Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pada Suatu Hari: Kalimat dan Inggris

leave a comment »

Pada suatu hari, sepulang dari kampus di bilangan Depok, bertumpang kereta listrik menuju Gambir, di tengah riuh penumpang mata saya tertuju pada sebuah iklan: “Di kereta bisa sampai jamuran, tapi jangan jamuran saat naik kereta.” Saya mencerna sembari menimang muatan semantik kalimat tersebut—sembari sedikit memaksa, saya jadi sibuk bermain dengan parafrasa atas kalimat tersebut. Maksudnya, mesti menggabung-gabungkan siratan perkiraan atas sederetan tata bahasa tersebut.

Barangkali, seturut saya membahasakannya, kalimat tersebut seolah menyiratkan untuk bilang begini: “di kereta (yang kita tunggu ini—lantaran penyakit transportasi negeri ini adalah ketidakdisiplinan waktu atau ngaret) bisa (membuat/mengakibatkan kita menunggu) sampai jamuran, tapi (asalkan saja) jangan (membuat kita, saya, ataupun kamu menjadi) jamuran saat naik kereta.

Baiklah, saya tak menyoal lebih jauh tentang bahasa iklan; biarlah berjalan sebagaimana terjadi. Hanya saja, peran bahasa yang dapat dikatakan sikap provokasi sebuah produk sebagai penghubung terhadap masyarakatnya, mestilah efektif dan “bertenaga”. Terlebih persoalan logis atau tak logis. Maka, bila perlu kita jangan sampai menanggungkan beban pada kalimat. Maksudnya, jika memang tujuannya tersirat atau sebaliknya, tetap diberikan (perhitungkan) konstruksi unsur dalam sebuah kalimat.

Pada kalimat iklan di atas, saya melihat (atau merasakan) betapa kalimat cukup menanggung beban; suatu beban yang mesti dipikul lantaran subyek yang tak ada (entah tak jelas atau sengaja dielipsiskan—kalaupun elipsis, tak tampak kematangan dalam kalimat itu). Seperti berhadapan dengan kematian sebuah subyek. Lantaran cukup sulit meneroka subyek tertuju dari kalimat tersebut; kita, aku, kamu, atau keretakah? Entah sesiapa yang jamuran.

Syahdan, pada suatu hari berikutnya, bertepatan jelang tahun baru kemarin yang kita rayakan cukup ingar, saya mesti kembali mengerutkan dahi; lantaran jalan protokol berubah sehari menjadi Car Free Day. Saya masih tak paham, lagi-lagi “keinggris-inggrisan”. Tak bermaksud hanyut bergelisah atas kalimat itu, tapi merasa kehilangan. Kehilangan usaha pemaksimalan kosakata (begitu banyak pilihan kata) dalam bahasa Indonesia. Apalah susah sekadar bilang “Hari Tanpa Kendaraan Bermotor”. Atau (mungkin) dengan kalimat bahasa Indonesia yang mungkin jauh lebih tepat.

Ironisnya, jelang sore, saya melihat pada sebuah Pom Bensin cukup megah terpampang sebuah tulisan besar: Fun Free Day. Saya pun mencoba ingin tahu. Mereka bilang atas dasar menyambut tahun baru, mereka ingin melepas kegembiraan dengan bebas. Sebebas-bebasnya. Sebuah hari di mana kita bisa sebebas mungkin untuk bergembira, kata seorang satpam Pom Bensin.

Saya tak tahu,  (mungkin) kadang sebuah maksud terlalu sering mendahului arti, lalu  kalimat kerap terjadi begitu saja. Tanpa sadar. Barangkali silap.

Kembali menyoal Fun Free Day; maksud hati sebuah prosesi terhadap hari bebas nan bergembira—ternyata konotasi dari kalimat itu terlepas dari arti sebenarnya. Lantaran hari bebas bergembira bagi masyarakat asing sana lebih paham, yakni bebas yang artinya tanpa bergembira atau malah hari yang penuh stres.

Written by kbplpengkajian

Februari 25, 2013 pada 3:10 am

Ditulis dalam F. Moses

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: