Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Bandarlampung

leave a comment »

Meski menetap lebih dari satu dekade di Bumi Ruwa Jurai ini masih ada kebingungan di hati saya. Apa benar, saya tinggal di Bandar Lampung atau Bandarlampung? Rupa-rupanya, rekan di media cetak juga merasakan hal serupa. Mantan rekan sejawat di media lokal juga tidak paham cara menulis nama kota yang tepat.

Kesimpangsiuran penulisan nama ibukota Provinsi Lampung ini memang sudah sejak lama terjadi. Diantaranya, digunakan berlainan oleh media massa, swasta hingga instansi pemerintahan. Perbedaan ini mengakibatkan masyarakat awam pun terjebak dalam penggunaan nama ibukota yang kurang tepat.

Ayatrohaedi, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, dalam sebuah artikel, mengakui cara menuliskan nama tempat ternyata tidak semudah mengucapkannya. Ada kalangan tertentu yang karena tugasnya kemudian menyiapkan sejumlah kaidah bagaimana menuliskan nama suatu tempat. Jika hanya menjadi urusan daerah atau nasional, masalahnya tidaklah akan terlalu besar. Namun, ternyata cara penulisan itu melibatkan dunia antarbangsa. Bahkan PBB membentuk lembaga khusus untuk menangani urusan seperti itu yaitu United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN).

Di Indonesia, pemerintah sesungguhnya telah memiliki badan yang memiliki kewenangan menetapkan nama sebuah daerah. Badan tersebut adalah Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) yang bekerjasama pula dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Sesuai dengan aturan dan kaidah bahasa Indonesia yang benar, penulisan Bandarlampung seharusnya digabung, bukan dipisahkan menjadi Bandar Lampung. hal ini disebabkan, Bandarlampung yang terdiri atas dua kata. Selain itu, kata itu tidak menunjukan arah mata angin. Alasan lain yang biasa digunakan sebagai rujukan ialah terkait dengan efisiensi pengunaan kata dan kalimat dalam berbahasa.

Pengecualian diberikan kepada nama daerah yang terdiri dari dua kata, tetapi menggunakan arah mata angin. Cara penulisannya dilakukan terpisah. Contohnya adalah Lampung Timur bukan Lampungtimur, Lampung Barat bukan Lampungbarat, Lampung Selatan bukan Lampungselatan, Lampung Utara bukan Lampungutara, dan Lampung Tengah bukan Lampungtengah.

Lalu, bagaimana dengan nama tempat yang terdiri dari tiga kata, seperti kecamatan Teluk Betung Timur, yang baru saja diresmikan? Penggabungan dilakukan terhadap dua kata pertamanya. Jadi, penulisan yang tepat untuk nama kecamatan pemekaran Telukbetung Selatan ini adalah Telukbetung Timur bukan Teluk Betung Timur. Hal yang sama terjadi pula untuk penulisan nama kecamatan Tanjungkarang Pusat, Telukbetung Barat, Tanjungkarang Barat, dan kecamatan lain yang menggunakan arah mata angin (Agus Sri Danardana, Inilah.com, 1 April 2008).

Untuk nama umum yang berubah menjadi nama tempat misalnya kata gunung pada Gunung Rajabasa dan Gunung Sulah, adalah contoh yang tidak mengubah nama gunung itu. Akan tetapi, jika kata itu dilekatkan pada nama tempat, penulisannya haruslah disatukan menjadi Gunungrajabasa dan Gunungsulah. Begitupula pada penamaan kecamatan Way Halim, yang selayaknya berubah menjadi Wayhalim karena itu bukan lagi nama sungai.

Penulisan nama tempat yang benar dan tepat sesungguhnya bertujuan untuk mempermudah masyarakat untuk mengenal daerah tersebut. Jangan sampai penamaan tempat justru membuat kita salah persepsi karena kemiripan nama yang dimaksud. Salam. (26-12-2012)

Written by kbplpengkajian

Maret 26, 2013 pada 6:21 am

Ditulis dalam Dian Anggraini

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: