Kumpulan Laras Bahasa Lampung Post

kerja sama Kantor Bahasa Provinsi Lampung

‘Kematian’ Penyukat Beras

leave a comment »

Perkembangan ilmu dan teknologi berpengaruh terhadap kehidupan bahasa (Indonesia). Seiring itu, satu sisi bertambah perbendaharaan kosakata, pada sisi yang lain terjadi “kematian” beberapa kosakata. “Kematian” kosakata itu bisa terjadi karena jarang dipakai atau tidak digunakan sama sekali, baik itu dalam lisan atau tulis. Tentu kita akan bersependapat hal itu merupakan salah satu bentuk (ancaman) kepunahan suatu bahasa.

Dalam masyarakat, terutama Melayu dulu, ketika membayar zakat kita kenal penyukat beras, seperti kata cupak, gantang, atau pikul. Dalam perkembangannya, alat penyukat sebagai alat ukur berat itu mulai terlupakan. Menurut KBBI edisi IV, cupak digunakan untuk satuan takaran beras, yaitu seperempat gantang, sedangkan satu gantang sama dengan 3,125 kilogram. Satu pikul sama dengan 62,5 kilogram.

Kini kata cupak, gantang, atau pikul telah tersingkir oleh satuan ukur berat seperti ons, gram, kilogram, atau karung. Lalu, untuk satuan ukuran panjang, kita kenal kata jengkal, depa, atau hasta. Juga tidak jauh beda nasibnya dengan kosakata sebelumnya. Dalam penelusuran KBBI, kata jengkal ialah ukuran sepanjang rentangan antara ujung ibu jari tangan dan ujung jari lain yang direntangkan.

Begitu juga dengan kata depa. Depa adalah satuan ukur yang ukurannya sepanjang kedua belah tangan mendepang dari ujung jari tengah kiri sampai ke ujung jari tengah kanan. Satu depa dapat dikatakan empat hasta atau enam kaki. Juga satuan ukur hasta, satu hasta yaitu satu ukuran sepanjang lengan bawah, sama dengan seperempat depa.

Kini satuan-satuan ukur, seperti milliliter (ml), liter (l), kiloliter (kl), galon (gal.), sentimeter (cm), meter (m), atau kilometer (km), merupakan satuan ukuran muktahir dan konvensional, menggeser dan menggusur satuan ukur lama tersebut. Kendati satuan ukur cupak, gantang, pikul, jengkal, depa, dan hasta masih dipakai dalam transaksi tradisional pada masyarakat perdesaan, tetapi intensitas pemakaiannya sudah sangat jarang. Paling hanya dipakai oleh generasi tua, hal itu pun digunakan dalam ragam lisan.

Generasi sekarang barangkali tidak tahu sama sekali dengan kata-kata itu. Kosakata itu sepertinya dapat dikatakan hilang atau mati dalam dunia generasi sekarang. Apalagi untuk kosakata kati, tahil, nail, atau sukat. Jangankan untuk tahu bentuk dan rupanya, mendengar kosakata itu pun tidak pernah sama sekali.

Selain karena kata-kata arkais itu hanya terpampang dalam kamus-kamus, kita (sekarang ini) hanya dapat jumpai pada kitab-kitab usang. Istilah itu dalam KBBI, satu kati sama dengan bobot 6 ons sedangkan satu tahil sama dengan berat 37,8 gram. Lalu, satu nail sama dengan 16 gantang serta satu sukat sama dengan empat gantang.

Tidak dapat dipungkiri tidak sedikit kosakata itu mulai terlupakan atau malah kini mati. “Kematian” kosakata itu selain disebabkan telah kedaluwarsa dan tidak lagi dapat dijadikan konvensi satuan ukur masa kini, juga disebabkan perubahan zaman dan oleh lahirnya satuan ukur konvensional dan global. Tentu saja matinya kosakata bahasa kita tidak hanya dalam satuan ukur, juga (akan) terjadi dalam hal-hal yang lain. Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap dan bertindak? Apakah dengan diam, tentunya tidak!

Written by kbplpengkajian

Agustus 10, 2011 pada 11:18 am

Ditulis dalam Yuliadi M.R.

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: