Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pitnah, Orang Sunda Tidak Bisa Ngomong F

leave a comment »

Pitnah, orang Sunda tidak bisa ngomong f. Anekdot ini sudah lama beredar di masyarakat. Secara ilmu bahasa, anekdot ini sangat menarik untuk dicermati. Pangkal anekdot ini hanya satu huruf atau bunyi, yakni /f/. Huruf keenam dalam jajaran alfabet ini, bagi orang tertentu, menjadi rancu dengan huruf p dan v ketika digunakan dalam ragam bahasa lisan maupun tulisan.

Sejauh pengamatan saya, kosakata bahasa Indonesia yang melibatkan bunyi /f/, baik di awal maupun di tengah kosakata tertentu, banyak yang berasal dari bahasa Arab dan bahasa Inggris, misalnya fakta, faedah, fakultas, fiktif, dan fakir. Kosakata bahasa Indonesia yang melibatkan bunyi /v/ banyak yang berasal dari bahasa Inggris dan Belanda,  misalnya vokal dan universitas. Sementara itu, kosakata bahasa Indonesia yang melibatkan bunyi /p/ banyak yang berasal dari bahasa daerah, misalnya cungkup dan punden yang berasal dari bahasa Jawa,

Kembali ke anekdot, “Pitnah, orang Sunda tidak bisa ngomong f”. Anekdot ini dapat ditinjau secara historis. Bahasa daerah yang memiliki aksara seperti Sunda, Jawa, Bali, Batak, Lampung, dan Madura tidak memiliki aksara fa dan va, tetapi pa. Dapat dipastikan, tidak ada kosakata dari bahasa daerah ini yang mengandung huruf dan bunyi /f/. Hal inilah yang lalu membuat orang dari daerah tertentu gagap ketika harus mengucapkan kosakata yang mengandung bunyi /f/ dan atau /v/.

Kegagapan ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memang tidak seperti bahasa Arab yang membedakan kata qolbun ‘hati’ dan kalbun ‘anjing’. Tidak juga seperti bahasa Inggris yang membedakan back ‘belakang’ dengan bag ‘tas’. Akan tetapi, bukankah menjadi aneh ketika ada orang yang menulis pasti menjadi fasti,  saraf menjadi sarap, atau apes menjadi aves?

Berkaitan dengan kesulitan pelafalan bunyi /f/ dan /v/ ini, budayawan Jakob Sumarjo dalam buku ‘Simbo-simbol Artefak Budaya Sunda (2009) menyatakan bahwa alam pikiran dan tingkah laku masyarakat yang tercermin dari peninggalan budayanya dapat mengendap menjadi pengetahuan nilai-nilai seseorang, bukan hanya terdiri dari perolehan nilai sekarang, tetapi juga dari masa-masa lampau masyarakatnya. Nilai-nilai  tersebut kadang tidak disadari oleh para pelakunya. Hal ini tentunya juga dapat dilihat dari perilaku berbahasa seseorang. Oleh karena itu, perilaku berbahasa masyarakat Sunda, Lampung, dan Jawa yang tidak memiliki aksara fa dan va juga dapat dilihat dari perilaku berbahasa masyarakatnya sekarang ini yang cenderung sulit melafalkan bunyi /f/ dan /v/.

Uniknya, perilaku masyarakat bahasa yang tidak memiliki aksara fa dan va ini berbeda dalam hal pemberian nama. Masyarakat Sunda, misalnya, cenderung menghindari penggunaan bunyi atau huruf /f/ dan /v/ dalam pemberian nama anak, misalnya epi, saipul, pitri,epa, ipan. Hal ini berbeda dengan masyarakat Lampung, misalnya, yang gemar menggunakan huruf /f/ dan /v/ dalam pemberian nama anak. Akan tetapi, dalam praktik pelafalannya tetap saja bunyi /f/ dan /v/ ini dilafalkan sebagai /p/.

Written by kbplpengkajian

April 6, 2013 pada 9:27 pm

Ditulis dalam Yulfi Zawarnis

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: