Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Satu Bahasa

leave a comment »

6-3-2013

Satu Nusa
Satu Bangsa
Satu Bahasa Kita
Tanah Air
Pasti Jaya
Untuk Selama-lamanya
Indonesia Pusaka
Indonesia Tercinta
Nusa Bangsa
Dan Bahasa Kita Bela Bersama

 

Lagu yang diciptakan oleh L.Manik ini tentulah dapat dinyanyikan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Siapa yang tidak tergugah rasa nasionalismenya ketika menyanyikan lagu ini? Sayangnya ada syair dalam lagu ini yang seolah menafikan keberadaan bahasa-bahasa yang hidup di Indonesia selain bahasa Indonesia.

Membaca lirik “Satu Bahasa Kita” tentunya kita paham yang dimaksud adalah bahasa Indonesia. Lalu bagaimana dengan bahasa-bahasa lain yang hidup di Indonesia, seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Batak, dan bahasa daerah lainnya?

“Satu Bahasa Kita” adalah ikrar bersama untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ikrar ini salah kaprah karena melenceng dari ikrar Sumpah Pemuda yakni “…Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”. Secara Semantik, kedua ikrar ini jelas-jelas menimbulkan dua makna yang berbeda. Naskah Sumpah Pemuda tidak akan memimbulkan salah kaprah karena “menjunjung” sudah jelas-jelas termaktub dalam KBBI yang berarti ‘memuliakan; menghargai dan menaati’. Itu artinya, dalam hal ini, keberadaan bahasa-bahasa daerah tidak dinafikan keberadaannya dan masih dapat dilestarikan. Berbeda halnya dengan lirik “Satu Bahasa kita”, bahasa yang diakui hanya satu, yakni bahasa Indonesia, lalu bahasa daerah dikemanakan?

Agaknya pemaknaan Sumpah Pemuda yang salah kaprah ini tidak hanya sampai pada lagu wajib yang seolah-olah menyamakan makna “Menjunjung Bahasa Persatuan” dengan “Berbahasa Satu”. Kesalahan yang fatal malah juga kerap terjadi ketika naskah Sumpah Pemuda itu dibacakan saat upacara bendera, yakni mengganti “Menjunjung Bahasa Persatuan” dengan “Berbahasa Satu”.

Berbicara mengenai kesalahan dalam berbahasa memang tak ada habisnya.Bahkan kesalahan berbahasa ini juga banyak terjadi dalam syair-syair lagu, termasuk lagu wajib. Seorang penulis, Agung Y. Achmad, juga pernah menyoroti kesalahan penggunaan kata “pada” dalam lagu “Padamu Negeri” yang seharusnya ditulis “Kepadamu Negeri”. Agung Y.Achmad mengibaratkan lagu wajib sebagai dialog imajiner kebangsaan sehingga sangat menyedihkan ketika dalam hal yang bersifat kenegaraan seperti ini kita masih saja salah. Masalahnya, lagu wajib adalah lagu yang seolah sakral yang tabu untuk diutak-atik.

Lain halnya ketika syair lagu yang tidak tepat adalah lagu populer. Mungkin banyak yang masih ingat ketika lagu “Kaulah Segalanya” yang pernah dinyanyikan Ruth Sahanaya didemo oleh kelompok tertentu. Lirik “Mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya” tidak tepat secara semantik karena “mungkin” menunjukkan keragu-raguan yang tidak sesuai dengan sifat Tuhan. Akhirnya lirik lagu itupun diubah oleh penciptanya dengan menghilangkan kata “mungkin”. Bagaimana dengan nasib lagu “Satu Nusa”? Siapa yang berani mengubah?

Written by kbplpengkajian

April 6, 2013 pada 9:12 pm

Ditulis dalam Yulfi Zawarnis

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: