Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Seksi

leave a comment »

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca berita di sebuah media massa bahwa Gubernur DKI Jakarta mengakui dirinya seksi. Keseksiannya itu muncul ketika ia sedang blusukan. Misalnya, saat beliau meninjau kawasan yang dilanda banjir, meninjau warga di permukiman kumuh dan padat penduduk, masuk ke gorong-gorong untuk memeriksa kondisi drainase ibukota, dsb.

Lalu, apakah sikap Jokowi itu seksi? Sebenarnya apakah makna dari kata seksi itu sendiri? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata seksi berarti (1) bagian dari kesatuan yang bertugas mengurus sesuatu; bagian dari daerah, (2) tindakan memotong; pemotongan; pengirisan; (3) merangsang rasa berahi (tentang bentuk badan, pakaian, dsb).

Akan tetapi, pada konteks tadi sepertinya kata seksi yang dialami Jokowi sama sekali tidak merujuk ke pengertian-pengertian itu. Laki-laki sederhana berperawakan kurus yang dulunya sering memakai baju kotak-kotak ini apabila dilihat dari postur tubuhnya bisa dikatakan sama sekali tidak seksi. Wajahnya pun sangat standar. Alih-alih bagaimana mungkin bentuk badannya atau pakaian yang dikenakannya bisa merangsang berahi orang yang melihatnya. Ternyata sekarang seksi itu bukan secara fisik saja, melainkan bisa dikatakan seksi apabila tampil apik sebagai narasumber berita. Bahkan seksi itu bisa juga menggambarkan perilaku seseorang yang mengundang simpati.

Dalam dunia bahasa, gejala bahasa yang timbul pada kata seksi tersebut bisa dinamakan perubahan makna meluas. Perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna. Karena pengaruh berbagai faktor, makna tersebut memiliki makna lain. Perubahan makna terjadi karena adanya pergeseran konotasi, rentang pergeseran zaman, perkembangan pemahaman budaya, dll. Sementara pada buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 2 dikatakan bahwa perubahan wujud kata tertentu selalu harus diikuti oleh penciptaan kata baru. Hal itu terjadi karena pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Misalnya kata kereta api mulanya digunakan untuk mengacu pada kereta yang dijalankan dengan tenaga yang berasal dari batu bara. Namun, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada kereta yang digerakkan dengan tenaga listrik dan tenaga solar. Meskipun mesin penggerak dan tenaga pembangkitnya sudah diganti, penyebutan kendaraan itu tetap kereta api diesel dan kereta api listrik. Contoh lainnya kata berlayar, dulu, merupakan kegiatan perjalanan dengan sebuah kapal yang digerakkan oleh layar. Kini berlayar bisa dilakukan dengan menggunakan kapal yang tidak berlayar pula.

 

Kata ibu, bapak, abang, adik, dan saudara semula hanya digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pertalian darah. Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat, kata-kata tersebut tidak hanya digunakan untuk menyapa kerabat yang sekandung, tetapi juga digunakan untuk menyapa orang yang bukan kerabat. Jadi, sapaan-sapaan itu kini dipakai juga sebagai tanda hormat atau tanda kedekatan dengan orang yang disapa. Contoh yang terakhir kata petani tidak lagi bermakna orang yang mencari nafkah di sawah. Akan tetapi, sekarang sudah ada petani ikan, petani tambak, dan petani jamur.

Dengan demikian, perubahan makna meluas makin memperkaya perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia terutama dengan adanya sublema baru berpotensi menjadi komponen penjelas bagi lema-lema di Kamus Besar Bahasa Indonesia kita berikutnya. Namun, apakah khalayak bisa menerima perluasan makna dari kosakata tersebut? Jika bisa, kita lihat saja nanti.

Written by kbplpengkajian

April 18, 2013 pada 5:03 am

Ditulis dalam Evi Maha Kastri

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: