Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

“Blusukan”

leave a comment »

9-1-2013

Setakat ini, istilah blusukan semakin akrab di telinga masyarakat, terlebih sejak Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi, menggunakan aksi blusukan ini sebagai salah satu cara untuk melakukan komunikasi dengan masyarakat. Saking fenomenalnya, semangat blusukan seperti ini juga menular ke tokoh-tokoh politik yang lain. Teranyar, kita dikagetkan dengan kunjungan dadakan yang dilakukan oleh Presiden SBY di daerah perkampungan nelayan. Aksi turun ke bawah yang dilakukan oleh Presiden SBY ini juga mirip dengan aksi blusukan Jokowi, yakni pergi ke daerah dengan mengunjungi berbagai lokasi dan melakukan wawancara langsung dengan masyarakat yang dikunjunginya tanpa menggunakan aturan protokoler yang ketat. Dengan makin seringnya istilah blusukan ini masuk ke ranah publik, bukan tidak mungkin, istilah ini akan segera menjadi kosakata dan komoditas politik.

Kata blusukan sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, yakni blusuk, yang artinya adalah masuk (ke daerah atau lokasi yang biasanya terpencil, jarang dilewati, dan tidak terawat). Oleh karena itu, kata blusuk ini awalnya dipakai untuk sesuatu yang berkonotasi tidak bagus sehingga acap kita dengar kata ini bergandengan dengan kata larangan ojo ‘jangan.’ Ojo blusukan, mengko dicokot ulo ‘Jangan suka blusukan, nanti digigit ular’ begitu kata yang sering diucapkan orang tua pada anaknya yang suka bermain di semak belukar atau tempat yang sekiranya dapat membahayakan si anak. Dari kata blusukan, muncul pula istilah keblesek ‘terperosok atau terjebak masuk lebih ke dalam (lumpur) atau (persoalan yang lebih rumit)’ sebagai hasil atau akibat dari ketidakhati-hatian ketika seseorang melakukan aksi blusukan. Sepertinya, aksi blusukan ini memang berteman akrab dengan lokasi daerah yang berlumpur atau di daerah pedalaman yang sedang mengalami kesulitan. Berbeda dengan keblesek yang bermakna terperosok atau terjebak masuk lebih ke dalam, seseorang yang tersesat jalan disebut keblusuk ‘tersesat dan melampaui batas’. Jadi, kata blusukan lebih dekat hubungan langsungnya dengan keblesek, bukan keblusuk, walaupun kata keblusuk dan blusukan lebih dekat kekerabatan harfiahnya.

Memang, dulu blusukan membawa implikasi yang sedikit negatif, tetapi sekarang istilah tersebut sudah bergeser maknanya menjadi lebih positif, terutama sejak istilah tersebut marak dipakai untuk menamai aksi yang dilakukan oleh Jokowi. Aksi blusukan ini diartikan oleh masyarakat sebagai suatu aksi atau tindakan yang dilakukan Jokowi dengan cara melakukan kunjungan ke wilayah-wilayah perkampungan dan lokasi padat penduduk lainnya secara lebih dekat sehingga yang bersangkutan mengetahui permasalahan yang sebenarnya dari wilayah yang dia datangi. Tujuannya adalah untuk mengetahui akar masalah, memetakannya dan mencari solusi yang tepat. Jadi, kita boleh blusukan, asal jangan keblesek, apalagi keblusuk!

Written by kbplpengkajian

April 6, 2013 pada 9:20 pm

Ditulis dalam Mukhammad Isnaeni

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: