Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Archive for Juli 2013

Bentuk Singkat

leave a comment »

Rabu, 20 Maret 2013

Di dalam aktivitas berbahasa sehari-hari orang sering kali menggunakan bentuk-bentuk singkat.  Disadari atau tidak penggunaan peranti kebahasaan seperti itu memang, selain disukai, terasa efisien dan sah saja. Bahkan, ada kalanya orang dalam pertuturannya, terutama dalam pertuturan lisan, sengaja menggunakan bentuk itu.

Sebenarnya, apakah bentuk singkat itu? Bentuk  singkat adalah bentuk kebahasaan yang disingkat, baik secara lisan maupun tulis. Beberapa contoh bentuk singkat adalah lab, prof, faks, dok, dan  perpus. Bentuk-bentuk itu secara berurutan berasal dari bentuk utuh laboratorium , profesor, faksimile, dokter, dan perpustakaan. Bentuk singkat bukan hanya terdapat di dalam bahasa Indonesia, tetapi  juga terdapat di dalam bahasa Inggris, misalnya bentuk lab (bentuk singkat laboratorium) dan prof (bentuk singkat professor).

Kata-kata sapaan yang menunjukkan hubungan kekerabatan, seperti Bapak, Ibu, Emak, Nenek, Bibi, Abang, Kakak, dan Ayuk, sering juga digunakan bentuk singkatnya, yakni  Pak, Bu, Nek, Bi, Bang, Kak, dan  Yuk. Bahkan, tatkala menyertai nama bentuk singkat itu—terutama dalam bahasa lisan– lazim pula digunakan, misalnya Pak Ahmad (bentuk lengkapnya Bapak Ahmad), Bu Neli (lengkapnya Ibu Neli), Mak Erot (bentuk lengkapnya Emak Erot), Nek Birah (bentuk lengkapnya Nenek Birah), Kak Imam (selengkapnya Kakak Imam), dan Yuk Nabila (asalnya Ayuk Nabila).

Akan tetapi, pernahkah Anda mendengar orang menyingkat bentuk Paman dengan Man dan Tante dengan Te? Saya kira bentuk itu hanya muncul di dalam bahasa lisan. Yang sering adalah bentuk man pada  nama orang, misalnya Maman atau Herman—yang dipanggil dengan panggilan suku belakangnya, yakni Man, sebab di dalam bahasa Indonesia orang cenderung memanggil nama orang dengan suku belakang. Bukankah Dadang sering dipanggil Dang dan Anton sering disapa Ton? Mungkin lucu juga jika suatu ketika ada bentuk singkat Man untuk Paman di dalam bahasa tulis. Namun, jika suatu hari pula kelak masyarakat bahasa kerap menggunakannya—sehingga menjadi konvensi dan misalnya dibakukan—siapa pula yang berani menolak bentuk itu?

Menarik juga untuk dicatat bahwa bentuk singkat dari kata Paman dan Tante tidak pernah muncul dalam bahasa tulis. Pernahkah Anda membaca, misalnya kalimat Man Hidayat sedang membaca?. Man di sini maksudnya bentuk singkat Paman. Sudah adakah bentuk kalimat, misalnya Te Ani memasak nasi. Anda agaknya sepakat dengan saya bahwa bentuk itu belum pernah ada, bukan? Yang lebih menarik lagi bahwa bentuk Mamang atau Amang, yang bermakna ‘paman’—yang berasal dari bahasa daerah—justru muncul dalam bentuk singkat, misalnya Mang Uus atau Mang Udin. Padahal, Paman juga berasal dari bahasa Indonesia. Tante, setahu saya, memang bukan kata asli Indonesia.

Tentu saja perlu ditegaskan bahwa bentuk singkat haruslah berasal dari kata yang  lebih dari satu suku. Itulah sebabnya,  Om dan Mas tidak ada bentuk singkatnya. Jangan pula bentuk Mas (untuk menyapa pria suku Jawa) seperti pada Mas Yon, misalnya,  Anda kira semula berasal dari Emas Yon. Emas itu  tentu barang mahal yang lain lagi, bukan Mas Yon dari Jawa  yang bisa tersenyum dan berlari maraton.

 

*Muhammad Muis adalah peneliti bahasa dan kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kemdikbud

 

Bandarlampung, 11 Maret 2012

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:22 am

Ditulis dalam Muhammad Muis

Tagged with

Nikah Siri

leave a comment »

Rabu, 20 Februari  2013

            Pemberitaan mengenai kasus nikah siri seorang pejabat yang berakhir dalam waktu singkat menghiasi media massa pada beberapa pekan lalu. Diskursus mengenai nikah siri pun menjadi topik hangat di berbagai forum diskusi dan seminar. Nikah siri menjadi problematika masyarakat sosial yang mengemuka di penghujung tahun 2012.

            Fenomena nikah siri ini juga menarik untuk dilihat dari sisi kebahasaan. Tentu yang dilihat adalah penulisan kata “siri” di belakang kata nikah. Beberapa orang menganggap penulisan nikah siri yang paling afdal adalah dengan dengan menambahkan huruf r pada kata siri menjadi sirri. Alasan yang mereka kemukakan adalah bahwa kata sirri dipungut dari akar kata bahasa Arab sirrun (bentuk tunggal) dan asrârun (bentuk plural) yang bermakna rahasia. Berdasarkan asal kata tersebut, penulisan yang tepat menurut mereka adalah nikah sirri (dengan dua huruf r). 

             Asal kata nikah siri sebagaimana yang diungkapkan di atas memang benar berasal dari bahasa Arab. Kata siri, dalam Kamus Al-Munawir, berasal dari kata sirrun (rahasia), sirron (dengan diam-diam), dan as-sirriyyu (secara rahasia, sembunyi-sembunyi, misterius). Namun, perlu diingat juga bahwa bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah diatur dalam Pedoman Umum EYD berupa cara penulisan unsur serapan.  Di antara aturan penulisan unsur serapan yang terdapat dalam buku tersebut dinyatakan bahwa konsonan ganda menjadi konsonan tunggal kecuali kalau dapat membingungkan. Berdasarkan aturan baku tersebut, penulisan yang benar adalah nikah siri karena kata sirru, sirron, dan as-sirriyyu telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Keabsahan kata siri yang telah diserap bahasa Indonesia ini semakin dikukuhkan dengan dicantumkannya kata tersebut ke dalam KBBI. Kata siri ditemukan dalam sublema ni.kah siri yang bermakna pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, dan menurut agama Islam sudah sah.

Persoalan dihilangkannya konsonan ganda ini tidak hanya terjadi pada kata siri, tetapi juga pada kata yang berasal dari bahasa Arab lainnya. Contoh kata yang dihilangkan konsonan r adalah Muharam (Muharram) dan silaturahmi (silaturrahîm). Terdapat juga contoh lain seperti, amabakdu (ammâba’du), alaihi salam (‘alaihissalâm), bisawab (bisshawâb), hurah (hurrah), kisah (qissah), kalimatusyahadat (kalimatussyahadah), dan wasalam (wassalâm). Namun, aturan ini ternyata tidak diberlakukan pada semua kata yang berasal dari bahasa Arab. Dalam KBBI ditemukan beberapa kata yang huruf konsonan gandanya tetap dipertahankan, misalnya assalamualaikum, allahuma, dan bismillah. Uniknya, kata wasalam sebenarnya diserap dari kalimat yang sama yaitu assalamualaikum, tetapi perlakuannya dibedakan. Ya sudahlah, yang penting jangan pernah (menulis) nikah sirri ya!

 

Mahasiswa

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:19 am

Ditulis dalam As. Rakhmad Idris

Tagged with

Makan Mas Yon

leave a comment »

Rabu, 23 Januari 2013

“Makan Mas Yon, yuk,” ujar seorang teman di suatu siang. Mendengar ajakan itu, saya tertegun sesaat lalu tertawa. Bagaimana tidak, Mas Yon kok dijadikan santapan siang. Seperti zombie, mahluk pemakan manusia, di serial televisi saja. Tertawa karena sadar ajakan teman sebenarnya untuk menyantap mi ayam Mas Yon. Kalau soal itu sih, saya tak sanggup menolak. Selain nikmat dan harga terjangkau, lokasinya juga tak terlalu jauh. Klop, deh.

Di kesempatan berbeda, kakak ipar meminta diambilkan jarum cokelat di atas meja ruang kerjanya. Lebih dari 10 menit mencari benda yang dimaksud. Alih-alih bertemu jarum berwarna cokelat, jarum jahitpun tidak ada. Ternyata, benda yang dimaksud adalah rokok bermerek “Djarum Coklat”. Menahan rasa kesal saya bergumam “Sampai besok tidak mungkin saya temukan jarum yang saya pahami”.

Sebenarnya, gaya berbahasa seperti ini lazim saja terjadi. Sebab dalam bahasa Indonesia dikenal majas metonimia. Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau label sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut. Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut. Dalam KBBI dijelaskan metonimia merupakan majas yang berupa pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal sebagai penggantinya, misal Ia menelaah Chairil Anwar (karyanya); olahragawan itu hanya mendapat perunggu (medali perunggu). Persoalannya, saat lawan bicara tidak mampu menerjemahkan maksud kita bisa saja kelaziman itu menjadi “bencana”.

Metonimia juga kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari. Saat ingin menyikat gigi, kita terbiasa mengucapkan Odol ketimbang pasta gigi. Padahal Odol adalah merek produk kesehatan gigi produksi Jerman yang mulai beredar pada tahun 1892. Produk ini masuk ke Indonesia melalui Belanda dan sempat sangat terkenal di Indonesia. Saking terkenalnya, alih-alih menggunakan kata bahasa Belanda tandpasta yang sulit dilafalkan, merek ini akhirnya dipakai sebagai nama generik untuk merujuk kepada pasta gigi. Meskipun merek ini sudah lama tidak beredar di Indonesia, nama Odol tetap abadi sebagai metonimia untuk pasta gigi.
Kaum ibu juga lebih terbiasa mengucapkan Rinso saat ingin membeli detergen. Begitupula pelajar selalu menyebutkan Pilot untuk mendapatkan pena dan remaja putri lebih mengenal Softex ketimbang pembalut. Pada kalimat Ibu membeli sebungkus Rinso di warung, kata Rinso bukanlah bermakna benda bermerek Rinso melainkan detergen yang bisa saja bermerek jual lain. Begitupula kata Pilot serta Softex.

Sejatinya, kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang dipakai dalam berkomunikasi. Komunikasi itu sendiri setidaknya melibatkan pihak pertama dan pihak kedua. Komunikasi akan berjalan dengan baik apabila yang hal disampaikan oleh pihak pertama dapat diterima dengan “utuh” oleh pihak kedua. Sekarang tinggal pilih, menghirup (asap) kapal api atau meneguknya. Salam!

*Staf Kantor Bahasa Provinsi Lampung

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:16 am

Ditulis dalam Dian Anggraini

Tagged with

Kotak Hitam

leave a comment »

Rabu, 21 November 2012

Kata “kotak hitam” menjadi salah satu benda penting dalam peristiwa jatuh pesawat Sukhoi Jet 100. Karena di dalamnya terdapat banyak informasi yang dapat digunakan untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Kata  istilah kotak hitam, dari bahasa Inggris black box, merupakan kata serapan berupa pemadanan dengan penerjemahan. Kendati kata itu telah dipadankan dengan penerjemahan, black box  dan kotak hitam acap digunakan (bersamaan). Pertanyaannya perlukah istilah asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Topik ini akan dibahas dalam tulisan ini.

Bila dijelajahi dunia maya, kita acap dijumpai istilah, seperti  standby ‘siaga’, view ‘tilik’, review   ‘pratilik’,  search ‘telusur’, formula ‘rumus’, server ’peladen’  byte link ‘taut’, hard disk ’cakram keras’. Kemunculan istilah itu tentu berlatar belakang? Karena tidak ada satu pun bahasa memiliki kosakata yang lengkap dan tidak memerlukan ungkapan gagasan, temuan, atau rekacipta yang baru. Untuk itu, diperlukan serapan dari bahasa asing. Serapan itu dapat dilakukan dengan pemadanan. Pemadanan itu dapat dilakukan dengan penerjemahan, penyerapan, dan gabungan penerjemahan dan penyerapan.

Sebaliknya, apakah yang terjadi jika suatu bahasa tidak membuka diri (tidak melakukan pemadanan istilah asing? Dapat dipastikan, bahasa tertentu itu akan punah. Inilah salah satu alasan mengapa bahasa Indonesia perlu melakukan pemadanan istilah asing. Penerjemahan istilah asing dilakukan salah satu tujuaannya: pertama, untuk meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia dan kedua, memperkaya kosakata bahasa Indonesia dengan bermakna sama (dengan bahasa lain).

Proses penerjemahan istilah asing secara langsung dapat dilakukan dengan memilih, di antaranya sesuai konsep dan makna, singkat dan berujuk sama, bernilai rasa, eufonik, dan seturut kaidah. Pemadanan istilah asing dengan penerjemahan dapat dilakukan dengan: penerjemahan secara langsung; dan penerjemahan secara perekaan. Penerjemahan istilah asing secara langsung harus memperhatikan, yaitu penerjemahan sesuai bentuk dan makna, seperti customer servis ‘pelayanan pelanggan’, bonded zone ‘kawasan berikat’, stable ‘tidak goyang’, atau analysis ‘olah data’; sedangkan penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna, tetapi bentuknya tidak sepadan. Misalnya supermarket ‘pasar swalayan’, merger ‘gabungan usaha’, praclosing ‘pratutup’, basement ‘ruang bawah tanah’   (rubanah).

Akan tetapi perlu jadi perhatian bahwa penerjemahan makna isinya, bukan bukan penerjemahan bentuk asing semata-mata. Diikhtiarkan ada kesamaan dan kepadanan konsep, tidak hanya kemiripan bentuk luarnya atau makna harfiahnya. Pertama, penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata, seperti coffe morning ‘kopi temu pagi/ kopi pagi’, copyright ‘hak terbit’; sedangkan Istilah asing bentuk positif diterjemahkan ke dalam positif, begitu pula dengan bentuk asing negatif diterjemahkan bentuk negative, seperti abiotik ‘tidak hidup’  inartikulat ‘tidak berbuku’/ ‘tidak bersendi’, amarah ‘tidak marah’. Kedua, penerjemahan dengan perekaan, seperti factoring ‘anjak piutang’, catering ‘jasa boga’, invertion ‘rekacipta’.

Istilah asing melalui penerjemahan diperlukan, seperti istilah black box ‘kotak hitam’ di atas, untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan untuk meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia dalam berbagai bidang terutama bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

*Kantor Bahasa Provinsi Lampung

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:12 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Bantar

leave a comment »

Rabu, 23 May 2012

BANTAR secara definit dan konteks untuk bidang hukum menjadi rancu jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa, 2008. Akibatnya, konteks bantar tidak berarti dan tidak bermakna.

1) Penyakit ini diderita tersangka kasus penggelapan dana nasabah Citibank itu sejak sebulan lalu, sehingga Polri harus membantarkan penahanannya ke rumah sakit.

Insan jurnalis terkadang terperangkap pada penggunaan pilihan kata ketika menyampaikan berita. Tidak terkecuali mengutip perkataan narasumber an sich. Akibatnya, konsumen berita pun menelan pernyataan yang sudah tersurat. Kasus seperti ini memunculkan salah kaprah berbahasa.

2) Penahanan cicit Pak Harto dibantarkan.

3) Penyidik pun membantarkan penahanan cicit mantan Presiden Soeharto yang tersangkut kasus narkoba berdasarkan rekomendasi dokter.

Secara sekilas tiga contoh pernyataan tersebut benar secara aturan struktur kalimat. Tetapi, contoh kalimat tersebut tidak berterima. Ketidakberterimaan ini merujuk perincian arti yang dituliskan dalam kamus (KBBI, 2008). Lema “bantar” termasuk kata arkais (tidak lazim dipakai lagi; kuno). Bantar mengacu dua bidang, yakni kesehatan dan hukum.

Dalam lingkup kesehatan, bantar (verba membantar) berarti menolak atau mencegah penyakit. Sebagai kata benda, pembantar berarti pencegah, penangkal. Pembantar demam berarti pencegah demam. Pembantar tikus berarti kucing yang sengaja dipelihara sebagai penangkal tikus.

Dalam arti khusus lingkup hukum, pembantaran berarti penangguhan masa penahanan. Berdasarkan rujukan arti kamus, tiga contoh kalimat tadi jelas salah. Ada empat alasan pokok, (1) secara kata kerja (verba) bantar tidak lazim, tidak biasa, kuno, tidak dipakai lagi dalam ragam lisan praktek berbahasa, (2) untuk bidang hukum nasional, tidak ada pemutakhiran arti dari segi kebahasaan di bidang perundang-undangan, (3) ada salah konsep dan salah konteks materi, (4) ada kemubaziran diksi dan arti dalam kamus.

Di sisi lain, KBBI juga mendua. Perhatikan kutipan berikut, ban.tar ark v, mem.ban.tar v menolak (mencegah) penyakit dsb; pem.ban.tar n pencegah; penangkal. Pencantuman dsb. (dan sebagainya) ini membuat kamus menjadi tidak jelas, tidak berwibawa, tidak mencerminkan ranah intelektual. Singkatan dsb. semata-mata alibi kebodohan, kemalasan berpikir, karena ini adalah dunia kamus. Seyogianya, setiap lema kata dituliskan definit; bukan undefinit dengan singkatan dsb.

Akibatnya, terjadilah bukti salah kaprah itu, yakni main serobot arti dan saling tukar penggunaannya dalam kalimat. Alasan pertama dan kedua bisa ditoleransi asalkan konsisten menempatkan arti kata dan penggunaannya seturut yang dituliskan kamus. Alasan ketiga dan keempat sering terjadi berulang-ulang karena kita malas mengecek silang dengan data entri kata dalam kamus.

Perbaikannya, tiga contoh kalimat tersebut harus menggunakan kata benda dari kata dasar bantar, yaitu pembantaran. Alasan zakeleknya bahwa kata berimbuhan pembantaran hanya mempunyai definisi khusus untuk diterapkan di bidang hukum. Jadi, kalimat tersebut tetap salah jika tetap memaksakan kata kerja bantar untuk konteks hukum.

Bandingkan dengan konteks pembenaran berikut.

1) Penyakit ini diderita tersangka kasus penggelapan dana nasabah Citibank itu sejak sebulan lalu, sehingga Polri harus melakukan pembantarannya ke rumah sakit.

2) Penyidik melakukan pembantaran terhadap cicit Pak Harto.

3) Penyidik pun melakukan pembantaran terhadap cicit mantan Presiden Soeharto yang tersangkut kasus narkoba berdasarkan rekomendasi dokter. ***

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:09 am

Ditulis dalam Anton Suparyanta

Tagged with

Haji

leave a comment »

Rabu, 24 Oktober 2012

Ada apa dengan kata haji? Dalam kehidupan berbahasa, terutama dalam masyarakat Lampung, terdapat pemakaian yang beragam. Keberagaman itu terlihat dalam pemakaian bahasa tulis. Sekadar contoh penyingkatan kata haji, penulisan gelar sosial untuk orang yang telah beribadah haji, ditulis Hi. dan H. Apakah penulisan singkatan itu salah?

Dalam KBBI edisi IV (2008: 474), kata haji berarti pertama, rukun Islam kelima yang harus dilakukan oleh orang Islam yang mampu dengan berziarah ke Kakbah pada bulan Zulhijah dan mengerjakan amalan haji, sepert ihram, tawaf, sai, dan wukuf di Padang Arafah; kedua, sebutan untuk orang yang sudah melakukan ziarah ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Persoalan yang muncul adalah bagaimana penulisan benar? Apakah ditulis Hi. dan H.? Bahasa Indonesia adalah bahasa yang bernorma dan bertatabahasa. Artinya bahasa Indonesia hidup tidak dapat dilepaskan dari norma masyarakat (kultur) pemakainya juga diatur dalam tatabahasa yang jelas. Itulah sebabnya salah satu penentuan benar atau salah pemakaian bahasa dapat ditentukan dari norma yang berkembang dalam masyarakat pemakainya dan aturan yang dibakukan dalam pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Dalam EYD penyingkatan kata diatur, pertama, singkatan yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih, seperti nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Contoh Kolonel disingkat Kol., Saudara disingkat Sdr., Sarjana Ekonomi disingkat S.E.

Untuk persoalan singkatan kata haji, sebutan bagi orang Islam yang telah menunaikan ibadah haji, tidak dapat dilepaskan dari norma masyarakat (kultur) pemakainya. Dalam masyarakat Lampung berkembang penyingkatan kata haji dengan Hi. dan ada juga dijumpai penyingkatan dengan H.  Manakah penulisan singkatan yang salah dan benar.?

Untuk menjawab persoalan ini kita harus lihat ranah pemakaiannya. Bila penyingkatan dapat dipakai dalam ranah pemakai (kultur) masyarakat Lampung, yang sifatnya lokal atau kedaerahan, tentu penyingkatan haji menjadi Hi. tidak dapat disalahkan. Lain halnya bila itu dipakai dalam ranah umum (kultur nasional), penyingkatan kata haji harus ditulis /H./

Akan tetapi, ada pilihan yang dapat dipakai bila kita takut terjebak dalam penyingkatan salah atau benar di atas, yaitu dengan penulis utuh, seperti Haji Abdullah, Haji Muhammad Idris, Haji Ilham Alam.

Bahasa adalah alat untuk memudahkan kita dalam bermasyarakat. Untuk itulah, kebenaran berbahasa itu tentu tidak dapat dilepaskan dari masyarakat pemakainya. Barang kali yang perlu diperhatikan adalah kultur dan ranah dalam berbahasanya.

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:06 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Perempuan dan “Parapuwan”

leave a comment »

Rabu, 19 Desember 2012

            Saya sempat berkecil hati ketika mencoba membaca salah satu naskah kuno beraksara Lampung di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Berbekal buku Les Manuscrit Lampongs yang ditulis oleh Van der Tuuk pada tahun 1868 mengenai variasi aksara Lampung berdasarkan beberapa naskah kuno yang dihimpunnya, sebagai orang yang bukan berasal dari daerah Lampung saya memberanikan diri untuk mengeja rangkaian huruf Ka Ga Nga dalam naskah bernomor 69 yang disimpan pada Peti 97.

Setelah mencoba mengeja beberapa kalimat pada naskah kuno tersebut, saya pun menyadari bahwa teks pada naskah kuno beraksara Lampung yang saya baca menggunakan bahasa Melayu. Melalui penelusuran lembar demi lembar yang saya lakukan pada naskah kuno tersebut, saya mendapatkan sebuah kata yang sangat menarik, yaitu kata parapuwan.

Kata parapuwan yang terdapat pada teks tersebut mengacu pada kata perempuan yang lazim kita gunakan hingga saat ini. Kata perempuan itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; istri atau bini; betina (khusus untuk hewan). Berdasarkan asal katanya perempuan konon berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu mpu.

Terbersit dalam hati saya, kata parapuwan dalam naskah kuno yang saya baca dapat menunjukkan bahwa kata perempuan bukanlah berasal dari kata mpu, tetapi berasal dari bahasa Melayu puwan. Penggunaan kata parapuwan dalam teks kuno tersebut selalu disandingkan dengan kata lalaki-laki. Oleh sebab itu, saya berkeyakinan perempuan dan parapuwan memiliki arti yang sama.

Saya pun kembali mencermati kata demi kata dalam teks kuno tersebut untuk mendapatkan keyakinan mengenai asal kata parapuwan. Akan tetapi, tampaknya dugaan awal saya mengenai asal kata puwan untuk parapuwan tidaklah terbukti. Setelah saya menelisik beberapa kata pada teks kuno tersebut, seperti sapurana untuk sempurna, ka sabilan untuk ke sembilan, dan ka duwalapan untuk ke delapan, saya melihat adanya suatu pola pembentukan kata yang tak lazim karena gejala bahasa Melayu yang terjadi pada teks tersebut.

Gejala bahasa Melayu yang terjadi dengan adanya pelesapan konsonan m  dan pengubahan vokal e menjadi a menghasilkan bahasa Melayu yang khas pada teks kuno tersebut. Selain itu, kekhasan bahasa Melayu yang digunakan dapat menunjukkan bahwa bahasa daerah lain turut memengaruhi penggunaan bahasa Melayu itu sendiri. Berdasarkan hal itu, pada akhirnya kita pun mengetahui bahwa parapuwan bukanlah suatu kata yang memiliki asal kata berbeda dengan perempuan. Akan tetapi, kata parapuwan adalah kata yang terbentuk akibat gejala bahasa Melayu yang terjadi pada teks kuno tersebut.

Penggunaan kata parapuwan untuk perempuan, sapurana untuk sempurna, ka sabilan untuk ke sembilan, dan ka duwalapan untuk ke delapan mungkin tidak akan pernah kita ketahui tanpa membaca kembali naskah-naskah kuno, khususnya naskah kuno beraksara Lampung. Selain itu, masih banyak berbagai hal menarik yang tersimpan di dalam naskah kuno yang menanti kepedulian kita untuk mengungkapnya. Jadi, mari kita gali kekayaan yang terkandung pada naskah kuno beraksara Lampung dengan membacanya.

 

 

Written by kbplpengkajian

Juli 24, 2013 at 2:02 am

Ditulis dalam Lisa Misliani

Tagged with