Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Lupa

leave a comment »

Lupa, oleh banyak orang diyakini dapat dijadikan senjata ampuh untuk memaksa orang lain memaklumi segala tindakan salahnya. Bahkan, dalam tata peradilan, orang yang mengidap penyakit lupa dapat terhindar dari jerat hukum. Hal seperti itu, misalnya, diperlihatkan oleh Nunun Nurbaeti Daradjatun dalam kasus suap yang terkait dengan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom. Konon, pengusaha yang dikabarkan menjadi cukong pada kasus itu mengalami kombinasi sakit lupa berat, migrain, dan vertigo. Begitu pula yang dilakukan oleh Nazaruddin, Anas Urbaningrum, dan Andi Malarangeng. Di depan penegak hukum, mereka juga sering mengaku lupa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008:850), lupa memiliki empat makna: (1) lepas dari ingatan; tidak dalam pikiran, (2) tidak teringat, (3) tidak sadar, dan (4) lalai; tidak acuh. Dalam ilmu kedokteran, lupa digolongkan sebagai penyakit penurunan daya ingat. Lupa dalam bahasa kerennya disebut demensia dan pikun dalam bahasa sehari-harinya. Biasanya, kepikunan akan dialami orang yang sudah berusia lanjut (60-an).

Sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan jika akhir-akhir ini para pemimpin negeri ini (terutama yang terjerat kasus/isu korupsi) tiba-tiba mengidap penyakit lupa saat diminta memberi keterangan di pengadilan. Disadari ataupun tidak disadari, penyakit itu telah berendemi di hampir seluruh pelosok negeri dan menjangkiti banyak orang dengan berbagai bentuk perwujudannya, mulai dari yang setengah lupa, pura-pura lupa, hingga lupa beneran.

Mungkin karena sudah merasa tua (66 tahun merdeka), bangsa Indonesia pun sudah mulai pikun. Entah berpura-pura lupa, sengaja melupakan, atau lupa beneran, bangsa ini tidak lagi acuh pada sumpah/kesepakatan yang pernah dibuatnya. Terhadap Pancasila, misalnya, bangsa ini bahkan mulai meninggalkannya. Padahal, menurut Frans Magnis Suseno, Pancasila bukan sekadar etika hidup bangsa, melainkan juga pemecah masalah serius yang timbul pada saat itu: konflik dalam BPUPKI. RI yang akan diproklamasikan waktu itu berdasar semangat nasionalisme atau agama tertentu, mendorong Soekarno mencetuskan Pancasila (Kompas, 13 Oktober 2011). Mengabaikan nilai-nilai Pancasila, kata dia, sama dengan mengantar bangsa ini ke kehidupan chaos, yang kini tengah dialami.

Hal yang sama juga dilakukan terhadap Sumpah Pemuda, terutama butir ketiganya: Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Lihatlah penggunaan bahasa di media luar ruang kita (seperti papan nama, petunjuk, iklan, dan kain rentang), misalnya, hampir seluruhnya didominasi kosakata asing (Inggris). Begitu pun dalam pergaulan sehari-hari, kosakata asing (seperti break, coach, laundry, master of ceremonies (MC), dan make up) digunakan secara membabi buta, untuk menggusur kosakata Indonesia yang telah lama ada (seperti istirahat/rehat, pelatih, binatu/dobi, pembawa acara/pewara, dan (me)rias). Jangan-jangan hal inilah yang memunculkan anekdot bahasa bahwa sekarang ini banyak orang Indonesia yang sakit kelelahan karena sudah tidak bisa beristirahat lagi.

Bagi bangsa Indonesia, Pancasila dan Sumpah Pemuda seharusnya sudah mendarah daging. Di samping sudah menjadi doktrin (ajaran), sebelum ini nilai-nilai yang ada dalam Pancasila dan Sumpah Pemuda juga sudah teramalkan dalam kehidupan sehari-sehari. Meskipun pernah berada di tengah-tengah suatu masa yang dibangun dalam sebuah tatanan yang sangat monolitik, pada akhirnya (1998) bangsa Indonesia toh dapat keluar dan berhasil membangun dirinya sesuai dengan aspirasi masyarakatnya yang pluralistik. Adanya pemahaman dan kesadaran bahwa individu dan kelompok sosial sejatinya hidup dalam berbagai perbedaan (baik perbedaan ideologi, agama, suku bangsa, maupun budaya), sebagaimana yang direngkuh dalam falsafah bhineka tunggal ika. Bangsa Indonesia mampu menempatkan perbedaan budaya dalam kerangka kesetaraan derajat: bukan dalam kategori kelompok mayoritas yang mendominasi kelompok minoritas.

Lalu, mengapa tiba-tiba bangsa Indonesia menjadi bangsa pelupa? Entahlah. Yang pasti, bangsa Indonesia boleh meniru grup band Kuburan: “meskipun lupa syairnya, mereka masih ingat kuncinya.” Artinya, bangsa Indonesia (kalau terpaksa) boleh lupa pada bunyi sila-sila Pancasila dan butir-butir Sumpah Pemuda, tetapi jangan lupa pada substansinya: mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga jika pada 28 Oktober oni lupa akan hari Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia jangan sampai lupa berbahasa Indonesia.

Written by kbplpengkajian

November 1, 2011 pada 11:35 pm

Ditulis dalam Agus Sri Danardana

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: