Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

‘Japri’

leave a comment »

Beberapa teman menggunakan kata “japri” saat ada info yang sifatnya sangat pribadi di jejaring sosial dan grup BlackBerry Messenger. Awalnya saya tidak ngeh, apa sih japri itu. Kalau japra sih tahu. Biasanya, lema itu dipakai saat mengumpat teman yang rada kurang nyambung saat diajak mengobrol. “Ah, kamu mah japra, gitu aja enggak tahu.” Demikian biasa kata japra itu digunakan dalam bahasa lisan.

Tapi japri ini apa? Istri saya yang memberi tahu. Ternyata, japri itu akronim dari “jaringan pribadi”. Maksdunya, untuk hal yang sifatnya privasi, informasi jangan disampaikan ke ruang terbuka. Lebih baik hal itu disampaikan secara pribadi. Japri itu namanya.

Misalnya menanyakan hal yang pribadi di grup pertemanan di Facebook atau grup BlackBerry Messenger. Lebih baik kita kirim pesan saja ke kotak pribadi di jejaring sosial atau nomor ponsel pribadinya. Saya kemudian mengerti, rupanya itulah makna japri. Jadul banget ya? japri saja tidak tahu.

Jadul juga akronim lo, jaman dulu. Tulisan “jaman“-nya sudah pasti salah, karena yang betul ialah “zaman”. Cuma kalau bilang “zadul sepertinya lisan kurang enak. Agak gimana gitu.

Memang masyarakat kita, dibantu dengan media massa, piawai menyingkat gabungan kata atau mengakronimkannya. Di Detikcom saja, untuk menyingkat tim sukses, dibuat timses. Barangkali ini merujuk pada timsel untuk tim seleksi, timwas untuk tim pengawas. Ada yurisprudensi juga rupanya dalam pembentukan kata baru dalam ranah literasi kita.

Herannya, tidak semua bentukan baru ini disambut hangat para penutur. Ada yang baik, tapi kurang acap dipakai. Misalnya surat elektronik yang diakronimkan dengan surel. Ini sebetulnya bagus karena berusaha mengindonesiakan email. Benar, kan? Justru dengan menggunakan surel, kita mencoba menempatkan bahasa Indonesia dalam makam yang pantas. Tetapi cuma sedikit yang menggunakannya. Semua kantor masih akrab dengan email ketimbang surel. Cuma di Kantor Bahasa Provinsi Lampung saja saya menemukan diksi surel itu.

Ya, bahasa memang luwes sekali. Begitu ada akronim yang enak didengar, gampang diucapkan, maka memasyarakatlah itu. Kita kini akrab dengan cekal sebagai diksi sendiri, padahal berawal dari akronim cegah tangkal. Juga dengan rudal yang bentukan baru dari peluru kendali. Juga dunia seni akrab dengan sendratari yang dulunya akronim dari seni drama dan tari. Ah, biarlah. Toh semua untuk publik. Kalau ada yang pribadi, silakan di-japri-kan saja. Walllahualam bissawab.

Written by kbplpengkajian

April 11, 2012 pada 3:31 am

Ditulis dalam Adian Saputra

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: