Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

‘Hafalan Shalat Delisa’

leave a comment »

Hafalan Shalat Delisa adalah judul film berdasar novel karya Tere Liye. Film tersebut berkisah tentang seorang gadis cilik yang periang bernama Delisa. Perawan kencur itu berasal dari Desa Lhok Nga, Aceh Timur. Saat tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004, pada saat yang sama Delisa akan mengikuti ujian praktek salat yang ia pelajari.

Kemudian, tsunami mengubah jalan hidupnya. Delisa terpisah dari keluarganya, kakinya mengalami cedera saat gelombang air itu datang. Beruntung ia ditemukan oleh prajurit Smith saat pingsan. Kaki Delisa kemudian diamputasi dan dalam tenda penampungan korban bencana pascatsunami ia menjadi inspirasi dan penyemangat hidup bagi sesama korban bencana itu.

Tulisan ini tidak bermaksud mengomentari film tersebut, tetapi secara khusus akan membahas gugus konsonan /sh/ yang digunakan dalam kata “shalat” pada judul film tersebut. Selain kata “shalat”, kita kerap menjumpai (dalam bahasa tulis) gugus konsonan /sh/ yang digunakan dalam kata seperti shahur, shalawat, shubuh, shahih, shaf, dan lain-lain sebagai kata dari serapan bahasa Arab yang seolah-olah bergugus konsonan /sh/.

Penggunaan gugus konsonan /sh/ itu perlu dicurigai akibat dari analogi adanya gugus konsonan /kh/, seperti dalam kata khalayak, khalifah, khalik, khamar, khas, khawatir, khazanah, dan lain-lain sebagai kata serapan dari bahasa Arab bergugus konsonan /kh/. Pertanyaan yang muncul, benarkah analogi tersebut?

Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI) Edisi III (2008) menyebutkan bila dua konsonan terdapat dalam satu suku kata yang sama (suku kata KKV), konsonan pertama terbatas pada konsonan hambat /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, dan konsonan frikatif (bunyi desis) /f/, /s/, sedangkan konsonan keduanya terbatas pada konsonan /r/ atau /l/, /w/, /m/, /n/, /t/, /k/.

Menyoal konsonan frikatif /s/, gugus konsonannya adalah /sl/, /sr/, /sw/, /sp/, /sm/, /sn/, /sk/, /st/, /sf/ seperti pada kata slogan, sriwijaya, swalayan, spora, smokel, snobisme, skala, status, sferoid.

Gugus konsonan /sh/ pada contoh kata serapan asing itu diserap dari huruf “shad” huruf ke-14 abjad Arab. Konsonan itu dianggap sama dengan konsonan /kha/, huruf ke-7 abjad Arab. Karena /kha/ terdapat gugus konsonan /kh/, hal ini diperlakukan sama pada konsonan /sh/ huruf “shad” sehingga terjadilah penulisan kata serapan bahasa Arab tersebut yang sesungguhnya menyalahi kaidah TBBI, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.

Jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III (2005), penulisan kata shalat, shahur, shalawat, shubuh, dan shahih ditulis tanpa konsonan /h/ karena memang frikatif /s/ bahasa Indonesia tidak atau belum mempunyai gugus konsonan /sh/.

Hal ini dipertegas oleh Ratih Rahayu yang menyimpulkan bahwa dari sekian banyak kata yang berawalan huruf /s/ dalam KBBI, tidak ada satu pun kata yang berawalan /sh/, (lihat Ratih Rahayu dalam Laras Bahasa: Fobia Bahasa Indonesia, hlm. 76, Kantor Bahasa Provinsi Lampung, 2008). Sehingga shalat, shubuh, dan shahih jika ingin memenuhi kaidah penggunaan bahasa yang baik dan benar seharusnya ditulis salat, sahih, dan subuh.

Kesalahpahaman atau ketidakhirauan terhadap penggunaan tata bahasa, ejaan, dan penulisan unsur serapan dari bahasa asing tampaknya sudah mengakar kuat dalam diri masyarakat Indonesia. Sehingga, untuk mewujudkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar serta bangga berbahasa Indonesia masih berupa jalan yang sangat panjang.

Written by kbplpengkajian

Maret 8, 2012 pada 9:54 am

Ditulis dalam Suheri

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: