Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Hampir dan Nyaris

leave a comment »

3-10-2012

Pada tanggal tanggal 22 Desember 2011 bertepatan dengan hari Ibu, di kantor kami diadakan seminar tentang perempuan. Tema seminar tersebut “Peran Perempuan dalam Sastra”. Kami diwajibkan mengenakan baju kebaya. Di akhir acara seminar ternyata dipilih tiga orang yang berbusana kebaya terbaik. Fitri ditetapkan oleh dewan juri sebagia juara pertama berbusana kebaya terbaik. Salah seorang teman saya bernama Tuti berkomentar, “Tidak banyak ya bedanya, cuma selisish satu angka dengan Wini pemenang kedua. “Wini nyaris menjadi juara pertama dalam pemilihan busana kebaya”.

Ketika kami hendak makan siang, Wini terpeleset. Rupanya ada air yang tergenang di lantai. Untunglah dia tidak terguling, karena saya segera menolongnya. Jika hal itu terjadi, bajunya tentu basah dan kotor. Apa yang dikatakannya ketika saya menolongnya. “Ya, nyaris saya terpeleset di lanta dan tidak jadi makan enak.

Saya sengaja menampilkan kata nyaris sebagai contoh pembahasan “Laras Bahasa” ini. Tuti dalam adegan itu mengatakan “Wini nyaris menjadi juara pertama dalam pemilihan busana kebaya”. Dari adegan pertama kita peroleh kata nyaris yang berhubungan dengan hal positif atau yang baik, dan dari adegan kedua kita peroleh kalimat yang di dalamnya terdapat kata nyaris yang berhubungan dengan hal negatif atau kurang baik. Nyaris menjadi juara pertama pada yang pertama dan nyaris terpeleset di lantai pada yang kedua. Di antara kedua pemakaian itu pemakaian yang kedua yang benar.  Kata nyaris berhubungan dengan hal yang kurang baik. Akan tetapi, pada masa belakangan ini, banyak kita jumpai pemakaian kata nyaris seperti model yang pertama. Dari situ dapatlah kita lihat bahwa pemakain kata nyaris seperti diperlihatkan pada contoh yang pertama tidaklah benar.

Seharusnya tidak begitu pemakaiannya, sebab nyaris berarti ’hampir-hampir’ dan selalu berhubungan dengan hal yang kurang menyenangkan. Kalau kita memeriksa kamus begitulah keterangan yang kita peroleh, sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut. :Kedua mobil itu nyaris terbakar”.

Untuk peristiwa yang tidak ada hubungannya dengan bahaya atau kecelakaan, kita dapat menggunakan hampir saja dan bukan nyaris. Contohnya pada adegan pertama tadi. “Wini hampir  saja menjadi juara pertama dalam pemilihan busana kebaya.”

Kata hampir dan nyaris mempunyai kemiripan arti. Keduanya menyatakan hal yang dekat  dengan peristiwa atau keadaan tertentu. Perbedaannya ialah bahwa kata hampir bersifat netral; mungkin berkaitan dengan hal yang tidak diinginkan; mungkin pula tidak. Kata nyaris cenderung dikaitkan dengan peristiwa yang tidajk diinginkan: bahaya, kecelakaan, kemalangan, dan sebagainya.

Setelah memperhatikan pengertian dan perbedaan kata nyaris dan hampir itu, diharapkan kita dapat lebih cermat mempergunakannya dengan keperluan kita. Mudah-mudahan kita dapat memahami mengapa kata nyaris di dalam arti yang salah penggunaannya itu perlu kita jauhi.

Written by kbplpengkajian

April 6, 2013 pada 9:02 pm

Ditulis dalam Ninawati Syahrul

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: