Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Rustanti

leave a comment »

Rustanti kini terkenal. Di sebuah berita dalam jaringan Rustanti menjadi berita utama. “Ehem! Jokowi Terpesona. ‘Rustanti’ Kini Cantik’. Ia menjadi topik hangat pasca-Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta. Maklum saja, apa pun yang terkait dengan Jokowi, selalu menjadi topik hangat.

Siapakah sosok Rustanti? Ditilik namanya, tentu ia wanita. Tapi, bukankah Jokowi sudah memiliki pendamping hidup berparas cantik, bernama Iriana dan telah pula dikaruniai tiga orang anak. Selidik punya selidik, ternyata Rustanti yang dimaksud media masa tersebut Rumah Susun Tanah Tinggi.

Rustanti masih asing di telinga kita. Biasanya, untuk menyebutkan rumah milik pemerintah ini, pembaca disuguhi kata rusun (rumah susun), rusunawa (rumah susun sewa), dan rusunami (rumah susun sederhana milik). Rusun secara umum mengambarkan hunian bertingkat kelas menengah ke bawah. Awal awal muncul, seorang teman sempat terkecoh. Rusunami dikiranya rumah susun khusus korban tsunami. Maklum saja, saat itu bencana alam yang menelan ribuan korban di Nanggroe Aceh Darussalam baru saja terjadi.
Indonesia memang kaya akronim. Salah satu produsen raksasa akronim adalah media massa. Untuk sekedar menulis Badan Anggaran, mereka lebih cenderung menulis Banggar, Lampung Utara dengan Lamput atau Lamut, markus untuk mafia kasus, dan sebagainya. Kegemaran ini kadang sangat menganggu pembaca. Kita harus berlama-lama untuk mencerna kata yang dimaksud. Bukan mendapat mendapat informasi, khalayak media massa malah direpotkan hal yang tidak terlalu esensi.

Akronim dalam KBBI adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Frasa “kata yang wajar” menekankan perbedaan utama antara akronim dan singkatan: singkatan tidak diperlakukan sebagai suatu kata. Sedangkan, menurut Pedoman Umum EYD, akronim dibentuk dengan menggabungkan huruf awal (misalnya ABRI), gabungan suku kata (misalnya pemilu), atau kombinasi keduanya (misalnya Akabri). Pembentukan akronim harus memperhatikan dua syarat, yaitu (1) jumlah suku kata jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim dalam bahasa Indonesia, dan (2) ada keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Bicara kelaziman, sebaiknya Rustanti ditulis Rusun Tanah Tinggi seperti Rusun Marunda, Rusun Klender, Rusun Tanah Abang, Rusun Cilincing, Rusun Kalibata, Rusun Kemayoran, dan Rusun Pulomas. Khalayak tentu saja tidak perlu mengernyitkan dahi untuk sekadar memahami tulisan tersebut. Mereka juga langsung paham rusun yang dimaksud berlokasi di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.

Bahasa jurnalistik memang memiliki sifat-sifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, menarik, dan netral (demokratis). Udo Z. Karzi dalam sebuah artikel mengatakan bahwa jurnalistik seharusnya menggunakan bahasa biasa yang mudah dipahami orang. Apa yang disampaikan kepada pembaca harus betul-betul dapat dimengerti orang. (27-2-2013)

Written by kbplpengkajian

Maret 26, 2013 pada 6:17 am

Ditulis dalam Dian Anggraini

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: