Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Frasa Hitam-Putih

leave a comment »

Frasa hitam-putih dalam kejahatan. Entah alasan apakah istilah kata hitam dan putih digunakan sebagian orang untuk mengungkapkan suatu (kejahatan) tertentu. Frasa yang mungkin akrab frasa kejahatan “kerah putih”, white collar crime, seperti kejahatan pencucian uang, kejahatan profesi, kejahatan komputer dan internet, kejahatan bantuan likuiditas bank, juga kejahatan penjualan pasal.

Pemberdayaan kata putih digunakan juga dalam kejahatan yang ilegal: “kupon putih”, seperti judi togel, buntut, atau nalo. Begitu pula penyebutan benda (bubuk) jahat yang merusak fungsi syaraf dan kesadaran: “bubuk putih”, dengan istilah lain disebut sabu-sabu atau putau.

Tentu saja masih banyak frasa lain yang menggunakan kata putih.

Selain itu, pendayagunaan kata hitam dalam kejahatan seperti “daftar hitam”. Kata daftar hitam dapat diartikan daftar yang berisi nama-nama orang atau lembaga yang dicari dan diawasi untuk kepentingan penegakan hukum. Begitu pula dengan kata “kuda hitam”, istilah ini biasanya dipakai dalam dunia catur, dapat diartikan individu atau kelompok yang selalu diperhitungkan dan diperhatian karena sepak terjangnya.

Keberadaan kuda hitam akan ditempatkan di peringkat teratas dan skala tinggi bagi pesaing utama. Sampai ada ungkapan, “hati-hati dengan langkah si kuda hitam, karena penuh misteri dan sulit ditebak”. “Kambing hitam” dilekatkan untuk orang yang dijadikan tumpuan kesalahan padahal dia tidak salah.

Frasa “pengacara hitam” dialamatkan untuk orang yang membantu seorang pelaku kejahatan untuk lolos dari hukuman, sedangkan lingkungan mereka dinamai “dunia hitam”: lingkungan kehidupan yang bertentangan dengan norma hukum yang berlaku atau kehidupan tentang orang-orang yang melakukan kejahatan dan pelacuran.

Bahkan, keahlian yang dimiliki seseorang tentang kebatinan yang berhubungan dengan pekerjaan setan atau pekerjaan mencelakakan orang (seperti membuat orang gila, mencuri dengan bantuan makhluk halus) disebut “dunia hitam”. Lalu frasa “buku hitam” untuk menyebut nama-nama atau catatan tentang seorang kurang baik.

Kata putih dan hitam didayagunakan dalam kejahatan barangkali salah satu tujuannya eufimisme bahkan bisa jadi untuk basa-basi. Karena sikap itu lahirlah putusan yang hati-hati, tidak pasti, dan pilih kasih juga jual beli. Keputusan itu diklausakan oleh sebagian orang, putusan “bak membelah bambu” dan “tajam ke bawah, tumpul ke atas”.

Written by kbplpengkajian

Januari 26, 2012 pada 5:47 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: