Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Haji

leave a comment »

Ada apa dengan kata haji? Dalam kehidupan berbahasa, terutama dalam masyarakat Lampung, terdapat pemakaian yang beragam. Keberagaman itu terlihat dalam pemakaian bahasa tulis. Sekadar contoh penyingkatan kata haji, penulisan gelar sosial untuk orang yang telah beribadah haji, ditulis Hi. dan H. Apakah penulisan singkatan itu salah?

Dalam KBBI edisi IV (2008: 474), kata haji berarti pertama, rukun Islam kelima yang harus dilakukan oleh orang Islam yang mampu dengan berziarah ke Kakbah pada bulan Zulhijah dan mengerjakan amalan haji, sepert ihram, tawaf, sai, dan wukuf di Padang Arafah; kedua, sebutan untuk orang yang sudah melakukan ziarah ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Persoalan yang muncul adalah bagaimana penulisan benar? Apakah ditulis Hi. dan H.? Bahasa Indonesia adalah bahasa yang bernorma dan bertatabahasa. Artinya bahasa Indonesia hidup tidak dapat dilepaskan dari norma masyarakat (kultur) pemakainya juga diatur dalam tatabahasa yang jelas. Itulah sebabnya salah satu penentuan benar atau salah pemakaian bahasa dapat ditentukan dari norma yang berkembang dalam masyarakat pemakainya dan aturan yang dibakukan dalam pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Dalam EYD penyingkatan kata diatur, pertama, singkatan yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih, seperti nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Contoh Kolonel disingkat Kol., Saudara disingkat Sdr., Sarjana Ekonomi disingkat S.E.

Untuk persoalan singkatan kata haji, sebutan bagi orang Islam yang telah menunaikan ibadah haji, tidak dapat dilepaskan dari norma masyarakat (kultur) pemakainya. Dalam masyarakat Lampung berkembang penyingkatan kata haji dengan Hi. dan ada juga dijumpai penyingkatan dengan H.  Manakah penulisan singkatan yang salah dan benar.?

Untuk menjawab persoalan ini kita harus lihat ranah pemakaiannya. Bila penyingkatan dapat dipakai dalam ranah pemakai (kultur) masyarakat Lampung, yang sifatnya lokal atau kedaerahan, tentu penyingkatan haji menjadi Hi. tidak dapat disalahkan. Lain halnya bila itu dipakai dalam ranah umum (kultur nasional), penyingkatan kata haji harus ditulis /H./

Akan tetapi, ada pilihan yang dapat dipakai bila kita takut terjebak dalam penyingkatan salah atau benar di atas, yaitu dengan penulis utuh, seperti Haji Abdullah, Haji Muhammad Idris, Haji Ilham Alam.

Bahasa adalah alat untuk memudahkan kita dalam bermasyarakat. Untuk itulah, kebenaran berbahasa itu tentu tidak dapat dilepaskan dari masyarakat pemakainya. Barang kali yang perlu diperhatikan adalah kultur dan ranah dalam berbahasanya.  (24-10-2012)

Written by kbplpengkajian

Maret 26, 2013 pada 8:23 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: