Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Es Krim

leave a comment »

Es Krim, tentu, kita bertanya-tanya ada apa dengan frasa itu? Frasa itu perlu ditilik lagi dalam pemakaiannya. Setelah bergaul dengan tulisan J.S. Badudu tentang “Hukum DM dalam Bahasa Indonesia”, Intisari, edisi September 2003: 152-153, bahwa salah satu sifat utama bahasa Indonesia adalah memiliki hukum DM (diterangkan-menerangkan) dan sejalan dengan pendapat Ajip Rosidi dalam Pikiran Rakyat, bahwa kata-kata yang diambil dari bahasa asing (yang mengikuti hukum MD), susunannya diubah disesuaikan dengan hukum DM, seperti schrijft tafel menjadi meja tulis, black market menjadi pasar gelap, air mail menjadi pos udara.

Bagaimana dengan es krim? Es krim berasal dari bahasa Inggris ice cream yang berhukum MD. Ice cream dilafalkan menjadi es krim padahal seharusnya menjadi krim es dalam bahasa Indonesia yang berhukum DM. Begitu pula dengan Matahari Mall padahal seharusnya  Mal Matahari; Central Plaza padahal seharusnya Plaza Sentral.

Selain itu, kita pun latah seperti bentuk lain kesempatan. Tidak sedikit ungkapan yang tak layak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sadar atau tidak, ketaklayakan itu acap kali kita lakukan. Ketaklayakan terlihat pada ungkapan lain kesempatan. Bentuk lain kesempatan itu tidak sesuai aturan susunan kata dalam bahasa Indonesia.

Ketaklayakan bentuk itu disebabkan tidak sesuai dengan kaidah DM. Kaidah DM, yang dimotori Sutan Takdir Alisjahbana, adalah kaidah yang mengatur susunan kata dalam bahasa Indonesia adalah kata yang diterangkan selalu terletak di sebelah kiri, sebagai pokok isi; sedangkan kata yang berfungsi menerangkan terletak di sebelah kanan kata yang diterangkan, sebagai sebutan isi. Artinya sebuah frasa, terdiri atas unsur utama yang diikuti oleh unsur penjelas.

Bagaimana dengan bentuk lain kesempatan? Semestinya bentuk lain kesempatan menjadi kesempatan lain karena kata yang diterangkan adalah kesempatan, sebagai pokok isi;  sedangkan kata lain adalah kata yang berfungsi sebagai kata yang menerangkan, sebagai sebutan isi. Bentuk lain kesempatan mempunyai arti ‘jika ada waktu atau peluang untuk dapat bertemu lagi’.

Begitu juga dengan bentuk banyak orang. Kata itu seharusnya ditulis orang banyak. Kata orang sebagai yang menerangkan, sedangkan kata banyak sebagai yang diterangkan. Bentuk orang banyak berarti ‘untuk umum’ atau ‘khalayak ramai’. Sebentuk juga dengan total nilai, semestinya bentuk itu ditulis nilai total. Kata nilai sebagai diterangkan, pokok isi, dan kata total sebagai menerangkan, sebutan isi. Bentuk nilai total berarti ‘jumlah keseluruhan’.

Mengapa hukum DM ini menjadi penting? Hal ini karena pemakaian susunan yang salah akan berujung pada arti yang salah, seperti penulis perempuan dan perempuan penulis, perempuan peneliti dan peneliti perempuan. Bila kita ingin menyatakan penulisnya adalah seorang wanita, tentu kita akan tulis penulis wanita. Penulis sebagai diterangkan dan wanita sebagai menerangkan. Begitu pula dengan kata perempuan peneliti dimaksudkan perempuan yang berprofesi sebagai peneliti, begitu sebaliknya jika peneliti perempuan dimasudkan peneliti yang membahas tentang perempuan. Untuk itu, perlu kiranya kita perhatikan lagi pemakain beberapa kata yang bersusun tak layak karena tidak berkaidah DM. Ini tentu tanggung jawab kita bersama!

*) dari berbagai sumber

Written by kbplpengkajian

Februari 6, 2013 pada 7:56 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: