Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Betis, Dengkul, dan Pinggang

leave a comment »

Musim penghujan mengguyur hampir sebagian besar wilayah di Indonesia. Sebagian besar wilayah Jakarta terendam banjir. Hampir seluruh media massa berlomba-lomba memberikan informasi terkini mengenai peristiwa ini. Sebuah media massa memberitakan “Rutan Pondok Bambu Banjir Sedengkul, Napi Diungsikan ke Lantai 2”. Media massa yang lain memberitakan “Gulung Celana, SBY Pantau Banjir Sebetis di Istana”. Ada lagi berita “Banjir Sepinggang, Lalu Lintas di Bundaran HI Lumpuh”. Ya, paling tidak, itulah beberapa berita yang menginformasikan peristiwa banjir di Jakarta awal tahun ini.

Ada yang menarik dari berita seputar banjir ini, paling tidak bagi orang-orang yang menggeluti ilmu pasti. Saya katakan demikian karena dalam berita-berita yang dituliskan tersebut dituliskan satuan ukuran, yakni sedengkul, sebetis, dan sepinggang. Beberapa berita juga ada yang menuliskan semata kaki dan sepaha. Ukuran-ukuran ini digunakan untuk menjelaskan tingginya banjir yang melanda sebuah wilayah.

Nah, sekarang mari sejenak kita mengingat-ingat pelajaran saat di Sekolah Dasar mengenai satuan ukuran panjang dan atau tinggi yang melibatkan anggota tubuh manusia. Paling tidak, kita mengenal satuan ukuran hasta dan kaki. Hasta ‘satuan ukuran sepanjang lengan bawah ¼ depa (dr siku sampai ke ujung jari tengah)’. Kaki ‘feet’ ‘ukuran panjang, 12 inci (= ? 0.3048 m)’.

Kedua satuan ukuran ini sudah lazim digunakan. Hanya saja, istilah kaki memiliki nilai yang lebih pasti karena telah memiliki konversi internasional yang tidak hanya berlaku di Indonesia. Jadi ketika, dikatakan tinggi sebuah benda adalah lima kaki maka kita dapat mengukur tinggi benda itu kurang lebih 1.5 meter. Tidak demikian halnya dengan hasta, satuan ukuran ini hanya berlaku di Indonesia sehingga sulit dikonversikan menjadi ukuran yang pasti dalam meter maupun sentimeter. Oleh karena itu, muncul juga istilah depa yang sama-sama tidak memiliki nilai yang pasti. Depa’ukuran sepanjang kedua belah tangan mendepang dari ujung jari tengah tangan kiri sampai ke ujung jari tengah tangan kanan (empat hasta, enam kaki)’.

Istilah hasta dan depa ini sudah diperkenalkan nenek moyang kita sejak dulu. Seiring perkembangan zaman, kedua istilah ini sudah jarang digunakan karena orang sudah mulai mengenal satuan ukuran tinggi dan atau panjang yang memiliki nilai yang lebih pasti, yakni sentimeter dan meter.

Berangkat dari analogi ini, tentunya menjadi aneh ketika dimunculkan istilah baru yang dijadikan satuan ukuran seperti semata kaki, sebetis, sedengkul, sepaha, dan sepinggang. Seorang asing pengguna internet pernah menyampaikan bagaiman dia bingung ketika berita-berita banjir di Indonesia menginformasikan ketinggian banjir dengan satuan ukuran semata kaki, sebetis, sedengkul, sepaha, dan sepinggang. Hal ini tentu dapat dimaklumi karena satuan ukuran yang muncul ini tidak memiliki ukuran pasti sebagaimana satuan ukuran yang sudah menjadi konversi internasional. Belum lagi kemudian muncul frasa penjelas seperti sepaha orang dewasa, sepinggang orang dewasa, dan sedengkul orang dewasa. Bukankah tinggi dengkul, paha, dan pinggang tidak sama antara orang dewasa yang satu dengan orang dewasa yang lain? Entahlah, bagi saya, tetap saja satuan meter dan sentimeter lebih mudah dipahami. Bagaimana dengan Anda? (30-1-2013)

Written by kbplpengkajian

Maret 25, 2013 pada 5:00 pm

Ditulis dalam Yulfi Zawarnis

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: