Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Kecermatan Berbahasa dalam Tataran Terkecil

leave a comment »

Tataran berbahasa—mulai dari tingkatan fonem sampai wacana—tentu tidak terlepas dari kesalahan. Jadi, tidak menutup kemungkinan jika kita membaca sebuah wacana berupa artikel, terdapat satu-dua kekeliruan.

Artikel tersusun dari gagasan-gagasan yang kompleks dan saling terkait, wajarlah jika terdapat sedikit ketidakcermatan, seperti dari segi keefektifan kalimat atau kepaduan paragraf. Namun, bagaimana dengan kesalahan yang cukup mendasar, apakah kita tetap menoleransinya?

Di antara contoh kesalahan kecil itu bahkan terjadi pada tataran fonem—dalam kasus ini bisa dikatakan huruf—satuan bahasa terkecil yang tidak menuntut pemahaman mendalam untuk menentukan mana yang benar.

Sebuah bus besar yang melintas di Jalan Z.A. Pagaralam, Rajabasa, mengagetkanku. Bukan karena ukurannya yang besar atau semua penumpangnya yang berseragam, melainkan sebuah tulisan besar yang terpampang di sisi badan bus, “Pemerintah Propinsi”. Sepintas tiada masalah, tapi coba kita fokuskan pada kata “propinsi” di bus itu. Sesuaikah dengan penulisan yang seharusnya?

Bagi orang yang tidak terlalu mengacuhkan bahasa, tentu ragu untuk menjawabnya, kecuali harus melihat KBBI. Akan tetapi, bagi orang yang setidaknya terbiasa membaca tulisan ilmiah atau surat kabar—yang penulisannya sesuai kaidah bahasa Indonesia—tak sulit menentukan mana yang benar.

Mungkin yang dimaksud adalah “Pemerintah Provinsi”, tapi entah mengapa huruf [v] yang seharusnya digunakan ditulis dengan huruf [p]. Yang jelas, tulisan besar itu cukup “mencolok” mata. Apalagi, itu adalah kendaraan resmi pemerintah, yang selayaknya menggunakan bahasa yang benar.

Kita tentu tidak mempermasalahkan hal semacam ini ketika membaca ungkapan perasaan sopir di bak sebuah truk atau tulisan yang terpampang di angkot-angkot, mengingat konteks—dalam hal ini kendaraannya—menentukan penanggapan kita.

Contoh lain, sebuah spanduk besar iklan layanan masyarakat terpampang besar di tepi jalan dekat sebuah universitas negeri di Lampung. Di kepala iklan tertulis “Himbauan”. Nah, apalagi yang salah?

Seharusnya, bentuk yang benar adalah “imbauan”. Masalah kecil, tapi formalnya imbauan tersebut tentu kontradiktif dengan bahasa yang digunakan. Alangkah lebih baik jika spanduk besar imbauan layanan masyarakat itu menggunakan bahasa yang formal pula.

Contoh serupa juga tampak di salah satu ucapan selamat seorang pejabat Provinsi Lampung di salah satu jalan utama Bandar Lampung. Terpampang besar ucapan “Selamat Idhul Fitri”. Ucapan itu juga merupakan bentuk kekeliruan yang membutuhkan keceramatan dalam penggunaannya. Padahal, dalam rubrik ini sebelumnya dipaparkan bagaimana penulisan yang tepat terhadap bentuk itu, yakni “Idulfitri”.

Contoh-contoh itu merupakan kekeliruan dalam tataran bahasa yang paling kecil, bukan kesalahan gramatikal atau struktur kalimat yang menuntut pamahaman yang lebih dalam menentukannya. Ironisnya, dalam tataran terkecil pun kesalahan kerap terjadi, apalagi dalam ruang lingkup yang lebih luas seperti pada tataran kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, atau wacana.

Kekeliruan-kekeliruan yang telah dipaparkan ini tidak akan terjadi bila instansi yang menulisnya setidaknya meluangkan waktu 5 menit untuk sekadar membuka KBBI, atau setidaknya bertanya kepada ahli bahasa.

Dampak jangka panjangnya, orang yang melihat contoh-contoh itu dikhawatirkan akan mengikuti, mengingat kesalahan-kesalah itu terjadi di tampat yang menjadi pusat perhatian khalayak, dan hal itu berpotensi menimbulkan istilah kesalahan berjamaah.

Pemerintah tengah berusaha menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama di antara bahasa-bahasa negara ASEAN. Namun, bagaimana hal itu dapat terwujud jika pemakainya saja kurang teliti menggunakannya. Oleh sebab itu, biasakanlah untuk cermat dalam berbahasa. Cintailah bahasa kita.

Written by kbplpengkajian

Oktober 22, 2011 pada 4:27 pm

Ditulis dalam Chairil Anwar

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: