Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

‘Dua Family’

leave a comment »

LEBIH dari sebulan terakhir, mata saya selalu tertuju pada sebuah rumah makan bernama Dua Family. Rumah makan yang kini tumbuh bak jamur di musim hujan itu mengusik rasa penasaran saya, tidak hanya pada menu yang ditawarkan melainkan pula cara penyajiannya.

Dilihat dari namanya, pastilah rumah makan tersebut menyajikan dua jenis masakan, Barat dan Timur. Tapi tidak menutup kemungkinan, jika si pemilik kaya kreativitas, ia menciptakan kuliner baru dengan mengombinasikan kedua masakan tersebut, yang pastinya menggugah selera makan kita. Rasa pedas dan kaya rempah khas Timur, bercampur dengan gurihnya masakan para bule. Pasti lezat, gumam saya.

Suatu siang, bersama si sulung Kaisar, saya sengaja singgah. Dengan perut yang sudah keroncongan, kami mengambil posisi yang tak jauh dari tumpukan makanan yang ternyata telah siap saji. Seorang pelayan menghampiri. Dengan logat Padang yang kental, dia bertanya makanan apa yang kami pesan. Lalu, saya balik bertanya jenis masakan apa saja yang disajikan. Remaja tanggung ini mengatakan masakan yang disajikan tidak berbeda dengan rumah makan Padang lainnya, yaitu rendang, sop daging, lele bakar, ayam goreng pop, gulai ikan, perkedel, terung balado, dan lainnya.

Ups, tak dinyana, rumah makan yang rada nginggris ini adalah rumah makan yang menyajikan masakan khas Padang, Sumatera Barat. Sederet menu yang disajikan tidak ada satu pun yang kebarat-baratan. Cara penyajiannya pun tetap tradisional. Dengan tumpukan piring di lengan kiri, pramusaji meletakan satu per satu piring di atas meja kami plus kobokan.

Saya yang asli orang Indonesia saja terkecoh, dan saya berani menjamin ini juga terjadi pada orang asing yang mungkin saja mampir. Harapan untuk mencicipi kuliner baru menjadi lenyap seketika.

Sepulang dari sana saya berpikir, mengapa pemilik rumah makan tersebut menamai usahanya dengan Dua Family. Tidak percaya dirikah ia dengan kekuatan bahasa Indonesia yang mampu menarik hati para pembeli, khususnya wisatawan asing. Harusnya, ia belajar dari pendahulunya, seperti Begadang, Dua Saudara, Gajeboh, Kamang, Lamun Ombak, dan Mata Air yang tetap laris manis diserbu pembeli yang ingin menyantap masakan Minang yang memiliki keunikan rasa ini. Saya yakin, jika menggunakan nama Dua Keluarga, rumah makan itu tetap saja diminati.

Menurut saya, daripada bergagah-gagah menggunakan bahasa “orang lain”, lebih baik menggunakan kosakata sendiri. Mengingat usaha yang ditekuni mencirikan daerah, kenapa tidak memakai kosakata daerah. Toh tetap saja mampu memikat hati calon pembeli yang sudah terbayang-bayang dengan mantapnya rasa rendang. Wisatawan pasti penasaran dan ingin mengetahui arti bahasa daerah yang tentunya asing bagi mereka.

Sejatinya, kewajiban menggunakan bahasa Indonesia telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Dalam Ayat (2) berbunyi: Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.

Bahasa merupakan jati diri bangsa yang amat penting untuk dipertahankan agar kita tetap dapat menunjukkan keberadaan kita. Jati diri itu sama pentingnya dengan harga diri. Jika tanpa jati diri, berarti kita tidak memiliki harga diri. Wassalam.

Written by kbplpengkajian

Desember 22, 2011 pada 6:24 pm

Ditulis dalam Dian Anggraini

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: