Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Penulis Juga Bersepak Bola

leave a comment »

Menulis tidak ubah bersepak bola; mengatur pola serangan lalu menggocek kata per kata di lapangan kalimat. Menembus gawang retorika untuk menciptakan kedudukan menjadi lebih efektif. Makin bernalar kegramatikalan bahasa tersebut, tajam dan jernihlah usaha si pengujar sebagai pemenang dalam tiap momentum lisan maupun tulisan yang tidak sekadar tegas, jelas, dan kritis, tetapi juga indah.

“Kata” ibarat kesebelasan dan penulis ialah pelatih jika boleh dikatakan demikian. Perbedaannya pun cukup, yakni kehadiran para pemain cadangan. Oleh sebab itu, penulis saya rasa mesti sama kebahagiaanya seperti menjadi pelatih kesebelasan “kata-kata” terhadap pelatih sepak bola sungguhan. Bahkan, penulis jauh lebih banyak memiliki pemain cadangan yang jumlahnya ratusan, ribuan, bahkan lebih dan lebih. Kadang jadi ingin saya bilang betapa luar biasa kerja penulis itu.

Mungkin ada baiknya penulis juga berguru terhadap pelatih sepak bola sungguhan yang baik; bagaimana kemampuan bertaktik jitu dapat meramu pemain inti untuk lebih dahulu turun ke lapangan dan cadangan untuk disimpan sementara. Seperti halnya penulis mesti demikian, menyiapkan cadangan “kata-kata” untuk diturunkan ke lapangan kalimat bila dari sekalimat (beberapa kalimat) sudah dirasakan ada “letih kata” lantaran ia sering dimainkan. Maksudnya, tidak lain untuk menghindari kesamaan ujaran dalam tulisan.

Misalnya, tatkala dalam satu/tiap per kalimat sudah memilih diksi wajah dirasa tidak perlu lagi menggunakan rona, kabut menyertakan pula halimun, kemudian kekuning-kuningan disertakan pula biring. Dari contoh sederhana itu, setidaknya penulis dirasa perlu memilih salah satunya. Itu baru tiga kata, apalagi bila membuka kamus (KBBI) lebih lanjut. Tentu jauh lebih anggun dalam pemberian variasi bentuk pilihan kata. Seperti tidak ubahnya seorang pemahat penulis itu.

Jadi, saya rasa, bila kamu seorang penulis prosa, puisi, esai, reportase, makalah, atau bahkan catatan harian pengantar tidur belaka, “kitab”-mu adalah KBBI. Ya, sekali lagi memang jadi menyoal kamus—selain banyak membaca, tentunya.

Ada banyak orang menulis. Andai “para kata” bisa berujar—anggaplah ia bisa dan kamu mampu mendengarkannya: betapa letih aku ini, kerap kau pakai, bahkan tega kau sepadankan hingga aku terlihat tidak rapi, tepat, dan berkalimat baik/tubuhku menjadi tidak utuh dan fakir makna.

Syahdan, atas hal tersebut, beberapa pemadanan konjungsi acap menjadi lebih sering berperkara karena pemosisiannya tidak tepat, seperti konjungsi syarat yang tidak lagi merapat pada jika, kalau, manakala, andaikata, asal(kan); tujuan pada agar, supaya, dan biar; perlawanan pada walaupun, kendati(pun), biarpun; penyebabab pada sebab, karena, oleh karena; pengakibatan pada maka dan sehingga; cara/alat pada dengan dan tanpa; perbandingan pada seperti, bagaikan, dan alih-alih; penjelasan pada bahwa; lalu kenyataan pada “padahal”.

Kegawalan memang kerap merapat di pelipiran ingatan keseharian kita; terhadap penuaian tradisi lisan maupun tulis. Khususnya tulisan, apapun namanya tatkala tersergap oleh hawa nafsu literer, kala itu pula kita mesti ingat bahkan catat bahwa menjadi pelatih kesebelasan kata-kata di sekeliling bahkan “kitab” acuan amunisi berbahasa kita dalam perlakuannya kadang masih semena-mena. Bahkan arbiter.

Written by kbplpengkajian

Juni 27, 2012 pada 3:55 pm

Ditulis dalam F. Moses

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: