Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Sama tapi Tak Serupa

leave a comment »

Saya yakin di dunia ini ada berbagai macam persamaan yang sering kita temukan. Karena itu, jika baju yang saya kenakan sama dengan baju tetangga saya, itu hal yang lumrah. Saya tidak boleh marah, dan sangat egois jika saya bilang sama dia bahwa baju dia tidak boleh sama dengan baju yang saya kenakan.

Baiklah, tulisan ini sama sekali tidak membahas tentang persamaan baju saya dengan tetangga sebelah. Sebab, itu urusan pribadi, tidak perlu saya tuliskan di sini. Namun, kiranya kita perlu memperhatikan paragraf pertama yang saya tulis di atas. Pada paragraf tersebut ada sebuah kalimat “Saya bilang sama dia”. Anda dan saya boleh sama-sama bertanya, apa yang salah dengan kalimat tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “sama” berarti serupa (halnya, keadaanya, dsb.) dengan contoh kalimat: Pada umumnya, mata pencarian penduduk desa itu sama saja.; Kedua soal itu sama sulitnya.

Atau bisa juga bermakna berbarengan, bertepatan, sepadan, seimbang, sebandaing, dan setara. Sedangkan lema “sama” dalam fungsi percakapan memiliki arti dengan, oleh, dan pada (untuk menyatakan pelakunya banyak). Pengertian terakhir ini memiliki contoh kalimat: Penduduk … meninggalkan desanya.

Sekarang, mari kita kembali pada kalimat yang saya sebutkan sebelumnya “Saya bilang sama dia”. Jika kata “serupa” diambil sebagai pengertian lema “sama”, ucapan saya akan menjadi “Saya bilang serupa dia”. Sudah bisa ditebak, kalau saya mengganti kata “sama” dengan serupa dalam arti kepada, tidak akan ada yang percaya bahwa saya belajar Bahasa Indonesia hingga bangku kuliah.

Pengertian kedua pun demikian, jika saya gunakan arti kedua dari lema “sama” sehingga kalimat itu menjadi “Saya bilang berbarengan dia.”, orang-orang juga akan berdecak heran, bagaimana bisa saya lulus ujian nasional materi Bahasa Indonesia.

Di dalam percakapan bahasa kita, struktur kalimat yang tak semestinya dipakai terkadang menjadi benar karena sudah lumrah digunakan. Oleh karena itu, ketika kata “sama” sudah dapat dipahami secara baik sebagai ganti dari kata “kepada”, akhirnya kita menggunakan kata tersebut berulang-ulang dalam kalimat yang tak seharusnya.

Padahal, sudah barang tentu, ketika saya ingin menyampaikan suatu perkataan (bilang), ada proses transfer dari seorang yang ingin memberi informasi kepada seseorang yang menerima informasi. Dalam artian ada transfer dari A ke B, bukan A sama B memberi informasi dan menerima secara bersamaan.

Jadi, jika suatu saat Anda atau saya menjadi pewara televisi yang menghadirkan seorang bintang tamu dan mengharuskan komunikasi tanya jawab, kita perlu hati-hati untuk tidak mengatakan “Saya ingin bertanya sama Anda”.

Karena tidak menutup kemungkinan bintang tamu yang hadir adalah ahli bahasa dan dia mengira bahwa kita sedang mengajak untuk bertanya bersama dan menjawab pertanyaan secara bersama.

Written by kbplpengkajian

Juni 6, 2012 pada 3:11 pm

Ditulis dalam Ach. Nurcholis Majid

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: