Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Kerajinan Tahu-Tempe?

leave a comment »

AKHIR-AKHIR ini kita dihebohkan dengan kelangkaan kedelai yang merupakan bahan baku tahu dan tempe. Media massa cetak dan elektronik marak mewartakan kejadian ini. Sayangnya, beberapa media yang saya rasa kurang tepat dalam pemilihan kata terkait dengan pemberitaan itu.

Kekurangcermatan diksi itu terdapat pada bentuk “perajin tahu-tempe”. Pemilihan kosakata perajin, menurut hemat penulis, kurang tepat. Sebab, dalam senarai KBBI, perajin memiliki arti leksikal: (1)  orang yang bersifat rajin, (2) sesuatu yang mendorong orang untuk menjadi rajin, (3) orang yang pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan.

Berdasar konteks berita yang akhir-akhir ini ramai diekspos itu, pengertian yang ketigalah yang biasanya dirujuk. Perajin yang didefinisikan dalam pengertian tersebut adalah untuk menyatakan orang yang hanya berkecimpung pada barang kerajinan, bukan tahu-tempe, yang merupakan jenis makanan.

Dengan demikian, rasanya kurang tepat apabila untuk menyatakan seseorang yang bergelut dalam industri penganan tahu-tempe disebut perajin. Akan lebih tepat apabila penulis/editor bahasa/redaktur/wartawan memakai kata pengusaha atau produsen sebagai pengganti kata perajin itu, sedangkan perajin bisa dirangkai dengan kata rotan, langseng, dan barang kerajinan lainnya.

Untungnya, sudah ada beberapa media juga yang “melek” dan meninggalkan istilah perajin untuk menyatakan seseorang/pihak yang bergelut dalam industri di luar barang kerajinan itu.

Yang jadi masalah, mungkin ada beberapa penulis yang menganggap tahu-tempe sebagai bagian dari barang kerajinan itu sehingga dia tidak merasa risi ketika menggunakan kata perajin untuk “membungkus” gagasannya.

Kata pengusaha lebih tepat dan aman digunakan karena lema itu memiliki arti leksikal orang yang mengusahakan (perdagangan, industri, dsb.); orang yang berusaha dalam bidang perdagangan; saudagar; usahawan. Nah, berdasarkan pengertian itu, jelaslah bahwa tahu-tempe tercakup ke bidang industri dan perdagangan seperti yang tertulis pada kamus.

Memang kita terkadang sungkan memakai kata pengusaha untuk menyebut sesorang yang berusaha dalam skala kecil. Sebab, dalam benak keliru kita, istilah pengusaha digunakan untuk orang yang sudah menjadi usahawan besar, misalnya seperti Aburizal Bakrie atau Roman Abramovic. Padahal, orang yang berusaha dalam industri kecil seperti usaha tahu-tempe atau usaha gorengan pun bisa disebut pengusaha.

Bagaimana dengan produsen, apakah bisa digunakan? Sesuai KBBI, lema itu bermakna penghasil barang. Artinya, penggunaan kata produsen terasa lebih aman digunakan karena cakupan maknanya lebih luas, tidak seperti kata perajin yang pengerjaannya fokus pada barang kerajinan. ***

Written by kbplpengkajian

September 12, 2012 pada 7:04 am

Ditulis dalam Chairil Anwar

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: