Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Terpeleset Pelesetan

leave a comment »

10-10-2012

Suatu ketika, dalam akun twitter @mbahtonno bikin plesetan candanya, bak mengetuk tentang ihwal bahwa plesetan Indonesia berasal dari campuran dua kata Indus dan Nesos; etimologis dari latin/ Yunani.

Indus  ‘Hindia’, lantaran kita terletak di Samudera Hindia. Sementara Nesos ‘pulau’—kalau Nesioi (jamak) berarti kepulauan/ pulau-pulau. Lalu terjadilah penggabungan Indos Nesos, kurang lebih berarti pulau-pulau di Samudera Hindia. Dialek melayu merenyahkan pelafalan Indos Nesos menjadi Indonesia. Kurang lebih begitulah saya mengadaptasi atas akun tersebut.

Persoalan sekarang tak menyoal itu, tetapi sebuah peristiwa berbahasa yang kerap terjadi dalam sensibilitas kehidupan dengan macam lekuk; betapa bahasa kerap disanggah, diagungkan, dikuasai, dimengerti, bahkan bukan lagi diberdayai melainkan diberdayakan untuk kepentingan lain.

Anggaplah tatkala bahasa mesti bersusah payah “ditepuk-tepuk” hingga menimbulkan jauh dari makna sebenarnya. Seperti pesta demokrasi Pilkada pada sebuah tempat di negeri ini beberapa waktu lalu. Kata menjadi macam gaya berbahasa seolah kian magis penuh daya. Barangkali kita semua tahu, meski juga tak semuanya paham. Pemahaman yang tak melulu mesti dimengerti. Tatkala menyoal permainan dalam berbahasa senantiasa kian berubah menjadi “plesetan”.

Ya, sekali lagi, ini kali saya menyebutnya “plesetan” (entah tengah bermain dalam wacana keseriusan atau tak dalam dunia jejaring, BBM-an, atau entah apalagi namanya), seperti keidentikan sosok calon dalam Pilkada waktu lalu: pemimpin satu—kalau boleh dikatakan secara semiotika—dengan “kemeja motif kotak-kotak”, sementara pemimpin satunya lagi dengan “kumisnya”.

Maka terjadilah permainan keironian berbahasa seperti ini: Taplak Meja di TPS, semua bermotif kotak-kotak, tak ada yang bermotif kumis; meja, semua berbentuk kotak, tak ada yang bentuknya kumis; bilik suara juga berbentuk kotak, tak ada yang berbentuk kumis; yang disediakan hanya ‘kotak kotak suara’, tak ada ‘kumis-kumis suara’; makan yang dibagikan nasi kotak, bukan nasi kumis; kue/snack yang dibagikan juga kue kotak, bukan kue kumis; minuman pun lebih banyak teh kotak, tak ada teh kumis; kalau menang pun akan dihibur oleh band Kotak, bukan band Kumis.

Ironisnya, “plesetan” yang terendus muatan eufemisme (gaya dalam berbahasa), berkalimat dalam sebuah cakapan demikian, “Ane jamin foto abang ‘A’ tak akan ada yang rusak, dan kalau pun ada yang berani lubangin foto abang ‘A’, pasti jumlahnya sedikit. Dibanding dengan lubang yang ada di muka foto ‘B’. Ane ajak semua warga yang punya hak pilih dalam Pilkada dua: mari kita tunjukkan kecintaan kita sama abang ‘A’ dengan cara colok dan lubangin foto “B” tepat dimukanye. Hidup abang ‘A’…”.

Betapa terkadang permainan dalam berbahasa itu dahsyat, bukan? Inspiratif juga provokatif. Semoga cukup dalam konteks inspiratif saja. Alhasil, pemaknaan pun tak tercebur kian dalam. Apalagi kalau tak mampu menembus perbatasan logika; antara percaya atau tak, sebaiknya dinalar kembali.

Written by kbplpengkajian

April 6, 2013 pada 9:22 pm

Ditulis dalam F. Moses

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: