Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pesta Kalimat Pendek

leave a comment »

 

COBALAH tengok kaca belakang angkot-angkot di sepanjang jalan setiap melintasi ruas-ruas kota; saat kendaraanmu terdahului, ketika mereka mengetem di sepanjang halte, depan mal, bahkan di pelipiran trotoar yang membuat pejalan kaki sedikit terganggu.

Perhatikanlah sejenak—sesungguhnya mereka hendak menebar pesona berbahasa mereka. Semacam ada isyarat yang hendak diunggah oleh mereka dari suara hati kecil sesungguhnya. Semacam pelisanan mereka untuk dirimu ketahui; dari frasa-frasa, idiom, bahkan tak jarang adalah semacam aforisma. Menurut saya. Tentunya kamu punya pendapat lain, ya.

Ya, para sopir angkot itu, yang senantiasa berkelindan dari ruas ke ruas tiap-tiap jalan di penjuru kota bahkan gang-gang sempit juga sepanjang jalan protokol; mereka menebarkan sekalimat berbahasa seturut mereka. Kita, sepertinya, dipaksa-memaksa-bahkan terpaksa mesti “memfrasekan” apa yang mereka maksud. Seperti beberapa angkot yang saya amati berstiker guntingan yang berbunyi begini: Mencari Nafkah Demi Desah, Warning: Cewek Jelek Dilarang Naik!!!; Naik Gratis, Turun Bayar; Bila Sopir ini Selingkuh, Harap Hubungi Dian Sastro; Anda Butuh Waktu, Kami Butuh Uang; Cintamu Tak Semurni Bensinku; Kutunggu Jandamu; Sesama Penumpang Dilarang Saling Naksir; Muka Setan, Hati Malaikat; Pulang Dimarahin…Ga Pulang Dicariin; Akibat Putus Sekolah; Di Doa Ibuku, Namaku Disebut; Pergi Karena Tugas…Pulang Karena Beras; Sembahyanglah Kamu Sebelum Kamu Disembahyangkan; Tersisih Dalam Penampilan; Tabah Menanti; dan masih banyak lagi.

Mungkin kamu tak asing lagi dari apa yang saya sebut di atas. Mungkin sudah terlalu basi atau tak pantas lagi untuk dibicarakan lantaran sering tertumbuk atau pernah terbahas atas bunyi-bunyi dari kalimat-kalimat tersebut. Tapi, setidakmya, saya ingin sekadar berkabar saja hari ini: bahwa sikap bermain frasa yang cenderung seperti kita endus bak aforisma tersebut adalah kebiasaan positif serta apresiatif dari para sopir yang tak melulu angkot terhadap bahasa Indonesia—karena tak sedikit pula kita melihatnya dari para sopir truk, travel, bahkan bus malam.

Kesimpulan sederhana saya, bermain-main dengan bahasa memang paling mengasyikan—selain perannya sebagai komunikasi keseharian dalam situasi formal serta nonformal.

Bagi sopir angkot itu sendiri, suatu ketika saya tanyakan alasan mereka menulis seperti itu, adalah tak lain lantaran biar ada yang dikenang dari para penumpangnya. “Karena tak bermaksud gaya-gayaan atau gagah-gagahan aja, Bang, jadi biar ada yang paling diingatlah oleh para penumpang,” ujar Joki, pemilik angkot Tanjungkarang-Telukbetung.

Dari ujaran sekilas sopir tersebut, saya (mungkin) menangkap ada kesungguhan berbahasa Indonesia yang ingin diikhtiarkannya. Semacam ada yang ingin ditanggalkan ke dalam lubuk penumpangnya—itu pun andai penumpang tersebut terjawil oleh cara berbahasa dari kaca belakang angkot tersebut. Jika tidak, ya, tentunya akan dapat terlihat lagi oleh penumpang lain atau entah sesiapa. Mungkin juga kamu atau saya, bahkan rekan, atau orang-orang yang tak kita kenal.

Setidaknya pula saya memercayai, entah sopir angkot, travel, bus malam, atau bahkan truk-truk yang kecenderungan pada bagian samping atau belakang bak terbukanya itu bergambar kemudian terselipkan sekalimat pendek, adalah tindakan konkret mereka yang tak ubahnya para penyair atau pengarang dalam menapis sebuah judul: betapa penuh refleksi tanpa tendensi yang macam-macam apalagi muluk-muluk. Ya, tak sekadar berbahasa untuk mencapai titik kebersahajaan belaka, tapi kedinamisan terhadap “permainan berbahasa” itu sendiri.

Suatu ketika minitruk menyalip sepeda motor saya. Bikin kaget, tapi ada yang masih saya ingat—kalimat pendek seperti bikin meledak makna tersirat: di sebelah gambar perempuan berbikini pada bagian belakang truk bertuliskan: Asal Abang Kuat Nanjak, Silakan Lewat Aje.

Written by kbplpengkajian

Februari 29, 2012 pada 1:07 pm

Ditulis dalam F. Moses

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: