Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Menggugat BH

leave a comment »

Rabu, 15 Mei 2013

Dari seloka berbahasa Jawa Kuno yang dipengaruhi bahasa Sansekerta, Mpu Tantular menulis dalam Kakawin Sotasoma sebagai berikut: Rwāneka dhātu winuwus Buddha/ Wiswa Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen/ Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal/ Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Maksudnya: Kewujudan Buddha dan Dewa Siva dilihat berbeda/ Tentu berbeda tetapi kebenaran boleh dikenal pasti/ Sebab kebenaran Buddha dan Siva satu jua/ Kelihatan beraneka tetap satu jua, itulah kewajiban.

Kalimat Kelihatan beraneka tetap satu jua itulah yang kemudian dijadikan semboyan oleh pendiri bangsa sebagai analogi dari beranekanya  suku bangsa dan bahasa yang ada di Indonesia. Maka sejak itu ( mulai Ejaan van Ophuijsen,1901- 1947, Ejaan Soewandi, 19 Maret 1947- 1972, hingga Ejaan Yang Disempurnakan, 16 Agustus 1972- saat ini),  kata Bhinneka,  dalam buku-buku pelarjaran PPKn, PMP, spanduk, baliho, dan lain sebagainya, ditulis dengan gugus konsonan /bh/..

Tulisan sederhana ini hanya menyoal gugus konsonan /bh/ yang sampai saat ini masih melekat pada kata–kata tertentu seperti: bhineka, bhayangkara, bhayangkari, bhakti bhisma (nama orang). Gugus konsonan diartikan sebagai dua gabungan konsonan atau lebih yang termasuk dalam satu suku kata yang sama. Jadi jika gabungan konsonan seperti itu tidak termasuk dalam satu suku kata, maka gabungan itu tidak dinamakan gugus.

Gugus konsonan dalam bahasa Indonesia, merujuk pada Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Edisi 3, karangan Hasan Alwi dkk., 2008, Konsonan pertama, terbatas pada konsonan hambat seperti: /p, b, t, d, k, g/, dan konsonan frikatif (desis) /f, dan s/. Konsonan kedua terbatas pada konsonan /r, l, w, s, m, n, f, t,k/.

Sedang untuk konsonan /b/ gugus konsonan yang ada adalah: /bl/ dan /br/. Gugus konsonan /bl/ dapat kita jumpai pada kata: blambangan, blangkon, gamblang, blazer, blirik (bintik-bintik hitam putih untuk bahan, kain,bulu binatang). Gugus konsonan /br/ dapat kita jumpai pada kata: brahmana, obral, brem, brankas, bramacorah, brengsek, brigade, brewok, brokoli, brosur, brutal, dan lain sebagainya.

Bila konsonan /b/ hanya dapat digabungkan dengan konsonan /l/, dan /r/ , seperti contoh kata di atas, maka gugus konsonan /bh/ dari mana asalnya?  Merujuk pada penulisan unsur serapan (salah satu aspek dari EYD), memang bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, seperti bahasa daerah dan bahasa asing seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris.

Dari bahasa asing kita menyerap gugus konsonan: /ch/ menjadi /s/ (bila lafalnya /s/ atau /sy/), /ch/ menjadi /c/ (bila lafalnya /c/),  /gh/  menjadi /g/, /kh/ tetap /kh/ (Arab), /ph/, menjadi /f/, /ps/ tetap /ps/, /rh/ menjadi /r/, /th/ menjadi /t/, /xc/ di muka /e/ dan  /i/ menjadi /ks/.

Ada apa dengan gugus konsonan /bh/  dalam kata bhineka, bhayangkara, bhayangkari, yang dalam unsur serapan tidak dijumpai tetapi tetap ditulis /bh/?

 

 

 

 

Written by kbplpengkajian

September 8, 2013 pada 4:59 pm

Ditulis dalam Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: