Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Politik Dagang Sapi

leave a comment »

Rabu, 14 Agustus 2013

             Sungguh kreatif masyarakat Indonesia menciptakan istilah. Berbagai hal bisa menjadi inspirasi pembentukan istilah. Dalam pedoman umum pembentukan istilah dinyatakan bahwa istilah adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama atau lambang dan yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Dalam pembentukan istilah perlu diperhatikan persyaratan dalam pemanfaatan kosakata bahasa Indonesia, yakni istilah yang dipilih adalah kata atau frasa yang paling tepat untuk mengungkapkan konsep termaksud dan yang tidak menyimpang dari makna itu, kata atau frasa yang dipilih adalah yang paling singkat di antara pilihan yang tersedia yang mempunyai rujukan yang sama, kata atau frasa yang dipilih bernilai rasa baik, sedap didengar, dan seturut kaidah bahasa Indonesia.

Sebagai sumber pembentukan istilah ini, berbagai laras bahasa dapat dijadikan sumber. Hewan, tumbuhan, alam, budaya, dan tokoh tertentu dapat dijadikan sumber dalam pembentukan istilah. Lalu bagaimana istilah-istilah ini terbentuk? Dalam dunia politik, misalnya, belakangan kita akrab dengan istilah politik dagang sapi dan politik sengkuni.

Politik dagang sapi merupakan adaptasi dari peristiwa budaya di Sumatera Barat yang berkaitan dengan peristiwa jual beli secara tertutup ala dagang sapi. Menurut Fachrul Rasyid H.F.(2013) dalam transaksi ini toke ternak biasanya mem­bawa kain sarung. Saat transaksi berlangsung, antara pembeli dan penjual bersalaman sembari tangan mereka ditutupi sarung. Yang terjadi saat mereka bersalaman di bawah sarung itu adalah tawar-menawar harga menggunakan isyarat jari tangan. Penggunaan sarung dimaksudkan untuk menjaga hubungan antarpedagang sapi yang mungkin sudah menawar sapi tersebut. Ke­mudian mereka  sa­ling tersenyum dan mem­bubarkan diri. Uang dise­rah­kan dan sapi pun berpindah tangan. Tran­saksi selesai.

Peristiwa dagang sapi inilah yang kemudian dianggap relevan dengan percaturan politik di Indonesia. Bedanya, jika dalam dagang sapi terjadi transaksi antara penjual dan pembeli, dalam politik dagang sapi yang terjadi adalah tawar-menawar antara partai politik berkaitan dengan keputusan-keputusan tertentu.

Uniknya, politik dagang sapi ini kemudian juga dikaitkan dengan peristiwa politik yang baru-baru ini terjadi, yakni kasus suap impor daging yang disangkakan terhadap seorang politikus. Dalam hal ini, politik dagang sapi tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa politik tertentu, tetapi juga dikaitkan dengan perdagangan sapi dalam arti sesungguhnya.

Menilik peristiwa-peristiwa ini, adakah istilah tertentu yang berakar dari budaya masyarakat akan selalu dapat dikaitkan dengan peristiwa lain dalam kehidupan dunia yang baru? Entahlah, paling tidak kita bisa lebih menelaah proses pembentukan istilah-istilah lain semisal politik sengkuni, pencucian uang, dan pasar gelap.

Written by kbplpengkajian

September 8, 2013 pada 4:57 pm

Ditulis dalam Yulfi Zawarnis

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: