Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Geh

leave a comment »

Rabu, 14 November 2012

Tak berkesudahan bila kita berbalah tentang bahasa. Sepanjang manusia ada, bahasa pun tetap ada. Sepanjang itu pula akan muncul kreativitas dalam berbahasa, baik itu sebagai bentuk penegas atau pemanis ujaran. Tenggoklah, fenomena bahasa yang berkembang di berbagai daerah. Di Lampung, misalnya, bermunculan kata /geh/: “Jangan gitu, geh!”,  /es/: “Mau kemana, es?” atau , /tah/:Iya, tah! Kita semua boleh ikut!”

Begitu pula dengan kata yang berkembang di Ibukota Jakarta, seperti kata /dong/, /sih/; lalu kita pun kenal /toh/: “Iyo, toh!”, yang acap kita jumpai dalam bahasa (lisan) Jawa. Kehadiran kata-kata itu secara gramatikal berfungsi mempertegas dan memperkuat ujaran dan secara leksikal tidak bermakna. Dalam linguistik, kata-kata tersebut termasuk dalam kategori fatis. Pertanyaan yang muncul, apakah gejala itu akan merusak bahasa?

Suatu bahasa dapat dikatakan rusak apabila terjadi sikap negatif pemakai bahasa, seperti pencampuradukan pemakaian bahasa yang serampangan dan terlalu bangga berbahasa yang “keinggris-inggrisan”.

Kaitan dengan gejala bahasa di atas, kehadiran kata-kata itu tidak dapat dikatakan akan merusak bahasa. Kata-kata yang muncul dalam bahasa daerah di atas itu justru dapat dijadikan salah satu bahan pemerkaya bahasa (Indonesia). Perkembangan bahasa Indonesia tidak bisa lepas dari bahasa daerah.

Bahasa Indonesia itu dapat diibaratkan sebuah taman. Taman yang ditumbuhi berbagai bunga. Bunga-bunga itu adalah bahasa-bahasa daerah. Keindahan taman itu dikarenakan keberagaman bahasa-bahasa daerah itu. Lalu, kata /geh/, /es/, /tah/, dan /dong/ serta /tah/  itu seperti rumput-rumput yang memberi warna tersendiri pada taman bahasa tersebut.

Dalam bahasa Indonesia dikenal partikel. Partikel adalah kata yang biasanya mengandung makna gramatikal tetapi tidak mengandung makna leksikal, temasuk di dalamnya kata sandang, kata depan, konjungsi, dan kata seru. Sekadar  contoh kata /lah/ dan /tah/: “Bacalah koran hari ini, ada berita menarik!”, “Apatah gunanya bersedih hati?”

Kaitan dengan kata /geh/, /es/, /tah/, dan /dong/ serta /toh/ itu, biarkan saja dia berkembang sebagai mana adanya. Kehadirannya, ada dan hilang, akan ditentukan oleh perjalanan waktu. Selain itu, perlu diperhatikan adalah tidak terjadinya tumpang tindih pemakaian bahasa. Ada ranah keluarga, untuk bahasa ibu (daerah); ranah nasional, untuk bahasa Indonesia; dan ranah internasional, untuk bahasa Inggris. Begitu, barang kali, Anda setuju!

 

Written by kbplpengkajian

Juni 21, 2013 pada 4:32 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: