Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Anda Haji, Saya Sy, S, P, dan Z.

leave a comment »

Rabu, 16 Januari 2013

 

Musim haji telah usai, semua jamah sudah kembali pada aktivitas mereka semula. Secara fisik tak ada yang berubah dari mereka. Mungkin hanya beberapa yang mengubah penampilan dengan memakai kerudung putih atau peci putih sebagai pembeda bahwa mereka sudah melaksanakan rukun Islam yang ke-5. Menjadi menarik begitu sampai di Tanah Air, mereka dengan serta merta mendapat gelar baru haji atau hajjah.

Bila dilihat dari sudut sejarah, asal mula penggunaan gelar haji ini merupakan salah satu bentuk campur tangan penjajah Belanda dalam membatasi gerak-gerik tokoh-tokoh Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada zaman itu, banyak tokoh muslim yang muncul, seperti Samanhudi, Muhammad Darwis, Tjokroaminoto, dan Hasim Asyari. Setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, masing-masing mendirikan organisasi kemasyarakatan Sarekat Dagang Islam, Muhammadiyah, Sarekat Islam, dan Nahdatul Ulama.

Pemerintah Belanda saat itu merasa perlu mengawasi gerak-gerik tokoh-tokoh agama yang terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan yang dianggap mengganggu stabilitas pemerintahan Hindia Belanda. Salah satu cara yang mereka gunakan untuk mengawasi para tokoh itu adalah dengan mewajibkan setiap masyarakat yang baru saja pulang melaksanakan ibadah haji untuk menggunakan gelar haji di depan nama mereka. Kewajiban itu bahkan diatur dengan Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Sejak saat itu, setiap umat muslim yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji akan serta merta dipanggil dengan sapaan haji/hajjah.

Sejarah masa lalu ternyata amatlah kuat melekat dalam jiwa masyarakat Indonesia. Mungkin hingga saat ini hanya jemaah haji asal Indonesia yang mendapatkan gelar haji setelah menunaikan ibadah haji. Terkadang gelar yang mereka sandang ini tidak mencerminkan perilakuk mereka sebagai seorang haji. Namun demikian, banyak juga yang secara konsisten mampu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Dengan mengabaikan faktor sejarah dan merujuk pada prosesi ibadah, perilaku, dan gelar yang didapatkan oleh seorang yang sudah melaksanakan ibadah haji, ada baiknya kita mencermati kembali penggunaan gelar haji yang diberikan pada seseorang yang telah menunaikan rukun Islam kelima ini. Bukannya menghujat seseorang yang bergelar haji, tetapi mari kita kritis dalam berbahasa.

Pertama, kalau dikaitkan dengan ajaran Islam, penggunaan gelar haji ini sama sekali tidak disinggung dalam Alquran maupun hadits. Kedua, gelar haji hanya diberikan diberikan kepada setiap orang Islam di Indonesia yang telah melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ketiga, Orang Islam yang melaksanakan rukun Islam yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat tidak mendapatkan gelar khusus semisal Sy (syahadat), S (salat), P (puasa), dan Z (zakat). Keempat, gelar haji mengandung unsur politis yang merupakan taktik Belanda yang digunakan untuk tujuan tertentu. Kelima, gelar haji tidak serta merta mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik dari sebelum berhaji.

Nah, bila kita kembali kepada empat hal pokok yang saya jabarkan di atas, masihkah haji dan haji akan tetap hidup di negeri ini?

 

 

Written by kbplpengkajian

Juni 21, 2013 pada 4:34 am

Ditulis dalam Yulfi Zawarnis

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: