Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Selamat Merayakan Idulfitri

leave a comment »

Selasa, 14 Agustus 2012

 

Puasa di bulan Ramadan tinggal beberapa hari lagi, kelak setelah Ramadan usai dan masuk 1 Syawal, umat muslim merayakan Idulfitri(ada yang menulis secara salah:Iedul Fitri, Aidul Fitri, Idul Fitri)dengan berbagai aktivitas dan kebiasaan unik yang tidak dijumpai di negara lain, keunikan tersebut seperti hal-hal berikut ini.

Pertama, “bersilaturahim”(bukan silaturahmi). Istilah “silaturahim”berasal dari kata dalam bahasa Arab “silah”yang artinya menyambungkan dan “rahim” yang artinya kasih sayang dan pengertian.

Ini sangat berbeda dengan makna kata “silaturahmi”, “silah” yaitu menyambungkan dan “rahmi” yang ternyata artinya rasa nyeri pada saat seorang ibu hendak melahirkan.

Jadi “silaturahmi”, ternyata tidak sesuai dengan maksud penggunaan kalimat ungkapan ini untuk menggambarkan aktivitas saling berkunjung untuk mempererat tali persaudaraan dan kekerabatan.

Ketika ber-silaturahim kepada kerabat, biasanya dengan mengucapkan “Selamat hari raya Idulfitri”. Kalimat tersebut sebenarnya pun keliru karena yang seharusnya diberi selamat adalah perayaannya bukan harinya. Sehingga pengucapan yang benar adalah “Selamat merayakan Idulfitri”atau kalau di hari besar agama lain, misalnya Natal (Nasrani), adalah “Selamat merayakan Natal”. Kalau di hari ulang tahun adalah “Selamat Ulang Tahun”.

Ungkapan khas yang lain adalah kalimat “Minal’aidin wal faizin” dilanjutkan dengan “Mohon maaf lahir batin”. “Minal ‘aidin” artinya secara bebas adalah golongan yang kembali dan kalimat “wal faizin” artinya golongan yang menang sehingga makna ungkapan tersebut adalah doa semoga kita semua termasuk golongan yang kembali (fitrah, suci seperti bayi) dan termasuk orang yang meraih kemenangan (melawan hawa nafsu selama bulan suci Ramadan).

Selain itu, ucapan “Selamat hari Lebaran”dilanjutkan, “Mohon maaf lahir batin”merupakan ucapan yang sangat familier dan lebih banyak digunakan. Kata Lebaran, yang dicurigai dari bahasa Jawa: dari kata lebar(sesudah atau setelah), dan akhiran-an, yang berfungsi menegaskan kata yang dilekatinya. Jadi Lebaran bermakna sesudah berpuasa bulan Ramadan, yakni 1 Syawal.

Guru SMAN 1 Sukadana, Lampung Timur

 

Written by kbplpengkajian

Juni 21, 2013 pada 4:24 am

Ditulis dalam Suheri

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: