Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Binatang Meninggal Dunia

leave a comment »

Rabu, 12 Juni 2013

ayangan acara  “On the Spot” pada Trans7 tanggal 20 Maret 2013 lalu yang bertajuk “7 Aksi Hewan Terunik” menggelitik rasa bahasa saya. Narator berkisah tentang seekor (maaf!) babi yang mempunyai aksi unik, yang lazimnya hanya dilakukan manusia, misalnya bisa memasukkan bola ke gawang, membantu membuang sampah kecil di rumah, dan beraktivitas lain yang mencengangkan orang. Binatang itu menjadi terkenal dan bersama tuannya sering diundang pada acara televisi.

Pada penghujung cerita itu, salah satu penggalan ucapan narator adalah, “(…) babi itu meninggal dunia!”. Kami sekeluarga yang senang menonton acara itu berkomentar macam-macam seputar pernyataan itu.

Kita mafhum bahwa ada banyak kata, frasa, ungkapan, dan kalimat yang kadang tidak berterima (acceptable) di telinga orang Indonesia. Ketidakberterimaan itu mungkin karena faktor nuansa makna pada suatu kata ataupun faktor lain, seperti faktor budaya kita yang tidak atau belum dapat menerimanya.

Ada sejumlah kata atau frasa yang tidak dapat secara serampangan digunakan. Dalam kelompok konsep makna ‘kehilangan nyawa; tidak bernyawa’, misalnya, terdapat mati, mampus, tewas, berpulang ke rahmatullah, gugur, mangkat, meninggal dunia, pergi, berpulang, dan (mati) syahid, bahkan (bentuk kasar dan tidak baku): koit dan modar—keduanya dari bahasa daerah.

Marilah kita bersepakat: sejumlah kata dan frasa dengan satu makna umum itu tidak dapat digunakan secara acak. Maujud (entity) bahasa itu harus muncul dengan paduannya yang cocok; bagaimana konteksnya ikut berpengaruh. Dalam bahasa linguistiknya, bentuk tersebut ada kalanya juga harus muncul dengan kolokasi yang tepat.

Mati digunakan untuk manusia dan binatang. Namun, dalam konteks tertentu dan subjeknya apa atau siapa yang ‘kehilangan nyawa’, kita perlu berhati-hati dan menerapkan bukan hanya kaidah gramatikal, semantik, atau sekadar rasa  bahasa, tetapi juga budaya yang mendukung diksi kita. Jadi, penumpang bus yang mengalami kecelakaan atau seseorang yang terbunuh sehingga kehilangan nyawanya, kita sebut tewas. Ulama yang  meninggal lazim disebut berpulang ke rahmatullah. Raja yang amat dicintai rakyatnya diungkapkan Raja itu mangkat. Orang yang meninggal karena membela agamanya dikatakan (mati) syahid, hampir tidak pernah dinamai meninggal dunia, mangkat, apalagi mampus. Karena perasaan kesal atau sakit hati, orang lantas kerap menyebut penjahat yang mati tertembak dengan mampus, tewas,  atau mati saja, bahkan koit dan modar! Umat Kristiani menyebut kerabat yang meninggal dengan Si A telah pulang ke rumah Bapa di surga.

Samakah konsep makna ‘aktivitas yang menggunakan mata’: melihat, menonton, mengawasi, mengintip, menoleh, dan mendelik? Orang yang sehat dan fasih berbahasa akan menyatakan bahwa ada nuansa makna renik yang berbeda pada kata yang sekerabat itu. Dalam konteks ini, kita berurusan dengan  kesinoniman. Kata para pakar bahasa, tidak ada sinonim yang sama persis seratus persen. Contoh lain, memasak dan menanak. Anda memasak sayuran ataupun memasak air. Namun, orang menggunakan menanak hanya untuk nasi, bukan? Pernahkah Anda menanak air?

Kusni Kasdut, penjahat kambuhan itu, tentu aneh jika kematiannya diungkap dengan, misalnya: “Kusni Kasdut telah berpulang ke rahmatullah”. Kawan yang usil bisa langsung menyeletuk, “Bisa langsung masuk surga dia!” Akan jadi lebih pilu lagi kalau Anda penyayang binatang berkata dengan perih di hari kematian hewan kesayangan, “Anjingku telah berpulang ke rahmatullah!” Kawan lain yang lebih usil lagi, berkata, “ Kalau begitu, penjahat dan binatang itu masuk surga barengan!”

 

 

Written by kbplpengkajian

September 8, 2013 pada 4:51 pm

Ditulis dalam Muhammad Muis

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: