Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Kesimpulan atau Simpulan

leave a comment »

5-9-2012

Seorang teman bertanya apakah karya ilmiah harus mengandung bab pendahuluan, analisis, dan kesimpulan. Saya menanggapi, benar karya ilmiah harus mengandung bab pendahuluan, analisis, dan simpulan. Maklum, teman saya bukan dari bidang bahasa dan sastra Indonesia. Ketika itu kami akan mengikuti seminar bahasa dan sastra Indonesia yang diadakan salah satu instansi pemerintah.

Bentuk kesimpulan dan simpulan memang banyak dirancukan pemakaiannya. Sebagian penutur bahasa Indonesia mengatakan kesimpulan sebagai bentuk lain simpulan. Kata kesimpulan bersaing pemakaiannya dengan kata simpulan. Lalu, bentukan yang manakah yang sebenarnya tepat?  

Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya mengikuti pola yang konsisten dan rapi. Kalau diperhatikan dengan saksama, bentuk-bentukan kata itu memiliki hubungan antara satu dan yang lain. Dengan kata lain, terdapat korelasi di antara berbagai kata kerja yang berawalan meng- dapat dibentuk menjadi kata benda yang bermakna proses yang berimbuhan peng-…-an, dan dapat pula dibentuk menjadi kata benda yang bermakna hasil yang berimbuhan –an. Perhatikan keteraturan pembentukan kata berikut: simpul – menyimpulkan – penyimpul – penyimpulan – simpulan

Memang di tengah-tengah masyarakat pemakai pemakai bahasa masih sering digunakan kata kesimpulan. Kata tersebut  adalah kosakata bahasa Indonesia juga, tetapi kadarnya di bawah standar, atau kurang baku. Jika berpedoman pada ketentuan di atas, bentukan baku atau yang tertib adalah simpulan yang artinya hasil menyimpulkan.

Dalam ilmu bahasa makna akhiran-an yang melekat pada kata kerja mengandung arti antara lain; hasil, atau yang di, seperti terdapat pada kata simpulan, hasil menyimpulkan atau yang disimpulkan; karangan, hasil mengarang atau yang dikarang; tulisan, menulis, atau yang ditulis, sitaan,  dan  hasil menyita atau uang yang disita.

Bentuk salah kaprah yang lain yang berkaitan dengan simpulan, tetapi tampaknya sulit dibetulkan adalah kata anutan, bukan panutan sebab berasal dari kata anut yang mendapat akhiran –an yang berarti hasil menganut atau yang dianut. Dengan demikian, bentukan panutan merupakan bentukan yang salah kaprah.

Kata pelayanan juga bersaing pemakaiannya dengan kata layanan. Bentukan manakah yang paling tepat? Peyalanan dan layanan tergolong kata baku.  Artinya keduanya dapat digunakan jika dengan konteks  pemakaiannya. Jika kita berpedoman pada patokan di atas, kata pelayanan digunakan dalam konteks proses melayani, sedangkan kata layanan dalam konteks hasil melayani, atau perbuatan melayani.

Pernahkah dalam praktik sehari-hari di dalam masyarakat menunjukkan ketidaktepatan pemakaian konteks tersebut? Misalnya, di dalam konteks perbuatan melayani digunakan kata pelayanan padahal seharusnya layanan. Sementara itu, kata pelayanan dianggap benar dan tepat jika digunakan dalam konteks, proses melayani.

Semoga pemakai bahasa dapat meluruskan kesalahan kaparahan bentuk kebahasaan ini. Jangan ada pemakai bahasa masih bergeming tidak segera ikut meluruskannya. Saya pun menantikan kesimpulan, keputusan, panutan, dan pelayanan, alih-alih simpulan, putusan, anutan, dan layanan, segera digunakan banyak kalanngan.

Written by kbplpengkajian

April 6, 2013 pada 9:05 pm

Ditulis dalam Ninawati Syahrul

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: