eufemisme. Eufimisme cenderung melahirkan istilah-istilah yang ternyata keliru dan menjadi kaprah.

KBBI telah mengakomodasi makna konotatif dari penggelapan yang tidak semata-mata berarti tidak ada cahaya, belum jelas atau rahasia, melainkan juga sebagai perilaku penyelewengan dan korupsi.

Bila opsinya KBBI harus “menyerah” pada perilaku berbahasa kita, istilah pembobolan hingga hari ini keliru dan tak sesuai kaidah sebelum makna konotatifnya ditambahkan dalam KBBI. Selama KBBI belum “menyerah” sudah seharusnya kita dan terutama media tidak membobol makna istilah penggelapan yang disubtitusikan menjadi pembobolan.

Written by kbplpengkajian

Agustus 3, 2011 pada 7:50 pm

Ditulis dalam Febrie Hastiyanto

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: