Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Penghujung Cintaku

leave a comment »

//Berakhir sudah pencarian cintaku, jiwa ini tak lagi sepi, hati ini tlah ada yang memiliki//tiba diriku di penghujung mencari cinta, diri ini tak lagi sepi, kini aku tak sendiri//

Begitulah sebagian bait lagu yang diciptakan sekaligus dinyanyikan vokalis band Ungu, Pasha, bersama istrinya, Adelia Wilhelmina. Lagu itu memang tidak begitu populer seperti lagu-lagu lain yang dinyanyikan Pasha bersama grup bandnya, seperti Hampa Hatiku, Percaya Padaku, dan Kupinang Kau Dengan Bismillah.

Saya bukan pengamat lagu. Namun, seperti sebagian besar orang, saya juga menyukainya. Tulisan ini tidak membicarakan ketidak-booming-an lagu tersebut. Sebagai orang yang bergelut di bidang bahasa, saya hanya akan menyoroti sebuah kata yang muncul dalam lagu tersebut, yaitu kata “penghujung”.

Kata itu sangat menggelitik saya sehingga ada keinginan untuk membahasnya di kolom koran ini. Barangkali pertanyaan muncul dalam pikiran pembaca semua. Mengapa kata itu dibahas? Begitu pentingkah sampai dijadikan judul dalam tulisan ini?

Mungkin ada dari Anda yang menganggap hal itu sepele dan tidak perlu dijadikan pembicaraan. Namun, bagi saya hal ini penting untuk dibicarakan karena berkaitan dengan kesalahan berbahasa masyarakat, yakni kesalahan dalam penulisan kata. Ya, lagi-lagi kesalahan berbahasa yang sepertinya terus terulang, entah disengaja atau tidak.

Dalam lagu tersebut (pada judul dan pada bait keduanya) tulisan kata “penghujung” adalah salah. Jika kita telaah kembali, kata itu berasal dari kata dasar “hujung” dan diberi awalan “peng-”. Penulisan kata “hujung” jelas tidak tepat.

Kata itu di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 1238 dituliskan dengan kata “ujung”, artinya ‘bagian penghabisan dari suatu benda (yang panjang); (bagian) akhir (pembicaraan, percakapan, tahun, dsb.)’. Jadi, jika kata itu diberi awalan “peng-”, seharusnya menjadi “pengujung”. Jika ada kata “pengujung”, ada kata “pengawal”, bukan “penghawal”, karena berasal dari kata dasar “awal”, artinya ‘mula-mula (awal); permulaan; dan jauh sebelum waktu yang ditentukan’, seperti yang tertera pada KBBI halaman 78.

Contoh lain yang juga sering dituliskan secara salah adalah kata “menghimbau”, “menghisap”, dan “berhutang”. Orang beranggapan kata tersebut berasal dari kata dasar “himbau”, “hisap”, dan “hutang”. Padahal, tulisan yang benar adalah “imbau”, “isap”, dan “utang”.

Lagu atau nyanyian memang disukai semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Lagu tidak hanya memberi hiburan dan kesenangan, tapi bisa menjadi media penyampai pesan. Bahkan, lagu juga bisa menjadi sarana efektif dalam pembinaan bahasa, terutama mengenai penulisan kata yang benar bagi masyarakat.

Alangkah baiknya jika kata-kata yang dimunculkan dalam lagu dituliskan secara benar. Dengan begitu, lagu itu dapat memberi pengetahuan berbahasa yang baik kepada masyarakat.

Akan tetapi, jika kata-kata yang dimunculkan dalam lagu-lagu dituliskan salah, tentu akan memberi informasi yang salah pula bagi masyarakat. Semoga lagu-lagu Indonesia dapat menjadi sarana pembinaan bahasa yang benar bagi masyarakat Indonesia. Salam.

Written by kbplpengkajian

Oktober 5, 2011 pada 3:36 am

Ditulis dalam Kiki Zakiah Nur

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: