Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Semalam Siap Seronok

leave a comment »

BAGI sebagian besar penutur bahasa Indonesia, judul tulisan ini bisa jadi menimbulkan rasa penasaran dan asosiasi negatif karena berpotensi menyaran pada pemikiran/makna bahwa ada (orang) yang mampu tampil erotis dalam (selama) satu malam.

Penyebab timbulnya rasa penasaran dan asosiasi negatif itu pun sudah dapat diduga, yakni penggunaan kata semalam ‘satu malam’ dan siap sedia, mampu (untuk rasa penasaran) serta kata seronok erotis, menggairahkan (untuk asosiasi negatif). Padahal, ketiga kata itu (semalam, siap, dan seronok), bagi sebagian penutur bahasa Indonesia lainnya, bisa jadi memiliki makna/arti yang lain.

Di daerah-daerah tertentu (Sumatera, khususnya Riau) ketiga kata itu masing-masing digunakan untuk makna/arti kemarin, usai, setelah, dan menyenangkan hati, sedap dilihat/didengar, seperti tampak pada kalimat berikut.

1. Saya setuju pada pendapat yang Anda utarakan saat makan siang semalam.

2. Kita berangkat siap asar saja ya, Pak.

3. Sungguh seronok suara penyanyi gaek itu.

Dalam kajian linguistik, utamanya semantik, diyakini bahwa makna tidak turun dari langit. Menurut Parera (dalam Teori Semantik, 2004), makna simbol bahasa ditentukan oleh manusia tidak berdasarkan kesepakatan diam yang bersifat konvensional, tetapi dinamis sesuai dengan perkembangan perpikiran manusia pemakainya.

Artinya, makna sebuah kata lazim jika mengalami pergeseran bahkan perubahan. Dalam hal ini, Parera mencontohkan dua kata Prancis: cadeau (huruf kapital) dan voyage (perjalanan). Makna kedua kata itu kini telah berubah, masing-masing menjadi hadiah, pemberian, dan perjalanan laut/sungai. Hal yang sama terjadi pula dalam bahasa Indonesia.

Kata canggih, misalnya, yang semula berarti cerewet, bawel, dan suka mengganggu telah mengalami pergeseran dan/atau perubahan (bahkan penambahan) makna menjadi kehilangan kesederhanaan yang asli, berpengalaman, dan bergaya intelektual (KBBI, 2008: 241).

Melalui tulisannya, Andai Anda Melayu Riau (Kompas, 30 Maret 2012), Taufik Ikram Jamil (TIJ) mempersoalkan penggunaan kata seronok dan sumpah serapah yang dianggapnya sudah bergeser dari makna aslinya. Sebagai pengguna bahasa Melayu (yang merupakan cikal-bakal bahasa Indonesia), ia sangat prihatin atas terjadinya pergeseran makna itu.

Keprihatinan TIJ itu seharusnya tidak perlu terjadi jika pengguna bahasa Indonesia akrab dengan kamus. Dalam KBBI (2008: 1289), misalnya, seronok jelas-jelas berarti menyenangkan hati, sedap dilihat (didengar, dsb.), sama persis dengan yang dipahami TIJ.

Begitupun dengan kata sumpah ‘kata-kata yang buruk (makian), kutuk, tulah’ dalam KBBI (2008: 1354) masih dimungkinkan untuk berpasangan dengan seranah, tidak harus selalu berpasangan dengan serapah.

Ketidakakraban pengguna bahasa Indonesia dengan kamus akan mengakibatkan pergeseran dan/atau perubahan arti kata tidak dapat dihambat lajunya.

Written by kbplpengkajian

Juni 6, 2012 pada 3:14 pm

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: