Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Perempuan dan “Parapuwan”

leave a comment »

Rabu, 19 Desember 2012

            Saya sempat berkecil hati ketika mencoba membaca salah satu naskah kuno beraksara Lampung di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Berbekal buku Les Manuscrit Lampongs yang ditulis oleh Van der Tuuk pada tahun 1868 mengenai variasi aksara Lampung berdasarkan beberapa naskah kuno yang dihimpunnya, sebagai orang yang bukan berasal dari daerah Lampung saya memberanikan diri untuk mengeja rangkaian huruf Ka Ga Nga dalam naskah bernomor 69 yang disimpan pada Peti 97.

Setelah mencoba mengeja beberapa kalimat pada naskah kuno tersebut, saya pun menyadari bahwa teks pada naskah kuno beraksara Lampung yang saya baca menggunakan bahasa Melayu. Melalui penelusuran lembar demi lembar yang saya lakukan pada naskah kuno tersebut, saya mendapatkan sebuah kata yang sangat menarik, yaitu kata parapuwan.

Kata parapuwan yang terdapat pada teks tersebut mengacu pada kata perempuan yang lazim kita gunakan hingga saat ini. Kata perempuan itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; istri atau bini; betina (khusus untuk hewan). Berdasarkan asal katanya perempuan konon berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu mpu.

Terbersit dalam hati saya, kata parapuwan dalam naskah kuno yang saya baca dapat menunjukkan bahwa kata perempuan bukanlah berasal dari kata mpu, tetapi berasal dari bahasa Melayu puwan. Penggunaan kata parapuwan dalam teks kuno tersebut selalu disandingkan dengan kata lalaki-laki. Oleh sebab itu, saya berkeyakinan perempuan dan parapuwan memiliki arti yang sama.

Saya pun kembali mencermati kata demi kata dalam teks kuno tersebut untuk mendapatkan keyakinan mengenai asal kata parapuwan. Akan tetapi, tampaknya dugaan awal saya mengenai asal kata puwan untuk parapuwan tidaklah terbukti. Setelah saya menelisik beberapa kata pada teks kuno tersebut, seperti sapurana untuk sempurna, ka sabilan untuk ke sembilan, dan ka duwalapan untuk ke delapan, saya melihat adanya suatu pola pembentukan kata yang tak lazim karena gejala bahasa Melayu yang terjadi pada teks tersebut.

Gejala bahasa Melayu yang terjadi dengan adanya pelesapan konsonan m  dan pengubahan vokal e menjadi a menghasilkan bahasa Melayu yang khas pada teks kuno tersebut. Selain itu, kekhasan bahasa Melayu yang digunakan dapat menunjukkan bahwa bahasa daerah lain turut memengaruhi penggunaan bahasa Melayu itu sendiri. Berdasarkan hal itu, pada akhirnya kita pun mengetahui bahwa parapuwan bukanlah suatu kata yang memiliki asal kata berbeda dengan perempuan. Akan tetapi, kata parapuwan adalah kata yang terbentuk akibat gejala bahasa Melayu yang terjadi pada teks kuno tersebut.

Penggunaan kata parapuwan untuk perempuan, sapurana untuk sempurna, ka sabilan untuk ke sembilan, dan ka duwalapan untuk ke delapan mungkin tidak akan pernah kita ketahui tanpa membaca kembali naskah-naskah kuno, khususnya naskah kuno beraksara Lampung. Selain itu, masih banyak berbagai hal menarik yang tersimpan di dalam naskah kuno yang menanti kepedulian kita untuk mengungkapnya. Jadi, mari kita gali kekayaan yang terkandung pada naskah kuno beraksara Lampung dengan membacanya.

 

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 pada 2:02 am

Ditulis dalam Lisa Misliani

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: