Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

‘Kamseupay’

leave a comment »

Awal tahun 2012 ditandai dengan kembali populernya akronim “kamseupay” di media sosial kita. Kabarnya akronim ini pernah populer pada tahun 1980-an, bersamaan dengan lahirnya bahasa gaul kala itu semacam “doski”, “kawula muda” atau “yoi”—sebelumnya lema “yoi” diucapkan “yoa”, misalnya dapat kita simak dalam percakapan di seri-seri film Catatan Si Boy (Cabo).

Akronim dan kata bahasa gaul remaja Ibu Kota kala itu produktif diintroduksi antara lain melalui corong radio Prambors Jakarta. Kamseupay secara umum dipanjangkan menjadi “kampungan sekali uh payah”, sejumlah variasi tafsir kamseupay lahir seperti “kampungan sekali udik payah”, atau menganggap kamseupay sebagai kata, bukan akronim. Kalangan yang menganggap kamseupay sebagai kata umumnya mengartikannya sebagai “kampungan”.

Baik dimaknai sebagai kata maupun akronim, kamseupay bertitik tolak pada kata “kampungan”. Kampungan sendiri menurut KBBI daring diartikan sebagai ‘berkaitan dengan kebiasaan di kampung, terbelakang (belum modern), juga kolot’; serta dapat juga diartikan sebagai ‘tidak tahu sopan santun, tidak terdidik, atau kurang ajar’.

Sudah tentu makna ini bersifat konotatif dan tidak selalu merepresentasikan karakteristik penduduk yang tinggal di kampung yang sering disinonimkan dengan desa dan dusun. Secara administratif, kampung merupakan satuan wilayah pemerintahan terkecil di bawah kecamatan dengan kata generik desa. Dari empat arti lema “kampung” dalam KBBI, salah satunya diartikan sebagai kelompok rumah yang merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah).

Ketika digunakan sebagai media komunikasi, bahasa bersifat etis. Artinya, selain memiliki makna denotatif, bahasa—dalam hal ini kata—memiliki makna konotatif. Dalam konteks lema “kampung”, konotasi atau nilai rasa kebahasaan yang ada celakanya semua bersifat negatif, meskipun konotasi memungkinkan nilai rasa kebahasaan yang positif.

Makna paling netral dari lema “kampung” bersifat denotatif, yakni kata untuk menyebut satuan administrasi dan wilayah di Tanah Air.

Berbeda dengan antonimnya, makna lema “kota” menurut KBBI justru secara relatif memiliki konotasi positif, misalnya sebagai wilayah yang penduduk di dalamnya bergiat di sektor industri, atau mencerminkan kebudayaan dan pemikiran internasional (kosmopolitan).

Makna konotatif kampung dan kampungan sebagai tidak tahu sopan santun, tidak terdidik, dan kurang ajar sesungguhnya dapat berlaku kepada siapa saja, bahkan lebih banyak diidap oleh orang kota, sebagai antonim orang kampung. Pada prakteknya, pewarisan nilai-nilai, filsafat kehidupan, maupun tradisi justru berlangsung lebih intensif pada orang kampung. Meskipun makna kampung lebih banyak bersifat konotatif-negatif, tampaknya orang kampung lebih banyak bersikap cool. Kalau orang kampung disebut sebagai kampungan, mungkin pikir mereka: dasar kamu kekota-kotaan!

Written by kbplpengkajian

Februari 15, 2012 pada 6:58 am

Ditulis dalam Febrie Hastiyanto

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: