Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Kreatif atau Alay

leave a comment »

5-12-12

Kehadiran bahasa alay akhir-akhir ini semakin marak karena ikut dipopulerkan oleh media seperti koran, radio, televisi, maupun internet. Bahasa alay ini bahkan dimanfaatkan oleh berbagai operator seluler dalam beriklan. Tujuan utamanya tentu saja menarik konsumen sebanyak-banyaknya, terutama kaum muda. Dari iklan berbagai operator seluler inilah kemudian kata-kata seperti kamseupay, ciyus, miapah, ataupun kata kamu yang ditulis k4mu dan alay yang ditulis 4l4y  menjadi semakin popular. Artinya, budaya alay yang salah satunya terlihat dari bahasa yang digunakan sudah sedemikian merasuki jiwa generasi muda kita.

Istilah alay sendiri sebetulnya tidak hanya merujuk pada bahasa yang digunakan, tetapi secara umum juga merujuk pada perilaku dan pola pikir seseorang. Wikipedia mendefinisikan alay sebagai sebuah fenomena perilaku di kalangan remaja Indonesia yang digunakan untuk menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan. Alay memiliki beberapa singkatan, ‘anak layangan’ dan ‘anak lebay’, di antaranya. Definisi Alay mencakup berbagai sisi, mulai dari gaya berpakaian yang berlebihan hingga gaya bahasa tulis yang tidak lazim—oleh berbagai kalangan sudah dicap merusak tatanan baku bahasa Indonesia.

Sebagian besar orang yang tidak menggunakan bahasa alay akan mengernyitkan dahi ketika mendengar seseorang menggunakan kosakata alay atau membaca tulisan yang mengandung unsur alay. Ini berarti, bahasa alay itu memang sudah keluar dari bahasa Indonesia yang lazim digunakan oleh masyarakat Indonesia—kalau tidak ingin disebut bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bahasa alay ini muncul dengan berbagai bentuk penyimpangan. Pertama, adanya penyimpangan penggunaan angka, yakni merancukan penggunaan huruf dengan angka. Dalam bahasa alay, huruf dan angka digabungkan secara semena-mena untuk mendapatkan efek visual kata sehingga seolah-olah 3=E, 7=T, 5=S, 13=B, 12=R.

Penyimpangan kedua yakni penggunaan kosakata yang tidak lazim yang tidak dapat ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia, misalnya  ala-ala (pura-pura), kepo (ingin tahu), dan unyu-unyu (lucu). Kata kepo misalnya, konon merupakan akronim dari istilah bahasa Inggris Knowing Every Praticular Object. Tentunya istilah ini hanya ada di Indonesia walaupun “katanya” merupakan akronim dari bahasa Inggris.  Akan tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa istilah kepo ini berasal dari bahasa Hokkian. Dapat disimpulkan bahwa kosakata ini memang diciptakan untuk tujuan tertentu karena kebutuhan tertentu pula. Masalah dari mana kosakata itu diambil dan apa maknanya kemudian hanya dicari-cari asal-usul dan padanannya.

Bentuk penyimpangan ketiga, memelesetkan kata-kata yang sudah baku dengan cara tertentu. Misalnya munculnya kosa kata ciyus (serius), mi apah (demi apa), cemungud (semangat), dan cungguh (sungguh). Kalau diperhatikan, kosakata ini sebetulnya lebih merupakan pengubahan perilaku berbahasa hingga menyerupai perilaku kanak-kanak yang tidak bisa mengucapkan huruf tertentu dengan jelas (cadel).

Bentuk penyimpangan keempat yakni menggunakan kosakata bahasa Indonesia dan memberi makna secara berlebihan. Misalnya penggunaan kata galau yang digunakan untuk menunjukkan keadaan yang kurang baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiaga·lau a, ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Nah, generasi muda sekarang dengan cepat akan mengatakan mereka sedang galau walaupun masalah yang mereka hadapi adalah masalah biasa yang juga sering dialami oleh orang lain.

Di satu sisi fenomena alay ini merupakan sebuah kreativitas berbahasa yang semestinya didukung, tetapi di sisi lain, kreativitas ini justru dapat merusak tatanan baku bahasa Indonesia bila digunakan secara membabi-buta. Hanya, fenomena seperti ini tidak perlu terlalu dirisaukan karena sejak dulu fenomena seperti ini sudah kerap terjadi dengan bentuk dan cara yang berbeda. Kenyataannya fenomena-fenomena itu menghilang dengan sendirinya seiring dengan perkembangan zaman. Itu artinya, fenomena bahasa seperti ini tidak akan mengancam eksistensi bahasa Indonesia. Yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai generasi muda kita lebih gemar mengikuti perkembangan bahasa alay, sementara kemampuan dan pengetahuan bahasa Indonesia mereka tidak pernah digali dan dikembangkan.

Written by kbplpengkajian

April 6, 2013 pada 9:08 pm

Ditulis dalam Yulfi Zawarnis

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: